Ayahku seorang peneliti botani, munculnya gagasan tentang inisiasi sebuah pusat penelitian botani di Timur Jauh membuat beliau tertarik untuk datang kesini. Masa-masa dimana raja-raja Eropa dan Britania saling berlomba mengoleksi pengetahuan sebanyak-banyaknya. Kesempatan Ayah lebih besar ketika Kerajaan Inggris sempat menguasai negeri ini. Beberapa perubahan dilakukan pada era Sir Raffles dalam membangun sebuah negeri jajahan. Inisiasi mereka akhirnya berhasil. Pusat penelitian itu akhirnya berhasil dibangun pada tahun 1817 melalui prakarsa Karl Reinwardt seorang Jerman yang awalnya malah berkecimpung didunia kedokteran. Tempat itu diberi nama s’Lands Plantentuinte Buitenzorg. Semua ilmuwan botani dunia bahkan baru mendapatkan pengakuan jika telah berkunjung kesana. Mereka benar-benar serius membangun dan mengumpulkan contoh-contoh tanaman dari berbagai belahan dunia untuk diteliti disini. Ayahku tak pernah keberatan menjelaskan apa-apa dari yang kutanyakan. Walaupun aku kadang tidak hafal dan mengerti banyak dari apa yang dia jelaskan. Saat kecil aku senang sekali mengikuti ayahku bekerja. Bekerja dengan alat-alat seperti itu dan tumbuhan-tumbuhan yang tak pernah ku hafal satu pun namanya.
Ayahku orang yang cukup sulit, pikirannya sangatlah tidak sederhana berbanding terbalik dengan ibu. Kolonialisme menjadi hal yang tidak pernah mudah untuk siapa pun, termasuk ayahku walaupun Ayah termasuk orang-orang kepercayaan pemerintahan kolonial. Nyatanya dia memang tidak pernah setuju. Ilmu pengetahuan memang hal yang terpisah dengan politik dan penguasaan. Tapi entahlah, pilihannya menjadi lebih sulit. Ketidakmampuan menerima kenyataan dan kondisi yang terjadi membuatnya melakukan hal yang tidak pernah dimengerti, bahkan oleh ibu dan aku. Pilihan yang akhirnya harus meninggalkan kami. Tahun-tahun yang sulit pada awalnya buat kami menerimanya pergi. Tapi saat ini mungkin bukan hanya untuk kami, ditengah masa-masa kolonial seperti ini mungkin akan terasa sulit juga bagi siapapun. Tapi kami bersyukur memilih dan dapat bertahan di sebuah negeri jajahan yang terlanjur aku sayangi. Negeri yang belum sempat memilih dan harus menerima peralihan dari satu penguasaan ke penguasaan lain. Kongsi dagang Belanda itu memang berhasil, mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya di Hindia-Belanda. Keberhasilan yang membuat VOC semakin membesar itu malah sepertinya bersaing dengan Kerajaan Belanda. Tidak mau membiarkannya berlarut-larut, maka tahun 1796 VOC diambil oleh Kerajaan Belanda.
Negeri ini nyatanya beberapa kali menyelamatkan muka pemerintahan kolonial Belanda ketika mampu mendongkrak perekonomiannya dari hasil bumi yang ada disini. Kompensasinya tentu tidaklah murah dan mudah bagi para pribumi. Bahkan pada 1820 Pemerintah Hindia-Belanda hampir saja bangkrut. Lalu ketika Deandels mengalami kekosongan kas negara dan hubungan luar negeri kacau balau akibat peperangan Inggris dan Perancis, hasil kopi di bagian Barat Jawa dapat menyelamatkannya. Tapi sekali lagi hal ini benar-benar membutuhkan kompensasi yang sangat mahal bagi para pribumi. Diberlakukannya tanam paksa dan kerja paksa adalah luka yang benar-benar menyakitkan. Ribuan nyawa harus hilang akannya, termasuk ketika Deandels juga yang memprakarsai pembangunan Jalan Raya Post pada 1808 yang menghubungkan Anyer sampai Panarukan. Dan para pribumi tak dapat berbuat banyak selain menerimanya. Hanya memendam menjadi luka atau mungkin menjadi dendam yang berharap terbalaskan. Karena aku sendiri yakin, perlawanan lambat laun nanti akan terjadi.
(bersambung)
selanjutnya: “Surat Usang dari Buitenzorg – Wajah-wajah Tanpa Batas”





