Quantcast
Menapak identitas kota bogor
anggit On February - 27 - 2011

Memasuki bulan maulud dalam penanggalan Islam, beberapa daerah termasuk di Bogor memperingati perayaan Maulid. Tepatnya pada, 15 Februari 2011 lalu warga di beberapa tempat dan daerah menggelar puncak peringatan ini. Maulid Nabi diperingati untuk menandai hari yang diyakini sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Kata Maulid sendiri atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir.

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Peringatan maulid Nabi Muhammad saw yang diadakan setiap tahunnya pada bulan Rabiul Awal pertama kali diperkirakan pertama kali diperkenalkan pada zaman dinasti Fatimiyah pada abad 10 masehi.

Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin, yang pada saat itu sedang terlibat dalam peperangan. Selanjutnya peringatan maulid Nabi Muhammad saw menjadi sebuah upacara yang kerap dilakukan umat Islam di berbagai belahan dunia

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan dan pengajian yang ditujukan untuk memuliakan, mengungkapkan kecintaan terhadap Rasulullah SAW, serta menumbuhkan ghirah (semangat) dalam beribadah yang di peroleh dari acara peringatan maulid Nabi tersebut. Sebagian masyarakat merayakan Maulid Nabi dengan pembacaan shalawat Nabi, membaca syair Barzanji dan Diba’i (karya tulis seni sastra yang isinya bertutur tentang kehidupan Muhammad, silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul, sifat-sifat mulia, dan berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia) atau Al-Burdah (kumpulan syair-syair pujian kepada Rasulullah SAW)

Di Indonesia, masyarakat di setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk merayakan kelahiran manusia agung tersebut. Beberapa wilayah yang memiliki tradisi penyelenggaraan Maulid Nabi antara lain Di Banten, Cirebon, (ziarah ke makam Sunan Gunung Jati, dan upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan); Yogyakarta, dan Surakarta mengenal perayaan Maulid dengan istilah Sekaten (Istilah ini berasal dari kata syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat) yang diakhiri dengan Gerebeg Mulud sebagai puncak acara sekaten.

Di Kota Bogor Sendiri Perayaan Maulid Nabi secara rutin diselenggarakan di beberapa wilayah, terutama di tiga Masjid Tua Kota Bogor. Masjid An Nur Al Atas, Empang akan menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi pada tanggal 1 Maret mendatang yang bertepatan dengan akhir bulan Rabiul Awal. Masjid Al Mustofa, Bantarjati Kaum menyelenggarakan Maulid Nabi (15 Februari 2011) dengan melakukan Sholawat di Masjid dan pembagian ‘berkat’.  Uniknya disaat kaum pria melakukan Sholawat, sebagian besar Perempuan di kampung itu menyediakan makanan bungkusan untuk dibagikan pada peserta sholawat dan warga lainnya. Saat itu sepanjang jalan di samping Masjid Al Mustofa dipenuhi makanan sumbangan dari warga. Ada sekitar 1000 orang lebih warga yang memadati Masjid Al Mustofa. Mereka datang untuk berebut mendapatkan “berkat” di Puncak Perayaan Maulid Nabi Masjid Al Mustofa itu.

Di Masjid Al-Falak, Pagentongan, acara Maulid Nabi biasanya diselenggarakan dengan memanjatkan doa Maulid Nabi dan ceramah-ceramah yang juga menghadirkan penceramah dari luar pesantren. Uniknya, pada siang hari, masyarakat yang di lima buah Rukun Tetangga (RT) ini berkeliling sambil menggotong Ambeng yang berisi makanan yang akan dibagikan kepada tamu-tamu dan wrga yang hadir. Pada tahun ini perayaan Maulid di wilayah Pagentongan dilaksanakan hari Minggu tanggal 27 Februari 2011. Diperkirakan lebih dari 1500 warga dan tamu undangan datang dan terlibat.

Categories: Catatan, Featured Post

Leave a Reply


Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 + 8?

Follow @kampoengbogor on Twitter

Featured video

Sponsors