Aku masih menulis surat-surat itu. Disekitarku adalah angin, hujan, kabut dan kadang sedikit terik. Aku selalu terpana di pagi, siang, dan di sorenya. Kota ini kemudian kembali terjaga oleh aktifitas orang-orang yang tinggal di dalamnya. Aku saat itu bersama ibu dan 2 pribumi yang ayah pekerjakan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan rumah. Kami hendak memasuki pasar untuk membeli beberapa kebutuhan. Pasar dan wilayah sekitarnya yang dari tahun ke tahun sepertinya semakin ramai dan perlahan menjadi pusat perniagaan di Buitenzorg. Pada tahun 1777 saja, penghasilan Gubernur Jenderal dari sewa pasar ini mencapai 8.000 ringgit dari 14.000 total penghasilannya. Jelas merupakan asset yang penting bagi sebuah kota. Aku diam sejenak sambil menatap lurus sebuah jalan menuju arah Selatan. Sebuah kawasan dengan jalan lurus membentang bernama Handlestraat Weg, dengan toko-toko para Thionghoa yang terdapat di kanan dan kiri jalan. Daerah ini menjadi pusat para Thionghoa dimana aktifitas utamanya adalah perniagaan. Entah sejak kapan tepatnya mereka hadir disini, tapi aku yakin kegiatan perniagaanlah yang menjadi dorongan terbesar kedatangannya. Aku pernah dengar beberapa dari mereka juga mendalami bidang pendidikan, terlibat juga dalam penyebaran agama, atau juga mungkin hal yang lainnya. Tapi jelas mereka pintar benar memanfaatkan berbagai kondisi. Didorong pengalaman yang keras ditengah tekanan, trauma, dan ancaman, tapi malah membuatnya semakin bertahan, semakin kuat dan besar. Bahkan setelah dilakukannya penggeledahan lebih dari 5.000 orang yang tinggal di Batavia pada 1740, mereka tetap coba bertahan. Walau meninggalkan trauma, tapi secara perlahan bagi mereka hal itu haruslah berlalu.
Ketika arus perpindahan kegiatan dari Batavia menuju Buitenzorg yang membuat tempat ini mulai dipenuhi berbagai aktifitas, para Tionghoa hadir sebagai para penyedia kebutuhan. Semakin banyak orang, jelas semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi disini. Tentu bukan hanya mereka yang melakukan hal itu, para pribumi dan kemudian para Arab pun melakukannya disini. Mereka juga membawa serta budayanya masing-masing, yang kemudian membaur dengan budaya yang sudah ada sebelumnya. Diluar aktifitas berniaga, setiap tahunnya para Tionghoa menyelenggarakan sebuah festival dalam merayakan kehadiran tahun barunya, juga pada hari ke-15 setelahnya. Mereka tampak khusuk dan suka cita dalam sebuah perayaan yang perlahan mengundang bangsa lain juga larut di dalamnya. Lalu menjadi pembauran yang harmonis pikirku. Perayaan yang bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tapi juga sebuah tradisi budaya dengan segala atraksi disertai atribut yang menjelma menjadi pesta rakyat. Ditengah kondisi yang terjadi di Buitenzorg dalam hal yang baik ataupun buruknya, perayaan seperti ini kadang memang bisa membuat kita semua sejenak lupa akan siapa diri kita sebenarnya. Menjadi sekedar letupan semangat kecil sebuah tradisi, ditengah fenomena berkembangnya bumi jajahan. Ya memang, setiap orang memiliki cara dalam memaknai sebuah hiburan dan kebersamaan, hal yang memang sangat jarang didapat bagi para etnis golongan kedua dimasa-masa seperti ini.
Mengamati aktifitas orang-orang dalam keseharian terasa tak pernah kurasa membosankan. Kedatangan bangsa Eropa, Thionghoa, dan Timur Tengah membuat kota ini semakin berwarna. Tentu saja dengan para pribumi yang juga datang dari berbagai wilayah untuk mendekati pusat kota. Gubernur Jenderal sendiri sudah banyak waktu di Buitenzorg daripada Batavia. Kegiatan dan segala aktifitas bak pusaran air yang sangat kuat dan mengundang pergerakkan banyak orang untuk singgah kemudian tinggal. Perpindahan kegiatan juga dilakukan pemerintahan lokal yang memindahkan pusat pemerintahan dari Kampung Baru menuju Sukahati atau yang kemudian lebih sering disebut Empang. Menetaplah para Raden dengan menjadikan alun-alun sebagai pusat kegiatan. Sebuah masjid yang menjadi pusat ibadah para pribumi kemudian didirikan pada tahun 1817 melengkapi hadirnya sebuah pemerintahan. Beberapa pedagang pun akhirnya mulai berdatangan mengitari alun-alun. Setiap harinya menjadi ramai. Setiap sorenya bahkan menjadi semakin hangat, diwarnai oleh aktifitas para pribumi. Suasana yang selalu kuanggap menyenangkan. Betapa tidak, Buitenzorg menghadirkan berbagai macam wajah yang silih berganti dibenakku. Dari ramah yang ku dapat sampai hal-hal yang kurang menyenangkan buatku. Dari mereka-mereka yang tulus ataupun mungkin hanya berpura-pura. Aku jadi ingat betul betapa sering kupulang dalam keadaan menangis, berlari terburu-buru memasuki kamar dan mengingat betapa buruknya perlakuan-perlakuan itu. Tapi siapa sangka, ternyata hari-hari kemudian aku malah bercanda dan tertawa bersama mereka.
Salah satunya membuatku masih gugup sampai kini. Aku tersipu walau hanya sekedar menyebut namanya. Mengenang wajahnya hanya akan membuatku semakin gelisah. Ah, perasaan hati yang kadang kuanggap keterlaluan. Aku mengenal namanya baru kemarin saja, walau telah cukup lama mencuri pandang terhadapnya pada setiap kali kesempatan. Dia seorang pribumi yang baik seperti kebanyakan pribumi lain yang kukenal. Dia yang kadang terlalu sungkan, juga pemalu dan aku pun begitu. Aku tak berani berharap banyak hal, tapi untuk hal ini aku punya lebih dari sekedar keinginan untuk kuwujudkan. Rode Brug atau yang pribumi sebut Jembatan Merah menjadi tempat awal semua itu. Jembatan penting penghubung jalur Buitenzorg menuju Banten. Atau jembatan penting penghubung dua hati yang saling merindu kini. Kesempatan awal hadir tanpa aku bisa membayangkan sebelumnya. Menghabiskan senja diantara kita tanpa banyak bicara. Tapi kita berdua sadar bahwa kita ternyata telah menjadi dekat, bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Hingga walaupun butuh, kata-kata mungkin tidak mampu banyak diharapkan hadir saat itu. Hanya semilir angin senja, sayup-sayup obrolan orang-orang dan canda lainnya, perlahan mengantar kita dalam sebuah genggaman.
Kesadaranku kemudian terjaga oleh seorang nyonya saat dia tengah menawar satu sisir pisang yang kelihatannya belum terlalu matang tapi cukup besar dan rapat. Nyonya yang cerewet sekali, dengan si pedagang yang sepertinya tampak belum terlalu siap. Dia baru saja menata dagangannya setelah istirahat sejenak dari kedatangannya di pasar itu. Disebelahnya berjejer pedagang lain dengan menyediakan aneka buah dan sayuran yang tampak masih begitu segar. Mereka berdatangan dari berbagai tempat setahuku. Wilayah yang subur ini nyata-nyata memang menghasilkan berbagai macam tanaman dengan baik. Oh ya, memang ini yang membuat bangsa Eropa atau para penjajah berdatangan di negeri ini. Mengeruk hasil bumi dengan segala upayanya masing-masing. Dari mulai menghasut raja-raja, memecah belah, menganiaya, bahkan sampai mendatangkan para tentara-tentara bayaran untuk menjamin berjalannya sebuah penguasaan. Tentara-tentara itu tentu bukan semuanya berasal dari Belanda. Sebuah undang-undang Belanda sama sekali tidak memperbolehkan para wajib militer negeri itu untuk ditempatkan di wilayah jajahan. Militer Belanda yang berada disini adalah mereka yang melanggar aturan di negaranya dan kemudian memilih menjadi tentara Hindia Belanda sebagai bentuk hukuman. Sisanya berasal dari Jerman, Inggris, Perancis, Belgia, dan Swiss yang dibayar dengan gaji yang baik, serta orang-orang India dan juga Pribumi dengan bayaran terendah bahkan tidak mendapatkan fasilitas alas kaki. KNIL itu dibentuk pada tahun 1830. Dalam upaya menjaga keamanan tentu, lalu mereka ditempatkan dibeberapa titik di Buitenzorg untuk berjaga. Awalnya mengganggu, tapi apa boleh buat. Lalu aku malah melihatnya sebagai pelengkap hiasan kota, diantara wajah-wajah lainnya.
(bersambung)
Selanjutnya “Surat Usang dari Buitenzorg – Kejutan Kota”





