Memasuki hari kedua, tim Jejak Masjid Tua kota Bogor kembali menyambangi para narasumber. Kali ini mereka memiliki agenda lebih jelas dan terencana. Semua kelompok dari hasil temuan-temuan di hari pertama, merumuskan target interview dan penggalian lebih dalam. Sedikit banyak mereka memiliki beberapa isu pilihan, terkait sejarah objek (masjid), ketokohan, lingkungan dan masyarakat.
Kelompok Atthohiriah misalnya, sejak pukul 13.00 WIB kelompok ini sudah berkumpul ke BTM. Hebatnya hari itu anggota tim semakin lengkap dibandingkan hari pertama. Saat ini pasukan yang hadir adalah Juna, Elly, Rafael, Jojo, Tanti, Nadia dan Chandra. Target mereka adalah bertemu ketua DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Pak Wawan dan RT setempat. Dari hasil interview mereka mendapati ternyata Pak RT baru menempati kawasan pada tahun 80-an, jadi tidak bisa bicara banyak tentang daerah sekitar masjid At Thohiriyah. Kemudian tim dibagi tim Thohiriyah dibagi menjadi 2, mereka menyebar ke segala arah. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Bapak Abdurahman (84), sosok keturunan arab yang mengaku sebagai penghuni terlama di Empang.
Dari pak Wawan tim mendapatkan temuan bahwa masjid ini awalnya dibangun oleh kakek dari Raden Muhammad Thohir yang pada saat itu menjabat sebagai Demang (Bupati, red). Setelah meninggal posisi Demang digantikan oleh Syaikh Sholawat Dalem. Posisi di Kademangan diberikan kepada keluarga Syaikh Thohir oleh Belanda. Kademangan ini merupakan pusat pemerintahan di daerah Empang yang dulunya disebut Sukahati. Beliau juga menuturkan soal kohkol, bedug dan pengurus mesjid At-Thohiriyyah yang merupakan keturunan dari para Raden yang telah meninggal. Baik DKM, pemukul bedug, pemukul kohkol, sampai marbot masih keluarga Raden Muhammad Thohir.
Sementara itu kelompok An Nur mulai bergerak menuju lokasi sejak pukul 14.00. Tim sebanyak 4 orang ditambah 2 pendamping ini bergerak menyusur empang menjemput target, baik gambar maupun narasumber. Kali ini mereka berhasil menemui Habib Agil Bin Achmad Bin Abdullah Bin Syarif Bin Ahmad Bin Al Atas (85 th). Dari beliau tim beroleh cerita awalnya tempat ini kecil dan berfungsi sebagai mushola. Kemudian secara bertahap bangunannya diperbesar (renovasi) . Pemanfaatan masjid ini menilik pesan dari Habib Abdullah, tidak dilaksanakan shalat jum’at karena masih terdengar suara adzan dari masjid lain. Termasuk adanya sebuah tradisi setiap malam ke 21 Ramadhan dilaksanakan shalat Tarawih massal, banyak jemaah yang beribadah kesini dan datang dari jauh.
Sukses mewawancarai Habib Agil, tim kemudian bergerak mencari narasumber lainnya. Hasilnya mereka bertemu dengan bapak Oos Masyur, ketua RW 012 yang tinggal di Empang sejak 1977. Dari pengetahuan beliau tim memperoleh catatan menarik. Menurut Oos Masjid At Tohiriyah lebih tua dari pada Masjid An Nur yang lokasinya berdekatan. Kira-kira 200 tahun yang lalu Masjid At Tohiriyah berdiri, saat ini masjid tersebut telah menjadi cagar budaya kota Bogor dan sudah mengalami beberapa kali renovasi. Meskipun berdekatan tetapi kehadiran masjid An Nur tidak terlalu berpengaruh bagi masyarakat sekitar. Memang ada beberapa perbedaan antara 2 masjid ini, seperti banyaknya peziarah yang datang dari luar untuk berziarah ke makam Habib Abdullah yang sejak dahulu dikenal sebagai ‘Tawasul’ atau perantara dengan Tuhan. Habib ini datang dari Yaman Selatan dan menyebarkan agama Islam sambil berdagang.
Pada hari kedua ini, kelompok Al Falak yang lokasi kajiannya ada di Pagentongan tak kalah menariknya. 8 orang anggota kelompok menyambangi kawasan Pagentongan, mereka terdiri dari 6 anggota kelompok dan 2 pendamping. Mereka bertemu Pak Oyok yang merupakan keturunan K.H Falak di depan makam dan rumah Abah Falak. Dari pak Oyok, informasi yang didapat adalah keberadaan bangunan yang ada di sekitar masjid termasuk makam. Temuan tim Jejak masjid tua mendapati bahwa pada jarak 100 meter sebelum masjid, tampak bangunan-bangunan yang sepintas seperti dibangun pada awal abad 20. Bangunan ini tampaknya sudah mulai kehilangan orisinalitasnya, terlihat dari bentuk kaca dan kusen yang di cat baru. Bangunan tersebut merupakan kediaman KH. Falak pada masa kepemimpinannya sebagai ulama di Pondok Pesantren Al-Falak. Terdapat tiga bangunan terpisah sebagaimana penuturan salah satu keturunannya. Pertama ada ditengah, saat ini difungsikan sebagai penginapan untuk para Tamu yang berkunjung ke Al-Falak. Kedua terletak di sisi kanannya, saat ini difungsikan sebagai Majlis Ta’lim. Ketiga yang terletak di belakang bangunan utama, merupakan ruangan ziarah untuk para tamu yang berniat untuk berziarah ke makam Abah Falak.
Sementara itu kelompok Al Mustofa yang meluncur ke lokasi pada pukul 16.17 mendapati pak Mukti (narasumber) seperti hari sebelumnya. Bedanya untuk kedatangan kali ini tim didampingi lengkap oleh dua pendampingnya, Lutfi dan Aryo. Yeni, Rizky dan Darmawan adalah anggota kelompok yang hadir pada hari itu. Sedangkan pak Bonar menurut informasi yang didapat saat itu berhalangan hadir. Andri sendiri mengkonfirmasi akan mendatangi masjid pas malam nanti untuk mengejar moment interaksi masjid dengan warga sekitar.
Dari pak Mukti tim mendapat temuan tentang keberadaan makam pendiri masjid, adanya mata air dan cerita tentang air untuk wudhu dari sumber mata air.
Sampai disini masing-masing tim menyusun kembali strategi inventarisasi data yang akan diperoleh. Dan penelururan jejak masjid ini belum berakhir.





