Memasuki penelusuran di hari ketiga, tim telusur masjid kian menemukan banyak hal menarik dimasing-masing lokasi. Jadwal turun lapangan pun akhirnya tidak sebatas pada aktivitas bareng-bareng saja. Beberapa kelompok bahkan melakukannya diluar jadwal yang telah ditentukan. Misalnya melakukan interview malam hari dengan Habib maupun ‘nyari’ gambar saat subuh.
Kelompok An Nur yang menuju ke Masjid Noer Alatas (nama Masjid Keramat Empang setelah diverifikasi) pada hari ketiga ini kembali menyusuri kawasan sekitar masjid. Mereka mencoba mencari tahu pandangan masyarakat sekitar terhadap Masjid Noer Alatas. Kali ini mereka menuju ke rumah ketua RT 04 Bapak Ali Idris. Dari beliau mereka mendapatkan cerita bahwa kawasan RT 04, tempat keberadaan masjid ini, rata-rata keluarga keturunan Habib Abdullah. Namun bagi warga Empang keturunan, tidak semuanya ‘pro ’ dengan Masjid ini. Hal ini terkait adab dan mazhab tertentu. Dari rumah ketua RT tim selanjutnya menyisir dan mencari pendapat atau keterangan warga Empang lainnya. Tepat sebelum buka puasa tim ini sudah selesai melakukan penyisiran.
Tak jauh dari lokasi An Nur, kelompok Atthohiriah juga melakukan hal yang sama. Mereka menemui Bapak Abdurrahman Askar, seorang veteran perang kemerdekaan. Dari beliau tim ini mendapatkan info massjid ini sebenarnya bernama Mesjid Agung Empang. Dibangun pertama kali oleh Raden H. Hasbullah yaitu kakek dari Raden Muhammad Thohir. Karena perubahan inilah menurut beliau yang mengubah nama Mesjid Agung Empang menjadi Mesjid At-Thohiriyyah. Waktu beliau menjabat sebagai kepala Rukun Keluarga, jamaah di mesjid ini datangnya dari jauh. Ada yang dari Bondongan sampai Ciwaringin. Lalu kadang-kadang ada juga orang asing yang numpang sholat disini.
Sementara itu kelompok Al Falak pada hari ketiga ini tidak melakukan observasi lapangan. Mereka pada hari ketiga melakukan diskusi tim di KALAM. Hasilnya mereka merumuskan data yang perlu dilengkapi serta menentukan media yang akan mereka keluarkan nanti. Hasilnya setelah diketahui kebutuhan yang kurang, tim ini memutuskan untuk kembali turun lapangan pada keesokan harinya.
Tak berbeda dengan tim lainnya, kelompok Al Mustofa juga tetap turun lapangan. Kali ini mereka juga hanya melengkapi data-data yang kurang saja, terkait pendapat masyarakat sekitar. Tersiar kabar duka dari tim ini, Pak Bonar telah kehilangan ibunda tercintanya. Jadinya beliau tidak bisa ikut mendampingi tim. Berhubung data-data banyak diolah dan dipegang oleh beliau, maka tim ini pun belum bisa banyak update informasi yang mereka dapat.
Hampir semua tim kecuali kelompok Al Falak, mengagendakan pertemuan untuk diskusi data-data yang mereka peroleh. Termasuk membicarakan materi media yang akan mereka keluarkan saat pameran nanti.





