Quantcast
Menapak identitas kota bogor
admin On August - 23 - 2010

Kegiatan susur masjid tua yang digulirkan Kampoeng Bogor, pada hari ini, senin (23/8), mulai menapaki kegiatan turun lapangan. Peserta yang terbagi dalam empat kelompok kajian masjid, masing-masing mengunjungi lokasi sasaran. Yaitu kelompok Atthohiriyah yang mengunjungi Masjid Agung Empang Atthohiriyah, kelompok An Nur yang mengunjungi Masjid An Nur Tauhid, kelompok Al Falak yang mengunjungi Masjid Al Falak, dan kelompok Al Mustofa yang mengunjungi Masjid Al Mustofa.

Kelompok Atthohiriyah terlihat mulai mendatangi masjid yang ada di Jl. R Aria Wiranata Empang Bogor pada pukul 14.00 WIB. Mereka yang terdiri dari Nadya, Juna, Jojo dan Elly langsung melakukan observasi pada masjid yang berdiri sejak 1815 ini. Masjid yang berada di sisi barat alun-alun Empang sekilas nampak bercirikan tata ruang yang pernah digulirkan pada jaman Sunan Kalijaga. Dimana ada alun-alun, pusat pemerintahan dan masjid. Apalagi saat dikonfirmasi dengan catatan sejarah, kawasan Empang pernah dijadikan pusat pemerintahan oleh para Bupati Bogor (1754 M).

Sementara itu tak jauh dari lokasi masjid ini, kelompok An Nur yang terdiri dari Taufik, Desma, Fawas, Opang, dan Oni terlihat mendatangi masjid An Nur Tauhid. Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Kramat Empang berlokasi di Jl. Lolongok. Kedatangan mereka disambut Ustad Syarif, sosok yang diserahi tanggung jawab mengurus masjid ini. Setelah melaksanakan sholat Ashar berjamaah, kelompok ini langsung menginventarisir hal-hal menarik yang ada di masjid ini. Terlihat bangunan masjid yang masih mencirikan bangunan masa awal berdiri (1828). Bangunan ini terintegrasi dengan keberadaan makam pendiri yang banyak di-ziarah-i umat, yayasan pendidikan Islam Tauhid dan Madrasah.

Dari hasil wawancara dengan ustadz Syarif, tim ini menemukan kisah pendiri masjid yaitu seorang Habib yang berasal dari Yaman Selatan, dikenal dengan sebutan Waliyullah Al Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas (1351 H). Sebelum Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas wafat diketahui bahwa banyak peziarah yang datang untuk menuntut ilmu (memperdalam agama Islam). Banyaknya orang arab yang berkunjung ke Empang dan menetap, kemudian wilayah ini sering disebut-sebut ‘Kampung Arab’. Suatu wilayah yang dihuni banyak keturunan arab di Kota Bogor.

Di lokasi ini terdapat 7 buah makam pada bangunan yang sama. Makam tersebut adalah makam Alm. Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas (wafat Selasa 29 Zulhijah 1351 H ) dan 4 putranya, seorang putri dan seorang santri dari Habib Abdullah. Saat ini keturunan asli dari Habib Abdullah sudah pada generasi ke-6, mereka masih berdomisili dikawasan tersebut.

Uniknya masjid ini tidak pernah dipakai untuk shalat jum’at. Kabarnya hal ini terjadi karena dulunya berfungsi sebagai mushola dan wilayah masjid ini dulunya tidak cukup menampung jamaah yang banyak. Ada juga yang menyebutkan saat ada adzan di masjid lain yang dekat masih terdengar, sehingga masjid ini tidak mengadakan shalat jumat. Kelompok ini sempat juga mengunjungi rumah pendiri masjid yang saat ini berfungsi sebagai majelis untuk jamaan wanita.

Kelompok lainnya yaitu kelompok Al Falak ternyata menjadi kelompok yang paling sedikit pesertanya, hanya satu orang saja. Walaupun begitu, kelompok yang didampingi oleh Lingga ini tetap bersemangat untuk menapaki identitas masjid Al-fallak yang ada di Pagentongan kelurahan Loji. Masjid ini konon sudah berdiri sejak tahun 1901. Pada perjalanannya, personil kemudian bertambah menjadi empat orang setelah datangnya dua orang pendamping yang dikirim langsung dari Kampoeng Bogor.

Awal penggalian data, tim langsung mendatangi masjid Al-Falak yang ternyata sudah 11 bulan ini sedang direnovasi. Mereka kemudian menemui salah seorang pengurus masjid yang akan menjadi narasumber – Bapak Komaruddin. Pak Komaruddin mengarahkan kami kepada narasumber lainnya yang juga merupakan salah satu keturunan langsung dari pendiri pesantren Al-Fallak. KH. Fallak yaitu Bapak KH. Hasballah, beliau merupakan generasi ke-4 dari keluarga Fallak yang saat ini di usianya ke 72 tahun masih tetap aktif mengajar di lembaga pendidikan Al-Falak. Sebelum sempat berbincang, adzan ashar berkumandang dan segera tim pun bergagas mengambil air wudhu dan melakukan shalat berjamaah.

Selesai shalat, perbincangan dilanjutkan di kediaman KH.Hasballah yang berada tepat di sebelah asrama pesantren. Berbagai cerita mengenai tokoh pendiri pesantren, sejarah perkembangan, sampai dengan kultur yang masih tetap dijaga oleh masyarakat sekitar, dituturkan langsung oleh beliau, tidak hanya itu, belaiu pun dengan senang hati mau memberikan dokumen profil pesantren yang sudah sejak lama disusun bersama anaknya.

Perkembangan pesantren Al-Falak di kawasan pagentongan ini sedikit banyak mempengaruhi perkembangan kultur masyarakat di sekitarnya, hal ini terlihat dari perayaan-perayaan hari besar islam yang masih dilakukan oleh masyarakat dan telah menjadi agenda tahunan yang mampu mendatangkan tamu dari berbagai daerah.

Kelompok Mustofa pada yang mendatangi Masjid Al Mustofa di kelurahan Bantarjati tak kalah serunya. Kelompok sebanyak 4 orang ini langsung disambut pak Mukti, selaku pengurus masjid. Tanpa basa-basi tim langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Pak Mukti pun tak sungkan membagi pengetahuannya tentang sejarah masjid yang didirikan oleh gabungan ulama Banten dan Cirebon. Diceritakan oleh beliau bahwa masjid ini didirikan oleh Tubagus Mustofa Bakri bersama 3 ulama lainnya pada tahun tertulis 1307 M. Data ini konon tercatat di salah satu bangunan masjid yang sayangnya sudah tidak ada lagi. Tim juga ditunjukkan pada keberadaan Al Qur’an tulis tangan yang ditulis oleh anak keturunan Tubagus Mustofa Bakri.

Saat disinggung keberadaan para pendirinya, pak Mukti kemudian mengajak tim ini ke arah makam para pendiri masjid dan anak keturunannya. Kompleks makam tua ini letaknya sekitar 200 meter dari masjid. Untuk mencapai lokasi tim harus menyeberang kali Cibagolo dan menembus kebon bambu.

Aksi turun lapangan pada hari pertama ini direncanakan akan terus didalami oleh masing-masing kelompok. Banyak cerita sejarah masjid dan lingkungan yang mempengaruhinya yang belum tergali. Rasa penasaran yang membuncah sepertinya menjadi spirit para peserta untuk terus menelusuri jejak masjid tua kota Bogor. Menapak Identitas Jejak Masjid Tua Kota Bogor pun akan berlanjut.

Categories: Jejak Masjid

Leave a Reply


Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?

Follow @kampoengbogor on Twitter

Featured video

Sponsors