Adakah kawan-kawan yang hari ini merayakan Cap Go Meh, atau turut menikmati perayaannya?
Hari kamis (17/2) lalu Vihara Dhanagun terlihat sangat sibuk untuk mempersiapkan Cap Go Meh. Cap Go Meh tahun ini memang tidak akan seramai perayaannya seperti tahun-tahun sebelumnya, namun perhelatan ini sama sekali tidak kehilangan makna, baik bagi warga Tionghoa yang melaksanakan ritualnya, dan bagi warga lainnya yang turut menikmati.
Cap Go Meh sendiri memiliki makna “Malam ke 15” atau “Malam tanggal 15” (Cap Gou: 15; Meh: malam). Penyebutan ini dikarenakan Cap Go Meh jatuh pada tanggal 15 bulan pertama dalam kalender Lunar (kalender Tiongjoa).
‘Goan Siau’… adalah nama resmi dari Cap Go Meh. Goan Siau yang bermakna ‘bulan purnama di bulan pertama imlek’, menjadikan sebagian besar orang juga menyebutnya sebagai “Festival Bulan Purnama”. Selain itu, Goan Siau juga merupakan pesta lampion rakyat yang berasal dari masa Dinasti Han (206SM-220M). Pada malam Cap Go Meh, rakyat Tionghoa memiliki kebiasaan memasang lampion berwarna-warni. Hal ini menyebabkan festival ini juga memiliki julukan “Lampionen Feest”.
Perayaan Cap Go Meh berbeda dengan perayaan Tahun Baru Imlek yang biasanya merupakan ajang pertemuan bagi seluruh keluarga dan handai taulan. Tahun Baru Imlek merupakan family affair yang dirayakan di lingkungan keuarga saja, sedangkan Cap Go Meh merupakan public affair yang berpusat di klenteng dan dirayakan secara meriah di jalan raya dengan berbagai atraksi dan hiburan. Perayaan jalanan seperti: karnaval, pesta kembang api, permainan liong-tarian naga, ondel-ondel, gambang keromo, cokek, sam sie, baronsay, dan lain sebagainya selalu memeriahkan Festival Cap Go Meh yang terselenggara 15 hari setelah tahun baru Imlek. Cap Go Meh juga merupakan penutup dari seluruh rangkain perayaan tahun baru Imlek yang berlangsung selama dua minggu.
Tradisinya di Bogor
Pada awalnya, di Bogor, Cap Go Meh dirayakan pada tanggal 16 (Caplak), seperti yang dilaksanakan di Tanah Abang, Paal Merah, dan Jatinegara. Setelah mengalami jeda selama kurun waktu tiga hari, perayaan pun dilanjutkan di Cianjur pada tanggal 19 (Capkau) dan berakhir di Sukabumi pada tanggal 21 (Jih’it). Hal ini memang sengaja diatur, dengan maksud agar siapa saja yang berminat mengikuti acara ini, dapat terus menghadiri, menyaksikan, dan turut meramaiakn berbagai perayaan Cap Go Meh yang berlangsung di berbagai kota di Jawa Barat.
Di Bogor, seperti halnya di Ibukota, Cap Go Meh telah menjadi pesta rakyat dan ajang bertemunya berbagai kelompok etnis yang ada di Bogor, sebelum akhirnya dilarang pada akhir tahun 1950-an. Setelah hilang selama orde baru, perayaan ini dihidupkan lagi seiring dengan lahirnya reformasi. Meski perayaan ini kembali diselenggarakan dengan ruh yang sama, namun praktek acaranya tidak akan pernah sama seperti bertahun-tahun lalu. Beberapa acara terpaksa dihilangkan dan ditiadakan karena tidak ada pewarisnya, seperti: Wayang potehi, dan Cngge yang kini makin tidak memperoleh tempat di mata generasi muda.
Ho Tek Bio (Vihara Dhanagun) yang telah berdiri sejak 388 tahun lalu selalu menjadi pusat kegiatan acara ini dari masa ke masa.. Menurut penuturan salahsatu sesepuh, rute parjalanan yang ditempuh oleh Joli para Dewa Dewi jaman dahulu melintasi Istana Bogor, bahkan pernah masuk kedalam Istana Bogor atas permintaan Presiden RI pertama, Bung Karno. Hingga saat ini festival Cap Go Meh di Bogor masih mempertahankan keunikannya dengan pelaksanaan kegiatan pada malam hari yang juga membedakannya dengan acara Cap Go Meh di wilayah lainnya yang selalu diselenggarakan siang hari.
Sebelum Festival, para pengurus Klenteng dan Pemuka kepercayaan akan melakukan perjalanan ritual (ritual tour) menuju beberapa Klenteng bersejarah di Bogor tepat pada malam Cap Gwee dan malam Cap Go Meh. Pada saat streetfest diselenggarakan, arak-arakan bergerak dari Ho Tek Bio menuju Klenteng Pankoh di Belong serta Klenteng Kwan Im yang terletak di Jalan SIliwangi yang merupakan klenteng-klenteng karuhun masyarakat Tionghoa Bogor.
Beberapa tahun belakangan ini, Perayaan Cap Go Meh di Bogor mengusung tema-tema kebersamaan, persatuan, dan keragaman, dengan melibatkan unsur-unsur kebudayaan lain di luar buadaya Tionghoa untuk berpartisipasi dalam kegiatan Cap Go Meh.






Wuih… keren
Mudah2an aja dengan adanya perayaan Cap Go Meh ini, cerita ngeri spt di Cikeusik tdk terjadi di Bogor. Apakah demikian kira2 harapannya yaa?
Sepakat sama Moes Jum..! Jadikan Bogor tetap aman dari konflik2 SARA