<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kampoeng Bogor - Menapak Sejarah Kota Bogor</title>
	<atom:link href="http://kampoengbogor.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kampoengbogor.org</link>
	<description>Menapak identitas kota bogor</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Dec 2011 05:29:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Bogor Pada Masa itu</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/12/bogor-pada-masa-itu/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/12/bogor-pada-masa-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 01:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu masa ketika wilayah ini memulai babak baru sebagai sebuah kota, masa itu kisahnya diawali dengan perpecahan dan kekacauan karena sebuah kepentingan. Dan masuknya Islam ke Jawa Barat tahun1479 menandai awal babak ini. Banten yang mula-mulanya berada dalam kekuasaan Pajajaran melepaskan diri dan menyusun kekuatan untuk mengalahkan Pajajaran. Wilayah yang berada di daerah sempit, diapit sungai Cisadane dan Ciliwung ini pada tahun 1482 telah memindahkan pusat kerajaan ke sebuah tempat (dari tempat semula di Galoe (Galuh)). Dan perpindahan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu masa ketika  wilayah ini memulai babak baru sebagai sebuah kota, masa itu kisahnya diawali dengan perpecahan dan kekacauan karena sebuah kepentingan. Dan masuknya Islam ke Jawa Barat  tahun1479 menandai awal babak ini.</p>
<p>Banten yang  mula-mulanya berada dalam kekuasaan Pajajaran melepaskan diri dan menyusun kekuatan untuk mengalahkan Pajajaran. Wilayah yang berada di daerah sempit, diapit sungai  Cisadane dan Ciliwung ini pada tahun 1482 telah memindahkan pusat kerajaan ke sebuah tempat (dari tempat semula di Galoe (Galuh)). Dan perpindahan ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Ditempat ini  Banten dibawah pimpinan Maulana Hasanudin menyerang dan menghancurkan Pajajaran pada tahun 1579. Hancur dan hilanglah sebuah ibu kota. Kota itu di kalahkan tapi tidak untuk dikuasai. Lama kelamaan wilayah ini berganti rupa menjadi hutan belantara.</p>
<p>Upaya mendiami kawasan ini dilakukan seabad kemudian, tepatnya September 1687. Saat itu Gubernur Jenderal Johannes Camphuys menugaskan Scipio (Sersan Belanda) dengan ditemani Letnan Tanuwijaya (orang Sunda dari Sumedang) untuk mencari keberadaan ibu kota Pakuan. Pencarian dilakukan sekaligus membuka hutan Pajajaran yang berkabut dan menjadi tempat harimau Jawa berdiam.  Bahkan dalam riwayatnya salah seorang anggota ekspedisi meninggal di terkam Harimau. Dalam perjalanannya ini mereka membangun daerah baru yang kemudian dinamakan Kampung Baru. Tahun 1690 G.J Camphuys memerintahkan pembuatan Peta Kampung Baru. Meletusnya Gunung Salak tahun 1699 mengakibatkan hutan belantara ini berubah menjadi lapangan luas dan terbuka, tanpa pohon-pohonan sama sekali. Dalam kondisi tersebut cikal bakal Kota Bogor ini hanya menyisakan semak belukar dan padang ilalang.<br />
Tahun 1701 Letnan Tanuwijaya ditunjuk sebagai kepala Kampung Baru. Masa itu Kampung baru yang dibangun Tanuwijaya di Bogor berlokasi di Parung Angsana. Penunjukan ini menandai dimulainya perkembangan administrasi wilayah ini.</p>
<p>Sejarah pun terus berlanjut, Agustus sampai september 1744, dalam lawatannya ke Kampung Baru Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff menaruh minat dan perhatian untuk mengembangkan wilayah ini sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan. Van Imhoff terpikat dengan topografi wilayah yang  landai dan beriklim sejuk karena berada di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede. Selain itu lokasinya tidak   terlalu jauh dengan pusat pemerintahan di Batavia. Dia pun berencana membuat daerah tersebut menjadi tempat peristirahatan yang damai dan lepas dari keruwetan sehingga disebutlah Buitenzorg. Rumah peristirahatan tersebut dibangun dengan halaman depan yang terbuka, ditumbuhi rerumputan dan tanaman hias yang menghadap ke utara dan halaman belakang yang tertutup dengan tanaman tahunan tropis besar dan rindang menghadap ke selatan. Landskap rumah peristirahatan kemudian berdampak pada perkembangan selanjutnya kota Bogor.</p>
<p>Langkah lainnya Van Imhoff menggabung wilayah yang meliputi sembilan distrik  menjadi wilayah pemerintahan Regentschap. Buitenzorg dengan menunjuk Demang Wiranata sebagai kepala wilayah. Pada masa  Gubernur Jenderal Mossel tahun 1754 kepala wilayah Kampung Baru (Bupati) meminta ijin untuk memindahkan pusat pemerintahan di Sukahati atau sekarang dikenal dengan nama Empang. Sejak saat itu hingga 1872 Sukahati / Empang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bogor.</p>
<p>Pada masa G.J Herman Willem Daendels (1808) lembaran sejarah penting terjadi di Bogor. Dibangunnya De Groote Postweg (Jl Raya Pos) yang mengorbankan ribuan nyawa itu. Lintasan jalan ini di Bogor melalui Jl. Raya Cibinong, menuju Jl Ahmad Yani Sudirman , Ir H. Juanda (Groote Weg) kemudian menuju Jl. Surya Kencana (Handels Straat), akhirnya ke Tajur dan Cipanas.</p>
<p>Perubahan cukup besar terhadap Bogor terjadi dengan kehadiran Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811). Raffles menjadikan rumah peristirahatan menjadi Istana resmi, sedang pemerintahan tetap berada di Batavia. Namun sebagian besar waktunya dihabiskan di Buitenzorg. Kala itu Bogor ditetapkan sebagai pusat administrasi keresidenan yang membawahi Kabupaten Bogor; Cianjur dan Sukabumi. Sejak saat itu Bogor mulai berkembang dengan ciri dan sifat kekotaan menuju predikat kota dengan fungsi dan status yang lebih tinggi.</p>
<p>Enam Juli 1835 menjadi peristiwa penting lainnya. Yaitu diberlakukannya wijkenstelsel , peraturan yang membagi zona permukiman. Orang Eropa yang disamakan haknya diberi izin membangun rumah di sebelah barat jalan raya (sekarang jalan Sudirman) mulai dari Witte Paal sampai sebelah selatan Kebun Raya dan Pakancilan. Orang Tionghoa diberi peruntukan lahan di daerah yang berbatasan dengan jalan raya sepanjang jalan Suryakencana sampai tanjakan Empang. Sedangkan pemukiman Arab berada di sekitar Empang.</p>
<p>Perkembangan selanjutnya pada tahun 1941, Buitenzorg resmi lepas dari Batavia. Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 11 Tahun 1886, No. 208 Tahun 1905 dan No. 289 Tahun 1924 menyebutkan, masa itu wilayah Bogor seluas 22 km persegi terdiri dari 2 sub distrik dan 7 desa. (Walaghara Kampoeng Bogor)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/12/bogor-pada-masa-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah-wajah Tanpa Batas</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/03/wajah-wajah-tanpa-batas/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/03/wajah-wajah-tanpa-batas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 05:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Usang dari Buitenzorg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih menulis surat-surat itu. Disekitarku adalah angin, hujan, kabut dan kadang sedikit terik. Aku selalu terpana di pagi, siang, dan di sorenya. Kota ini kemudian kembali terjaga oleh aktifitas orang-orang yang tinggal di dalamnya. Aku saat itu bersama ibu dan 2 pribumi yang ayah pekerjakan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan rumah. Kami hendak memasuki pasar untuk membeli beberapa kebutuhan. Pasar dan wilayah sekitarnya yang dari tahun ke tahun sepertinya semakin ramai dan perlahan menjadi pusat perniagaan di Buitenzorg. Pada tahun 1777 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/03/ellieslandscape.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-685" title="ellieslandscape" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/03/ellieslandscape-300x225.png" alt="" width="300" height="225" /></a>Aku masih menulis surat-surat itu. Disekitarku adalah angin, hujan,  kabut dan kadang sedikit terik. Aku selalu terpana di pagi, siang, dan  di sorenya. Kota ini kemudian kembali terjaga oleh aktifitas orang-orang  yang tinggal di dalamnya. Aku saat itu bersama ibu dan 2 pribumi yang  ayah pekerjakan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan rumah. Kami hendak  memasuki pasar untuk membeli beberapa kebutuhan. Pasar dan wilayah  sekitarnya yang dari tahun ke tahun sepertinya semakin ramai dan  perlahan menjadi pusat perniagaan di Buitenzorg. Pada tahun 1777 saja,  penghasilan Gubernur Jenderal dari sewa pasar ini mencapai 8.000 ringgit  dari 14.000 total penghasilannya. Jelas merupakan asset yang penting  bagi sebuah kota. Aku diam sejenak sambil menatap lurus sebuah jalan  menuju arah Selatan. Sebuah kawasan dengan jalan lurus membentang  bernama Handlestraat Weg, dengan toko-toko para Thionghoa yang terdapat  di kanan dan kiri jalan. Daerah ini menjadi pusat para Thionghoa dimana  aktifitas utamanya adalah perniagaan. Entah sejak kapan tepatnya mereka  hadir disini, tapi aku yakin kegiatan perniagaanlah yang menjadi  dorongan terbesar kedatangannya. Aku pernah dengar beberapa dari mereka  juga mendalami bidang pendidikan, terlibat juga dalam penyebaran agama,  atau juga mungkin hal yang lainnya. Tapi jelas mereka pintar benar  memanfaatkan berbagai kondisi. Didorong pengalaman yang keras ditengah  tekanan, trauma, dan ancaman, tapi malah membuatnya semakin bertahan,  semakin kuat dan besar. Bahkan setelah dilakukannya penggeledahan lebih  dari 5.000 orang yang tinggal di Batavia pada 1740, mereka tetap coba  bertahan. Walau meninggalkan trauma, tapi secara perlahan bagi mereka  hal itu haruslah berlalu.</p>
<p>Ketika arus perpindahan kegiatan  dari Batavia menuju Buitenzorg yang membuat tempat ini mulai dipenuhi  berbagai aktifitas, para Tionghoa hadir sebagai para penyedia kebutuhan.  Semakin banyak orang, jelas semakin banyak kebutuhan yang harus  dipenuhi disini. Tentu bukan hanya mereka yang melakukan hal itu, para  pribumi dan kemudian para Arab pun melakukannya disini. Mereka juga  membawa serta budayanya masing-masing, yang kemudian membaur dengan  budaya yang sudah ada sebelumnya. Diluar aktifitas berniaga, setiap  tahunnya para Tionghoa menyelenggarakan sebuah festival dalam merayakan  kehadiran tahun barunya, juga pada hari ke-15 setelahnya. Mereka tampak  khusuk dan suka cita dalam sebuah perayaan yang perlahan mengundang  bangsa lain juga larut di dalamnya. Lalu menjadi pembauran yang harmonis  pikirku. Perayaan yang bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tapi juga  sebuah tradisi budaya dengan segala atraksi disertai atribut yang  menjelma menjadi pesta rakyat. Ditengah kondisi yang terjadi di  Buitenzorg dalam hal yang baik ataupun buruknya, perayaan seperti ini  kadang memang bisa membuat kita semua sejenak lupa akan siapa diri kita  sebenarnya. Menjadi sekedar letupan semangat kecil sebuah tradisi,  ditengah fenomena berkembangnya bumi jajahan. Ya memang, setiap orang  memiliki cara dalam memaknai sebuah hiburan dan kebersamaan, hal yang  memang sangat jarang didapat bagi para etnis golongan kedua dimasa-masa  seperti ini.</p>
<p>Mengamati aktifitas orang-orang dalam  keseharian terasa tak pernah kurasa membosankan. Kedatangan bangsa  Eropa, Thionghoa, dan Timur Tengah membuat kota ini semakin berwarna.  Tentu saja dengan para pribumi yang juga datang dari berbagai wilayah  untuk mendekati pusat kota. Gubernur Jenderal sendiri sudah banyak waktu  di Buitenzorg daripada Batavia. Kegiatan dan segala aktifitas bak  pusaran air yang sangat kuat dan mengundang pergerakkan banyak orang  untuk singgah kemudian tinggal. Perpindahan kegiatan juga dilakukan  pemerintahan lokal yang memindahkan pusat pemerintahan dari Kampung Baru  menuju Sukahati atau yang kemudian lebih sering disebut Empang.  Menetaplah para Raden dengan menjadikan alun-alun sebagai pusat  kegiatan. Sebuah masjid yang menjadi pusat ibadah para pribumi kemudian  didirikan pada tahun 1817 melengkapi hadirnya sebuah pemerintahan.  Beberapa pedagang pun akhirnya mulai berdatangan mengitari alun-alun.  Setiap harinya menjadi ramai. Setiap sorenya bahkan menjadi semakin  hangat, diwarnai oleh aktifitas para pribumi. Suasana yang selalu  kuanggap menyenangkan. Betapa tidak, Buitenzorg menghadirkan berbagai  macam wajah yang silih berganti dibenakku. Dari ramah yang ku dapat  sampai hal-hal yang kurang menyenangkan buatku. Dari mereka-mereka yang  tulus ataupun mungkin hanya berpura-pura. Aku jadi ingat betul betapa  sering kupulang dalam keadaan menangis, berlari terburu-buru memasuki  kamar dan mengingat betapa buruknya perlakuan-perlakuan itu. Tapi siapa  sangka, ternyata hari-hari kemudian aku malah bercanda dan tertawa  bersama mereka.</p>
<p>Salah satunya membuatku masih gugup sampai  kini. Aku tersipu walau hanya sekedar menyebut namanya. Mengenang  wajahnya hanya akan membuatku semakin gelisah. Ah, perasaan hati yang  kadang kuanggap keterlaluan. Aku mengenal namanya baru kemarin saja,  walau telah cukup lama mencuri pandang terhadapnya pada setiap kali  kesempatan. Dia seorang pribumi yang baik seperti kebanyakan pribumi  lain yang kukenal. Dia yang kadang terlalu sungkan, juga pemalu dan aku  pun begitu. Aku tak berani berharap banyak hal, tapi untuk hal ini aku  punya lebih dari sekedar keinginan untuk kuwujudkan. Rode Brug atau yang  pribumi sebut Jembatan Merah menjadi tempat awal semua itu. Jembatan  penting penghubung jalur Buitenzorg menuju Banten. Atau jembatan penting  penghubung dua hati yang saling merindu kini. Kesempatan awal hadir  tanpa aku bisa membayangkan sebelumnya. Menghabiskan senja diantara kita  tanpa banyak bicara. Tapi kita berdua sadar bahwa kita ternyata telah  menjadi dekat, bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Hingga walaupun  butuh, kata-kata mungkin tidak mampu banyak diharapkan hadir saat itu.  Hanya semilir angin senja, sayup-sayup obrolan orang-orang dan canda  lainnya, perlahan mengantar kita dalam sebuah genggaman.</p>
<p>Kesadaranku  kemudian terjaga oleh seorang nyonya saat dia tengah menawar satu sisir  pisang yang kelihatannya belum terlalu matang tapi cukup besar dan  rapat. Nyonya yang cerewet sekali, dengan si pedagang yang sepertinya  tampak belum terlalu siap. Dia baru saja menata dagangannya setelah  istirahat sejenak dari kedatangannya di pasar itu. Disebelahnya berjejer  pedagang lain dengan menyediakan aneka buah dan sayuran yang tampak  masih begitu segar. Mereka berdatangan dari berbagai tempat setahuku.  Wilayah yang subur ini nyata-nyata memang menghasilkan berbagai macam  tanaman dengan baik. Oh ya, memang ini yang membuat bangsa Eropa atau  para penjajah berdatangan di negeri ini. Mengeruk hasil bumi dengan  segala upayanya masing-masing. Dari mulai menghasut raja-raja, memecah  belah, menganiaya, bahkan sampai mendatangkan para tentara-tentara  bayaran untuk menjamin berjalannya sebuah penguasaan. Tentara-tentara  itu tentu bukan semuanya berasal dari Belanda. Sebuah undang-undang  Belanda sama sekali tidak memperbolehkan para wajib militer negeri itu  untuk ditempatkan di wilayah jajahan. Militer Belanda yang berada disini  adalah mereka yang melanggar aturan di negaranya dan kemudian memilih  menjadi tentara Hindia Belanda sebagai bentuk hukuman. Sisanya berasal  dari Jerman, Inggris, Perancis, Belgia, dan Swiss yang dibayar dengan  gaji yang baik, serta orang-orang India dan juga Pribumi dengan bayaran  terendah bahkan tidak mendapatkan fasilitas alas kaki. KNIL itu dibentuk  pada tahun 1830. Dalam upaya menjaga keamanan tentu, lalu mereka  ditempatkan dibeberapa titik di Buitenzorg untuk berjaga. Awalnya  mengganggu, tapi apa boleh buat. Lalu aku malah melihatnya sebagai  pelengkap hiasan kota, diantara wajah-wajah lainnya.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(bersambung)</em></p>
<p style="text-align: right;">Selanjutnya <em>&#8220;Surat Usang dari Buitenzorg &#8211; Kejutan Kota&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/03/wajah-wajah-tanpa-batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masa Sulit bagi Siapapun</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/03/masa-sulit-bagi-siapapun/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/03/masa-sulit-bagi-siapapun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 01:52:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Usang dari Buitenzorg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Ayahku seorang peneliti botani, munculnya gagasan tentang inisiasi sebuah pusat penelitian botani di Timur Jauh membuat beliau tertarik untuk datang kesini. Masa-masa dimana raja-raja Eropa dan Britania saling berlomba mengoleksi pengetahuan sebanyak-banyaknya. Kesempatan Ayah lebih besar ketika Kerajaan Inggris sempat menguasai negeri ini. Beberapa perubahan dilakukan pada era Sir Raffles dalam membangun sebuah negeri jajahan. Inisiasi mereka akhirnya berhasil. Pusat penelitian itu akhirnya berhasil dibangun pada tahun 1817 melalui prakarsa Karl Reinwardt seorang Jerman yang awalnya malah berkecimpung didunia kedokteran. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/03/Elliespotrait.png"><img class="size-full wp-image-676 alignleft" title="Elliespotrait" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/03/Elliespotrait.png" alt="" width="307" height="410" /></a>Ayahku seorang peneliti botani, munculnya gagasan tentang inisiasi  sebuah pusat penelitian botani di Timur Jauh membuat beliau tertarik  untuk datang kesini. Masa-masa dimana raja-raja Eropa dan Britania  saling berlomba mengoleksi pengetahuan sebanyak-banyaknya. Kesempatan  Ayah lebih besar ketika Kerajaan Inggris sempat menguasai negeri ini.  Beberapa perubahan dilakukan pada era Sir Raffles dalam membangun sebuah  negeri jajahan. Inisiasi mereka akhirnya berhasil. Pusat penelitian itu  akhirnya berhasil dibangun pada tahun 1817 melalui prakarsa Karl  Reinwardt seorang Jerman yang awalnya malah berkecimpung didunia  kedokteran. Tempat itu diberi nama s&#8217;Lands Plantentuinte Buitenzorg.  Semua ilmuwan botani dunia bahkan baru mendapatkan pengakuan jika telah  berkunjung kesana. Mereka benar-benar serius membangun dan mengumpulkan  contoh-contoh tanaman dari berbagai belahan dunia untuk diteliti disini.  Ayahku tak pernah keberatan menjelaskan apa-apa dari yang kutanyakan.  Walaupun aku kadang tidak hafal dan mengerti banyak dari apa yang dia  jelaskan. Saat kecil aku senang sekali mengikuti ayahku bekerja. Bekerja  dengan alat-alat seperti itu dan tumbuhan-tumbuhan yang tak pernah ku  hafal satu pun namanya.</p>
<p>Ayahku orang yang cukup sulit,  pikirannya sangatlah tidak sederhana berbanding terbalik dengan ibu.  Kolonialisme menjadi hal yang tidak pernah mudah untuk siapa pun,  termasuk ayahku walaupun Ayah termasuk orang-orang kepercayaan  pemerintahan kolonial. Nyatanya dia memang tidak pernah setuju. Ilmu  pengetahuan memang hal yang terpisah dengan politik dan penguasaan. Tapi  entahlah, pilihannya menjadi lebih sulit. Ketidakmampuan menerima  kenyataan dan kondisi yang terjadi membuatnya melakukan hal yang tidak  pernah dimengerti, bahkan oleh ibu dan aku. Pilihan yang akhirnya harus  meninggalkan kami. Tahun-tahun yang sulit pada awalnya buat kami  menerimanya pergi. Tapi saat ini mungkin bukan hanya untuk kami,  ditengah masa-masa kolonial seperti ini mungkin akan terasa sulit juga  bagi siapapun. Tapi kami bersyukur memilih dan dapat bertahan di sebuah  negeri jajahan yang terlanjur aku sayangi. Negeri yang belum sempat  memilih dan harus menerima peralihan dari satu penguasaan ke penguasaan  lain. Kongsi dagang Belanda itu memang berhasil, mengeruk keuntungan  sebanyak-banyaknya di Hindia-Belanda. Keberhasilan yang membuat VOC  semakin membesar itu malah sepertinya bersaing dengan Kerajaan Belanda.  Tidak mau membiarkannya berlarut-larut, maka tahun 1796 VOC diambil oleh  Kerajaan Belanda.</p>
<p>Negeri ini nyatanya beberapa kali  menyelamatkan muka pemerintahan kolonial Belanda ketika mampu  mendongkrak perekonomiannya dari hasil bumi yang ada disini.  Kompensasinya tentu tidaklah murah dan mudah bagi para pribumi. Bahkan  pada 1820 Pemerintah Hindia-Belanda hampir saja bangkrut. Lalu ketika  Deandels mengalami kekosongan kas negara dan hubungan luar negeri kacau  balau akibat peperangan Inggris dan Perancis, hasil kopi di bagian Barat  Jawa dapat menyelamatkannya. Tapi sekali lagi hal ini benar-benar  membutuhkan kompensasi yang sangat mahal bagi para pribumi.  Diberlakukannya tanam paksa dan kerja paksa adalah luka yang benar-benar  menyakitkan. Ribuan nyawa harus hilang akannya, termasuk ketika  Deandels juga yang memprakarsai pembangunan Jalan Raya Post pada 1808  yang menghubungkan Anyer sampai Panarukan. Dan para pribumi tak dapat  berbuat banyak selain menerimanya. Hanya memendam menjadi luka atau  mungkin menjadi dendam yang berharap terbalaskan. Karena aku sendiri  yakin, perlawanan lambat laun nanti akan terjadi.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(</em><em>bersambung)</em></p>
<p style="text-align: right;">selanjutnya: <em>&#8220;Surat Usang dari Buitenzorg &#8211; Wajah-wajah Tanpa Batas&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/03/masa-sulit-bagi-siapapun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Aku Disini &amp; Mereka ke Depan</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/03/surat-usang-dari-buitenzorg-2/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/03/surat-usang-dari-buitenzorg-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 21:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Surat Usang dari Buitenzorg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=640</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Ellies, aku genap 25 tahun bulan depan nanti. Aku berada dipertengahan sebuah tahun dan hujan sekali-kali masih mewarnai hari terutama saat senja menjelang. Aku seorang gadis yang beruntung dapat lahir dan tumbuh dikota ini. Kota ini tetap sejuk, hijau dan hangat. Tak heran para Eropa yang datang, berani mengatakan tempat ini memiliki suhu udara terbaik di dunia. Ini adalah sebuah tempat yang bernama Buitenzorg, yang berarti juga lepas dari segala penat. Aku paham akhirnya kenapa mereka menjuluki itu untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/03/logo-surat-usang-e1300014204905.png"></a><a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/03/logo-surat-usang-e1300014204905.png"><img class="alignleft size-full wp-image-619" title="logo surat usang" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/03/logo-surat-usang-e1300014204905.png" alt="" width="300" height="251" /></a></strong></p>
<div>
<div>
<p>Namaku Ellies, aku genap  25 tahun bulan depan nanti. Aku berada dipertengahan sebuah tahun dan  hujan sekali-kali masih mewarnai hari terutama saat senja menjelang. Aku  seorang gadis yang beruntung dapat lahir dan tumbuh dikota ini. Kota  ini tetap sejuk, hijau dan hangat. Tak heran para Eropa yang datang,  berani mengatakan tempat ini memiliki suhu udara terbaik di dunia. Ini  adalah sebuah tempat yang bernama Buitenzorg, yang berarti juga lepas  dari segala penat. Aku paham akhirnya kenapa mereka menjuluki itu untuk  tempat ini. Tempat yang tak henti-hentinya mengagumkan banyak orang  termasuk aku. Sungai besar Ciliwung dan Cisadane yang mengapit erat,  dengan  hamparan tanah yang berbukit-bukit dan Gunung Salak yang begitu  gagah menjaga. Menjadikan sebuah wilayah tampak sangat yakin berada  diantaranya. Pepohonan kelapa begitu rapat mendampingi sungai menuju  kaki gunung dan perbukitan. Walaupun ini hanyalah satu titik pada  belahan dunia, tapi ini mungkin yang termasuk menakjubkan diantara juga  yang lainnya.</p>
<p>Wilayah bekas tinggalan kerajaan Hindu  terakhir di tanah Jawa yang masih banyak meninggalkan pertanyaan buatku.  Para pribumi masih percaya bahwa Kerajaan Pajajaran belumlah habis  sejak 1579, tapi menghilang dan menunggu waktu untuk suatu saat bangkit  kembali. Mereka mempercayai banyak hal yang bagiku kadang tak bisa  diterima dengan mudah. Tapi itu sebuah kebanggaan jelas. Ini mungkin  yang membuat Tanuwijaya akhirnya lebih menghargai warisan Pajajaran  daripada harus terus mengikuti keinginan VOC. Tapi kuyakini Pajajaran  memang sebuah Kerajaan yang besar dengan kejayaannya yang masih terus  diperbincangkan hingga kini. Tentu hal itu menyisakan kerinduan bagi  mereka yang pernah hidup atau sekedar mendengar kisah-kisah hebat itu.  Sampai akhirnya aku berpikir, mungkin benar jika Pajajaran belumlah  habis, tapi bersembunyi di balik hati masing-masing rakyatnya sampai  kapanpun. Dan aku ingin menjadi salah satu diantara mereka, menyimpannya  walau hanya sekedar menjadi kebanggaan.</p>
<p>Aku tinggal  bersama ayah, ibu dan adik perempuanku. Ayahku seorang Inggris sedangkan  ibuku pribumi, hingga aku adalah seorang keturunan. Predikat yang  kadang tidak aku sukai sama sekali, apalagi ditengah masa-masa kolonial  seperti ini. Tapi suka tidak suka itulah kenyataannya. Walaupun kadang  menjadi sebuah keistimewaan, tapi tidak bagiku. Ada pembedaan antar para  etnis yang tinggal disini, oh itu jelas. Keistimewaan yang ada harus  menyampingkan keberadaan etnis tertentu. Aku tidak pernah suka walau aku  sendiri yang mendapat segala keistimewaan itu. Mereka bahkan tidak  mengijinkan para pribumi atau etnis tertentu untuk berada pada suatu  tempat. Padahal menurutku Buitenzorg merupakan sebuah keistimewaan bagi  siapa saja yang tinggal didalamnya. Terlebih ketika pemerintah  memberlakukan peraturan wijkenstelsel pada tahun 1835. Kebijakan yang  sangat mengatur pemukiman-pemukiman para etnis agar mudah diawasi dan  dibatasi. Politik rasialisme yang jelas mendukung hadirnya status dalam  lapisan masyarakat.</p>
<p>Dalam berbagai kesempatan Aku memilih  ingin cepat pulang dan bermain bersama anak-anak pribumi, atau  mengunjungi tempat-tempat yang aku senangi dan menghabiskan banyak waktu  untuk itu. Mereka sangatlah ramah dan sudut-sudut itu tak pernah  membuatku bosan sama sekali. Tapi Aku kemudian berpikir, apakah nanti  masih bisa tetap begini. Aku berada ditengah keniscayaan sebuah  perubahan. Pasti berubah! Sejak Prabu Siliwangi mengukuhkan Pajajaran di  wilayah ini tahun 1482, lalu Van Imhoff berinisiasi mendirikan rumah  peristirahatan Buitenzorg pada tahun 1744, lalu pada saat ku berdiri  saat ini ataupun tahun-tahun ke depan, semuanya berubah! Lalu aku  berharap seperti juga orang-orang yang ada disini. Sederhana sebagai  pemikiran tapi tak pernah mudah untuk menjadi sebuah kenyataan.  Menjadikan keindahan disini bisa bertahan lama walaupun tidak dapat  menjadi selamanya, itu saja. Hingga aku pun mulai menulis surat-surat  itu. Teruntuk mereka yang akan hidup dimasa-masa setelahku. Tak peduli  mereka akan memperhatikannya atau tidak. Karena surat itu akan usang  mungkin pada waktunya nanti. Tapi aku akan menjadi saksi yang bercerita  bagi mereka, tentang apa yang terjadi disini tahun-tahun kemarin ataupun  sekarang saat aku hidup.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(bersambung)</em></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/03/surat-usang-dari-buitenzorg-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Pengantar &#8220;Surat Usang dari Buitenzorg&#8221;</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/03/surat-usang-dari-buitenzorg/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/03/surat-usang-dari-buitenzorg/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Mar 2011 09:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Surat Usang dari Buitenzorg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[Terjadi pada masa-masa kolonial, dimana hidup seorang gadis yang sangat mencintai tempat dimana ia tinggal saat itu. Dia merupakan bangsa turunan campuran dimana sang ayah yang berkebangsaan Inggris jatuh hati dan menikah pada seorang wanita pribumi. Sang ayah bekerja sebagai peneliti botani yang datang pada era Sir Raffles, sedangkan sang ibu merupakan anak dari mandor kebun orang-orang Belanda. Ia lahir dan tumbuh di sebuah kota berjuluk Buitenzorg atau dikenal pula dengan nama Bogor. Bisa lahir kemudian tinggal di Buitenzorg, merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/03/logo-surat-usang-e1300014204905.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-619" title="logo surat usang" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/03/logo-surat-usang-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<div>
<p>Terjadi pada masa-masa kolonial, dimana hidup seorang gadis yang sangat mencintai tempat dimana ia tinggal saat itu. Dia merupakan bangsa turunan campuran dimana sang ayah yang berkebangsaan Inggris jatuh hati dan menikah pada seorang wanita pribumi. Sang ayah bekerja sebagai peneliti botani yang datang pada era Sir Raffles, sedangkan sang ibu merupakan anak dari mandor kebun orang-orang Belanda. Ia lahir dan tumbuh di sebuah kota berjuluk Buitenzorg atau dikenal pula dengan nama Bogor.</p>
<p>Bisa lahir kemudian tinggal di Buitenzorg, merupakan sesuatu yang benar-benar sangat ia syukuri. Ia menyadari bahwa hidup pada masa kolonialisme merupakan hal yang tidak ia inginkan terjadi pada suatu bangsa. Tapi kesempatan untuk memilih menjadi apa atau bangsa apa, akhirnya ia sadari bukan menjadi kewenangannya. Ia lalu bahkan sangat ramah pada setiap orang, tak peduli apakah orang tersebut merupakan bangsa Eropa, Asia ataupun Pribumi. Ia tak peduli sama sekali..!</p>
<p>Kecintaannya pada sebuah kota yang ia tinggali mendorongnya melakukan sesuatu yang akan dikenang pada masa-masa ke depan. Diluar waktu belajar dan membantu orang tuanya, ia sering mengunjungi tempat-tempat sampai sudut terpencil Buitenzorg. Kota ini benar-benar indah ia yakini itu dan betapa ia bangga menjadi salah satu penduduk yang tinggal didalamnya. Betapapun sering ia diceritakan sang ayah tentang kehebatan negeri dimana sang ayah berasal, dan berulang kali sang ayah mengingatkan kelak akan mengajak ia tinggal disana, namun ia tak pernah sedikitpun berpikir untuk pergi meninggalkan kota ini.</p>
<p>Tapi ia menyadari, kelak jauh tahun setelahnya, mungkin mereka akan lupa. Penduduk kota akan melupakan tempat-tempat yang ia kagumi saat ia tinggal. Tempat-tempat tersebut akan berubah seiring bergantinya waktu. Takkan lagi pernah sama baginya dan bagi mereka-mereka kemudian. Tapi untuk kesempatan menakjubkan yang ia alami, ia kemudian ingin sekali berbagi. Sebuah cerita yang walau akan usang pada masanya nanti, tapi mungkin bisa sedikit membuat orang mengenang, peduli dan menjadi bangga.</p>
<p>Karena itu ia sering sekali menulis tentang ketakjubannya akan keindahan tempat-tempat yang ada di Buitenzorg. Ia kemudian menulisnya ke dalam sebuah surat yang ia tujukan kepada orang-orang yang akan tinggal kemudian setelah masa-masanya berlalu. Hingga kelak ia berharap orang-orang tersebut tak akan lupa. Beberapa pucuk surat ia kumpulkan, lalu diberi sampul berjudulkan “Surat usang dari Buitenzorg”.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(bersambung)</em></p>
</div>
<p style="text-align: right;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/03/surat-usang-dari-buitenzorg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merekam Uniknya Peringatan Maulid Nabi di Bogor</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/02/merekam-uniknya-peringatan-maulid-nabi-di-bogor/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/02/merekam-uniknya-peringatan-maulid-nabi-di-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 02:06:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=609</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki bulan maulud dalam penanggalan Islam, beberapa daerah termasuk di Bogor memperingati perayaan Maulid. Tepatnya pada, 15 Februari 2011 lalu warga di beberapa tempat dan daerah menggelar puncak peringatan ini. Maulid Nabi diperingati untuk menandai hari yang diyakini sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Kata Maulid sendiri atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Peringatan maulid Nabi Muhammad saw yang diadakan setiap tahunnya pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/02/IMG_3146-e1300011216262.jpg"></a><a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/02/IMG_3146-e1300011216262.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-610" title="IMG_3146" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/uploads/2011/02/IMG_3146-e1300014039683.jpg" alt="" width="150" height="100" /></a>Memasuki bulan maulud dalam penanggalan Islam, beberapa daerah termasuk di Bogor memperingati perayaan Maulid. Tepatnya pada, 15 Februari 2011 lalu warga di beberapa tempat dan daerah menggelar puncak peringatan ini. Maulid Nabi diperingati untuk menandai hari yang diyakini sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Kata Maulid sendiri atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir.</p>
<p>Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Peringatan maulid Nabi Muhammad saw yang diadakan setiap tahunnya pada bulan Rabiul Awal pertama kali diperkirakan pertama kali diperkenalkan pada zaman dinasti Fatimiyah pada abad 10 masehi.</p>
<p>Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin, yang pada saat itu sedang terlibat dalam peperangan. Selanjutnya peringatan maulid Nabi Muhammad saw menjadi sebuah upacara yang kerap dilakukan umat Islam di berbagai belahan dunia</p>
<p>Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan dan pengajian yang ditujukan untuk memuliakan, mengungkapkan kecintaan terhadap Rasulullah SAW, serta menumbuhkan ghirah (semangat) dalam beribadah yang di peroleh dari acara peringatan maulid Nabi tersebut. Sebagian masyarakat merayakan Maulid Nabi dengan pembacaan shalawat Nabi, membaca syair Barzanji dan Diba’i (karya tulis seni sastra yang isinya bertutur tentang kehidupan Muhammad, silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul, sifat-sifat mulia, dan berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia) atau Al-Burdah (kumpulan syair-syair pujian kepada Rasulullah SAW)</p>
<p>Di Indonesia, masyarakat di setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk merayakan kelahiran manusia agung tersebut. Beberapa wilayah yang memiliki tradisi penyelenggaraan Maulid Nabi antara lain Di Banten, Cirebon, (ziarah ke makam Sunan Gunung Jati, dan upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan); Yogyakarta, dan Surakarta mengenal perayaan Maulid dengan istilah Sekaten (Istilah ini berasal dari kata syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat) yang diakhiri dengan Gerebeg Mulud sebagai puncak acara sekaten.</p>
<p>Di Kota Bogor Sendiri Perayaan Maulid Nabi secara rutin diselenggarakan di beberapa wilayah, terutama di tiga Masjid Tua Kota Bogor. Masjid An Nur Al Atas, Empang akan menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi pada tanggal 1 Maret mendatang yang bertepatan dengan akhir bulan Rabiul Awal. Masjid Al Mustofa, Bantarjati Kaum menyelenggarakan Maulid Nabi (15 Februari 2011) dengan melakukan Sholawat di Masjid dan pembagian &#8216;berkat&#8217;.  Uniknya disaat kaum pria melakukan Sholawat, sebagian besar Perempuan di kampung itu menyediakan makanan bungkusan untuk dibagikan pada peserta sholawat dan warga lainnya. Saat itu sepanjang jalan di samping Masjid Al Mustofa dipenuhi makanan sumbangan dari warga. Ada sekitar 1000 orang lebih warga yang memadati Masjid Al Mustofa. Mereka datang untuk berebut mendapatkan “berkat” di Puncak Perayaan Maulid Nabi Masjid Al Mustofa itu.</p>
<p>Di Masjid Al-Falak, Pagentongan, acara Maulid Nabi biasanya diselenggarakan dengan memanjatkan doa Maulid Nabi dan ceramah-ceramah yang juga menghadirkan penceramah dari luar pesantren. Uniknya, pada siang hari, masyarakat yang di lima buah Rukun Tetangga (RT) ini berkeliling sambil menggotong Ambeng yang berisi makanan yang akan dibagikan kepada tamu-tamu dan wrga yang hadir. Pada tahun ini perayaan Maulid di wilayah Pagentongan dilaksanakan hari Minggu tanggal 27 Februari 2011. Diperkirakan lebih dari 1500 warga dan tamu undangan datang dan terlibat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/02/merekam-uniknya-peringatan-maulid-nabi-di-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cap Go Meh 2011, Tetap Bermakna Meski Sederhana</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/02/cap-go-meh-2011-tetap-bermakna-meski-sederhana/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/02/cap-go-meh-2011-tetap-bermakna-meski-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 02:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[Adakah kawan-kawan yang hari ini merayakan Cap Go Meh, atau turut menikmati perayaannya? Hari kamis (17/2) lalu Vihara Dhanagun terlihat sangat sibuk untuk mempersiapkan Cap Go Meh. Cap Go Meh tahun ini memang tidak akan seramai perayaannya seperti tahun-tahun sebelumnya, namun perhelatan ini sama sekali tidak kehilangan makna, baik bagi warga Tionghoa yang melaksanakan ritualnya, dan bagi warga lainnya yang turut menikmati. Cap Go Meh sendiri memiliki makna “Malam ke 15” atau “Malam tanggal 15” (Cap Gou: 15; Meh: malam). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adakah kawan-kawan yang hari ini merayakan Cap Go Meh, atau turut menikmati perayaannya?</p>
<p>Hari kamis (17/2) lalu Vihara Dhanagun terlihat sangat sibuk untuk mempersiapkan  Cap Go Meh. Cap Go Meh tahun ini memang tidak akan seramai perayaannya  seperti tahun-tahun sebelumnya, namun perhelatan ini sama sekali tidak  kehilangan makna, baik bagi warga Tionghoa yang melaksanakan ritualnya,  dan bagi warga lainnya yang turut menikmati.</p>
<p>Cap Go Meh sendiri  memiliki makna “Malam ke 15” atau “Malam tanggal 15” (Cap Gou: 15; Meh:  malam). Penyebutan ini dikarenakan Cap Go Meh jatuh pada tanggal 15  bulan pertama dalam kalender Lunar (kalender Tiongjoa).</p>
<p>‘Goan  Siau’&#8230; adalah nama resmi dari Cap Go Meh. Goan Siau yang bermakna  ‘bulan purnama di bulan pertama imlek’, menjadikan sebagian besar orang  juga menyebutnya sebagai “Festival Bulan Purnama”. Selain itu, Goan Siau  juga merupakan pesta lampion rakyat yang berasal dari masa Dinasti Han  (206SM-220M). Pada malam Cap Go Meh, rakyat Tionghoa memiliki kebiasaan  memasang lampion berwarna-warni. Hal ini menyebabkan festival ini juga  memiliki julukan “Lampionen Feest”.</p>
<p>Perayaan Cap Go Meh berbeda  dengan perayaan Tahun Baru Imlek yang biasanya merupakan ajang pertemuan  bagi seluruh keluarga dan handai taulan. Tahun Baru Imlek merupakan  family affair yang dirayakan di lingkungan keuarga saja, sedangkan Cap  Go Meh merupakan public affair yang berpusat di klenteng dan dirayakan  secara meriah di jalan raya dengan berbagai atraksi dan hiburan.  Perayaan jalanan seperti: karnaval, pesta kembang api, permainan  liong-tarian naga, ondel-ondel, gambang keromo, cokek, sam sie,  baronsay, dan lain sebagainya selalu memeriahkan Festival Cap Go Meh  yang terselenggara 15 hari setelah tahun baru Imlek. Cap Go Meh juga  merupakan penutup dari seluruh rangkain perayaan tahun baru Imlek yang  berlangsung selama dua minggu.</p>
<p><strong>Tradisinya di Bogor</strong></p>
<p>Pada  awalnya, di Bogor, Cap Go Meh dirayakan pada tanggal 16 (Caplak),  seperti yang dilaksanakan di Tanah Abang, Paal Merah, dan Jatinegara.  Setelah mengalami jeda selama kurun waktu tiga hari, perayaan pun  dilanjutkan di Cianjur pada tanggal 19 (Capkau) dan berakhir di Sukabumi  pada tanggal 21 (Jih’it). Hal ini memang sengaja diatur, dengan maksud  agar siapa saja yang berminat mengikuti acara ini, dapat terus  menghadiri, menyaksikan, dan turut meramaiakn berbagai perayaan Cap Go  Meh yang berlangsung di berbagai kota di Jawa Barat.</p>
<p>Di Bogor,  seperti halnya di Ibukota, Cap Go Meh telah menjadi pesta rakyat dan  ajang bertemunya berbagai kelompok etnis yang ada di Bogor, sebelum  akhirnya dilarang pada akhir tahun 1950-an. Setelah hilang selama orde  baru, perayaan ini dihidupkan lagi seiring dengan lahirnya reformasi.  Meski perayaan ini kembali diselenggarakan dengan ruh yang sama, namun  praktek acaranya tidak akan pernah sama seperti bertahun-tahun lalu.  Beberapa acara terpaksa dihilangkan dan ditiadakan karena tidak ada  pewarisnya, seperti: Wayang potehi, dan Cngge yang kini makin tidak  memperoleh tempat di mata generasi muda.</p>
<p>Ho Tek Bio (Vihara  Dhanagun) yang telah berdiri sejak 388 tahun lalu selalu menjadi pusat  kegiatan acara ini dari masa ke masa.. Menurut penuturan salahsatu  sesepuh, rute parjalanan yang ditempuh oleh Joli para Dewa Dewi jaman  dahulu melintasi Istana Bogor,  bahkan pernah masuk kedalam Istana Bogor  atas permintaan Presiden RI pertama, Bung Karno. Hingga saat ini  festival Cap Go Meh di Bogor masih mempertahankan keunikannya dengan  pelaksanaan kegiatan pada malam hari yang juga membedakannya dengan  acara Cap Go Meh di wilayah lainnya yang selalu diselenggarakan siang  hari.</p>
<p>Sebelum Festival, para pengurus Klenteng dan Pemuka  kepercayaan akan melakukan perjalanan ritual (ritual tour) menuju  beberapa Klenteng bersejarah di Bogor tepat pada malam Cap Gwee dan  malam Cap Go Meh. Pada saat streetfest diselenggarakan, arak-arakan  bergerak dari Ho Tek Bio menuju Klenteng Pankoh di Belong serta Klenteng  Kwan Im yang terletak di Jalan SIliwangi yang merupakan  klenteng-klenteng karuhun masyarakat Tionghoa Bogor.</p>
<p>Beberapa  tahun belakangan ini, Perayaan Cap Go Meh di Bogor mengusung tema-tema  kebersamaan, persatuan, dan keragaman, dengan melibatkan unsur-unsur  kebudayaan lain di luar buadaya Tionghoa untuk berpartisipasi dalam  kegiatan Cap Go Meh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/02/cap-go-meh-2011-tetap-bermakna-meski-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiprah Kantor Pos Dari Bekas Gereja</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/02/kiprah-kantor-pos-dari-bekas-gereja/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/02/kiprah-kantor-pos-dari-bekas-gereja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 08:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai sebuah kota, Buitenzorg atau yang dikenal dengan Bogor memiliki beragam fasilitas publik yang cukup memadai semenjak tahun 1800an. Terbukti berbagai tinggalan yang dimiliki beberapa diantaranya masih terlihat kokoh berdiri. Keberadaan Paleis Buitenzorg yang dibangun tahun 1745 menjadi alasan utama munculnya berbagai fasilitas-fasilitas publik seperti Stasiun, Rumah Sakit, pasar, sekolah, tempat hibuan, Kantor Pos, Hotel, Restoran dan lain-lain. Termasuk juga rumah ibadah. Bogor pada tahun 1800an memiliki penduduk yang terdiri dari bangsa-bangsa Eropa, Asia dan pribumi. Keberadaan orang Eropa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai sebuah kota, Buitenzorg atau yang dikenal dengan Bogor memiliki beragam fasilitas publik yang cukup memadai semenjak tahun 1800an. Terbukti berbagai tinggalan yang dimiliki beberapa diantaranya masih terlihat kokoh berdiri. Keberadaan Paleis Buitenzorg yang dibangun tahun 1745 menjadi alasan utama munculnya berbagai fasilitas-fasilitas publik seperti Stasiun, Rumah Sakit, pasar, sekolah, tempat hibuan, Kantor Pos, Hotel, Restoran dan lain-lain. Termasuk juga rumah ibadah.</p>
<p>Bogor pada tahun 1800an memiliki penduduk yang terdiri dari bangsa-bangsa Eropa, Asia dan pribumi. Keberadaan orang Eropa yang sebagian besar menganut ajaran protestan dan katolik, menuntut akan keberadaan rumah ibadah bagi mereka, yaitu gereja. Pada tahun 1845 di dirikan sebuah Gereja yang pemberkatannya dilakukan pada 13 April 1845. Gereja Simultan / <em>ekumene</em> yang terletak di Groote Post Weg (Jalan Raya Pos) atau yang sekarang dikenal dengan Jl. Juanda, digunakan oleh umat Katholik dan Protestan secara bersamaan. Kemudian pada tahun 1896, dengan kemampuannya sendiri umat Katholik berhasil membangun Gereja sendiri dan memisahkan diri dari Gereja Simultan. Lalu enam puluh tiga tahun kemudian (1920) umat Protestan juga mendirikan Gereja sendiri yang menampung lebih banyak jemaat di lingkungan Istana Bogor. Setelahnya, bangunan yang sebelumnya dijadikan Gereja Bersama, akhirnya tidak dipakai untuk ibadah lagi.</p>
<p>Untuk memfungsikannya kembali, pemerintah menggunakan gedung bekas Gereja ini sebagai Kantor Pos. Saat itu jawatan pos masih dalam pengelolaan PTT (Post Telegraaf Telefoon). Perusahaan inilah yang mengkonsolidasikan seluruh jaringan komunikasi di Hindia Belanda, termasuk di Bogor. Tercatat Bogor memiliki kabel telegraph sejak 1857. Dimana hingga tahun 1920an kantor pos dan <em>telegraph</em> lokasinya berada di <em>Station gebouw</em> (bangunan stasiun). Catatan peta 1920 menunjukkan lokasi ini berada di sayap kiri gedung Stasiun. Barulah kemudian menempati gedung bekas Gereja yang sudah tidak digunakan tadi. Lokasinya yang berada di jalan Raya Pos dan bersebelahan dengan Kebun Raya Bogor memudahkan penduduk kota saat itu untuk mengaksesnya. Bangunan itu hingga kini masih berfungsi sebagai kantor pos. Menjadi akses utama warga kota Bogor untuk berkirim dokumen, surat dan keperluan lainnya.</p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>Data dan  Investigasi</em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>Diolah dari berbagai sumber</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/02/kiprah-kantor-pos-dari-bekas-gereja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Witte Pall, Monumen Kembalinya Bogor dari Kekuasaan Inggris</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/02/witte-pall-monumen-kembalinya-bogor-dari-kekuasaan-inggris/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/02/witte-pall-monumen-kembalinya-bogor-dari-kekuasaan-inggris/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 05:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[Witte Pall dibangun pada tahun 1839 oleh Gubernur Jendral D.J de Eerens yang memerintah antara tahun 1836-1840. Pembangunan tugu tersebut dimaksudkan sebagai peringatan kembalinya Buitenzorg (Bogor) dari tangan penguasa Inggris kepada Belanda. Selain sebagai monumen peringatan, pilar ini juga berfungsi sebagai salah satu titik triangulasi primer pulau Jawa. Yaitu titik koordinat penentuan letak sebuah lokasi berdasarkan tinggi permukaan laut. Pilar di Bogor ini sebagai titik triangulasi primer yang menandai dengan resmi tinggi letak kota Bogor di atas permukaan laut. Sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Witte Pall </em>dibangun pada tahun 1839 oleh Gubernur Jendral D.J de Eerens yang memerintah antara tahun 1836-1840. Pembangunan tugu tersebut dimaksudkan sebagai peringatan kembalinya <em>Buitenzorg</em> (Bogor) dari tangan penguasa Inggris kepada Belanda. Selain sebagai monumen peringatan, pilar ini juga berfungsi sebagai salah satu titik <em>triangulasi</em> primer pulau Jawa. Yaitu titik koordinat penentuan letak sebuah lokasi berdasarkan tinggi permukaan laut. Pilar di Bogor ini sebagai titik triangulasi primer yang menandai dengan resmi tinggi letak kota Bogor di atas permukaan laut. Sebuah angka yang mutlak diperlukan bagi pembuatan peta topografi. Semua pengukuran tanah untuk pembuatan peta yang serius dan bermutu geografi Internasional seyogyanya menggunakan titik triangulasi primer ini sebagai patokan.</p>
<p>Pada tahun 1958 Pilar ini memasuki masa-masa terakhir kejayaannya, saat itu menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1958 seorang anggota panitia setempat mengusulkan agar semua sisa-sisa kolonialisme Belanda dimusnahkan. Wacana penghancuran itu bergulir dan memasukkan Witte Paal sebagai salah satunya. Enam tahun kemudian atau tahun 1964 pilar ini di dinamit sampai rata dengan tanah. Bekas tempatnya yang kosong kemudian dibangun kolam bulat, lengkap dengan air mancurnya. Ketika Ratu Sirikit dari Muangthai (Thailand) berkunjung ke Indonesia pada tahun yang sama, beliau dipandang perlu untuk diminta berhenti sejenak perjalanannya dari Jakarta ke Bogor, agar menikmati air mancur.</p>
<p>Pada masa pendudukan sekutu, bangunan ini seakan menjadi obyek menarik para tentara untuk berfoto-foto ria. Hingga saat ini pun dilokasi tersebut walaupun telah berubah bentuk &amp; fungsinya, namun tetap selalu dapat dinikmati warga Bogor, khususnya kalangan anak muda.</p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>Data &amp; Investigasi Kampoeng Bogor</em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>Diolah dari berbagai sumber</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/02/witte-pall-monumen-kembalinya-bogor-dari-kekuasaan-inggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Rumah Peristirahatan ke Istana Bogor</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/02/dari-rumah-peristirahatan-ke-istana-bogor/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/02/dari-rumah-peristirahatan-ke-istana-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 05:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=542</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu masa, selepas terjadinya kerusuhan di Batavia tahun 1744. Gustaff Willem Baron Van Imhoff, Penguasa pemerintah Hindia Belanda (VOC) mengadakan perjalanan ke Kampung Baru untuk melepas kepusingannya. Kampung Baru adalah sebuah kampung yang didirikan di Bogor setelah ekspedisi Scipio dan Tanuwijaya tahun 1607, membuka hutan Pajajaran. Dalam perjalanannya ini sang Gubernur Jendral begitu terkesima dengan keindahan dan kedamaian Kampung Baru. Tibalah rombongan Van Imhoff itu di sebuah tempat, sang Gubernur pun memutuskan untuk membangun sebuah tempat peristirahatan. Lalu sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu masa, selepas terjadinya kerusuhan di Batavia tahun 1744. Gustaff Willem Baron Van Imhoff, Penguasa pemerintah Hindia Belanda (VOC) mengadakan perjalanan ke Kampung Baru untuk melepas kepusingannya. Kampung Baru adalah sebuah kampung yang didirikan di Bogor setelah ekspedisi Scipio dan Tanuwijaya tahun 1607, membuka hutan Pajajaran. Dalam perjalanannya ini sang Gubernur Jendral begitu terkesima dengan keindahan dan kedamaian Kampung Baru. Tibalah rombongan Van Imhoff itu di sebuah tempat, sang Gubernur pun memutuskan untuk membangun sebuah tempat peristirahatan.</p>
<p>Lalu sebuah bangunan rumah peristirahatan dibangun ditempat ini kurun waktu 1744-1750. Bahkan Van Imhoff sendirilah yang membuat sketsa dan mengawal pembangunannya. Pembangunan awal istana ini berbentuk tingkat tiga, meniru arsitektur <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Blehheim_Palace&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>Blehheim Palace</em></a><em>,</em> di Inggris.  Sejak adanya rumah peristirahatan ini Bogor memiliki sebutan <em>Buitenzorg, </em>merujuk pada bahasa Belanda yang artinya &#8216;lepas dari kepenatan&#8217;.</p>
<p>Keberadaan Gubernur Jenderal dengan rumah peristirahatan ini berdampak pada pengaturan-pengaturan wilayah untuk kepentingan pemerintahan kolonial. Pada 1752, saat terjadi peperangan antara Raja Banten melawan VOC, bangunan rumah peristirahatan ini tak luput dari serangan. Bangunan dihancurkan tanpa sisa, kecuali bagian sayap rumah. Setelah penghancuran barulah pada tahun 1754 Gubernur Jenderal Jacob Mossel membangun kembali rumah peristirahatan menjadi istana.  Pada masa pemerintahan William Daendels (1808-1811), bangunan istana ditambah menjadi bangunan bertingkat dua.</p>
<p>Tonggak penting keberadaan istana kembali terjadi ketika Thomas Stamford Raffles menetapkan istana Buitenzorg menjadi istana kediaman resmi pada tahun 1811. Sejak itulah Gubernur Jenderal lebih banyak memerintah dari istananya ini, meski pusat pemerintahan tetap berada di Batavia. Raffles jugalah yang berperan menata kebun istana yang menjadi cikal-bakal inisiasi Kebun Raya Bogor.</p>
<p>Tahun 1834 Istana ini sempat mengalami kerusakan akibat Gempa yang ditimbulkan letusan Gunung Salak. Setelah hancur yang kedua kalinya, barulah tahun 1850 Istana Bogor dibangun kembali, tetapi tidak bertingkat lagi karena disesuaikan dengan situasi daerah yang sering gempa itu. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Albertus_Jacob_Duijmayer_van_Twist"><em>Albertus Jacob Duijmayer van Twist</em></a><em> </em>(1851-1856) bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19.</p>
<p>Pada tahun 1870, Istana Buitenzorg dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda">Hindia Belanda</a>. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tjarda_van_Starkenborg_Stachourwer">Tjarda van Starkenborg Stachourwer</a> yang terpaksa harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Immamura, pemeritah pendudukan Jepang tahun 1942.</p>
<p>Pada tahun 1950, setelah masa kemerdekaan, mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia, dan resmi menjadi salah satu dari Istana Presiden Indonesia. Sejak itu nama Istana Kepresidenan Bogor atau Istana Bogor mulai populer digunakan.</p>
<p>Berangsur angsur, bentuk bangunan Istana Bogor telah mengalami berbagai perubahan. sehingga yang tadinya merupakan rumah peristirahatan berubah menjadi bangunan istana dengan luas halamannya mencapai 28,4 hektar dan luas bangunan 14.892 m².</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:worddocument> <w:view>Normal</w:view> <w:zoom>0</w:zoom> <w:trackmoves /> <w:trackformatting /> <w:punctuationkerning /> <w:validateagainstschemas /> <w:saveifxmlinvalid>false</w:saveifxmlinvalid> <w:ignoremixedcontent>false</w:ignoremixedcontent> <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:alwaysshowplaceholdertext> <w:donotpromoteqf /> <w:lidthemeother>EN-US</w:lidthemeother> <w:lidthemeasian>X-NONE</w:lidthemeasian> <w:lidthemecomplexscript>X-NONE</w:lidthemecomplexscript> <w:compatibility> <w:breakwrappedtables /> <w:snaptogridincell /> <w:wraptextwithpunct /> <w:useasianbreakrules /> <w:dontgrowautofit /> <w:splitpgbreakandparamark /> <w:dontvertaligncellwithsp /> <w:dontbreakconstrainedforcedtables /> <w:dontvertalignintxbx /> <w:word11kerningpairs /> <w:cachedcolbalance /> </w:compatibility> <w:browserlevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:browserlevel> <m:mathpr> <m:mathfont m:val="Cambria Math" /> <m:brkbin m:val="before" /> <m:brkbinsub m:val=" " /> <m:smallfrac m:val="off" /> <m:dispdef /> <m:lmargin m:val="0" /> <m:rmargin m:val="0" /> <m:defjc m:val="centerGroup" /> <m:wrapindent m:val="1440" /> <m:intlim m:val="subSup" /> <m:narylim m:val="undOvr" /> </m:mathpr></w:worddocument> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:latentstyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="Normal (Web)" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:latentstyles> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style>< !   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; text-indent: 36pt;"><strong><em><span style="font-family: &amp;amp;amp;" lang="IN">Data &amp; Investigasi Kampoeng Bogor</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; text-indent: 36pt;"><em><span style="font-family: &amp;amp;amp;" lang="IN">Diolah dari berbagai sumber</span></em></p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 903px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:worddocument> <w:view>Normal</w:view> <w:zoom>0</w:zoom> <w:trackmoves /> <w:trackformatting /> <w:punctuationkerning /> <w:validateagainstschemas /> <w:saveifxmlinvalid>false</w:saveifxmlinvalid> <w:ignoremixedcontent>false</w:ignoremixedcontent> <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:alwaysshowplaceholdertext> <w:donotpromoteqf /> <w:lidthemeother>EN-US</w:lidthemeother> <w:lidthemeasian>X-NONE</w:lidthemeasian> <w:lidthemecomplexscript>X-NONE</w:lidthemecomplexscript> <w:compatibility> <w:breakwrappedtables /> <w:snaptogridincell /> <w:wraptextwithpunct /> <w:useasianbreakrules /> <w:dontgrowautofit /> <w:splitpgbreakandparamark /> <w:dontvertaligncellwithsp /> <w:dontbreakconstrainedforcedtables /> <w:dontvertalignintxbx /> <w:word11kerningpairs /> <w:cachedcolbalance /> </w:compatibility> <w:donotoptimizeforbrowser /> <m:mathpr> <m:mathfont m:val="Cambria Math" /> <m:brkbin m:val="before" /> <m:brkbinsub m:val=" " /> <m:smallfrac m:val="off" /> <m:dispdef /> <m:lmargin m:val="0" /> <m:rmargin m:val="0" /> <m:defjc m:val="centerGroup" /> <m:wrapindent m:val="1440" /> <m:intlim m:val="subSup" /> <m:narylim m:val="undOvr" /> </m:mathpr></w:worddocument> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:latentstyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="Normal (Web)" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:latentstyles> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 10]> <mce:style>< !   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:none; 	mso-hyphenate:none; 	text-autospace:ideograph-other; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--></p>
<p style="margin: 4.3pt 0cm 4.3pt 0.7pt; text-align: justify;"><span lang="DE">Pada suatu masa, selepas terjadinya kerusuhan di Batavia tahun 1744. Gustaff Willem Baron Van Imhoff, Penguasa pemerintah Hindia Belanda (VOC) mengadakan perjalanan ke Kampung Baru untuk melepas kepusingannya. Kampung Baru adalah sebuah kampung yang didirikan di Bogor setelah ekspedisi Scipio dan Tanuwijaya tahun 1607, membuka hutan Pajajaran. Dalam perjalanannya ini sang Gubernur Jendral begitu terkesima dengan keindahan dan kedamaian Kampung Baru. Tibalah rombongan Van Imhoff itu di sebuah tempat, sang Gubernur pun memutuskan untuk membangun sebuah tempat peristirahatan.</span></p>
<p style="margin: 4.3pt 0cm 4.3pt 0.7pt; text-align: justify;">Lalu sebuah bangunan rumah peristirahatan dibangun ditempat ini kurun waktu 1744-1750. Bahkan Van Imhoff sendirilah yang membuat sketsa dan mengawal pembangunannya. <span style="color: black;" lang="DE">Pembangunan awal istana ini berbentuk tingkat tiga, meniru arsitektur </span><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Blehheim_Palace&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span class="Internetlink"><em><span style="color: black;" lang="DE">Blehheim Palace</span></em></span></a><em><span style="color: black;" lang="DE">,</span></em><span style="color: black;" lang="DE"> di</span><span lang="DE"> Inggris.<span> </span>Sejak adanya rumah peristirahatan ini Bogor memiliki sebutan <em>Buitenzorg, </em>merujuk pada bahasa Belanda yang artinya &#8216;lepas dari kepenatan&#8217;.</span></p>
<p style="margin: 4.3pt 0cm 4.3pt 0.7pt; text-align: justify;"><span lang="DE">Keberadaan Gubernur Jenderal dengan rumah peristirahatan ini berdampak pada pengaturan-pengaturan wilayah untuk kepentingan pemerintahan kolonial. Pada 1752, saat terjadi peperangan antara Raja Banten melawan VOC, bangunan rumah peristirahatan ini tak luput dari serangan. Bangunan dihancurkan tanpa sisa, kecuali bagian sayap rumah. Setelah penghancuran barulah pada tahun 1754 Gubernur Jenderal Jacob Mossel membangun kembali rumah peristirahatan menjadi istana.<span> </span>Pada masa pemerintahan William Daendels (1808-1811), bangunan istana ditambah menjadi bangunan bertingkat dua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 4.3pt 0cm 4.3pt 0.7pt; text-align: justify;"><span lang="DE">Tonggak penting keberadaan istana kembali terjadi ketika Thomas Stamford Raffles menetapkan istana Buitenzorg menjadi istana kediaman resmi pada tahun 1811. Sejak itulah Gubernur Jenderal lebih banyak memerintah dari istananya ini, meski pusat pemerintahan tetap berada di Batavia. Raffles jugalah yang berperan menata kebun istana yang menjadi cikal-bakal inisiasi Kebun Raya Bogor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 4.3pt 0cm; text-align: justify;"><span lang="DE">Tahun 1834 Istana ini sempat mengalami kerusakan akibat Gempa yang ditimbulkan letusan Gunung Salak. Setelah hancur yang kedua kalinya, barulah</span><span style="color: black;" lang="SV"> tahun </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1850"><span class="Internetlink"><span style="color: black;" lang="SV">1850</span></span></a><span style="color: black;" lang="SV"> Istana Bogor dibangun kembali, tetapi tidak bertingkat lagi karena disesuaikan dengan situasi daerah yang sering gempa itu. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Albertus_Jacob_Duijmayer_van_Twist"><span class="Internetlink"><em><span style="color: black;" lang="SV">Albertus Jacob Duijmayer van Twist</span></em></span></a><em><span style="color: black;"> </span></em><span style="color: black;" lang="SV">(</span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1851"><span class="Internetlink"><span style="color: black;" lang="SV">1851</span></span></a><span style="color: black;" lang="SV">-</span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1856"><span class="Internetlink"><span style="color: black;" lang="SV">1856</span></span></a><span style="color: black;" lang="SV">) bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 4.3pt 0cm; text-align: justify;"><span style="color: black;" lang="SV">Pada tahun </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1870"><span class="Internetlink"><span style="color: black;" lang="SV">1870</span></span></a><span style="color: black;" lang="SV">, Istana Buitenzorg dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda"><span class="Internetlink"><span style="color: black;" lang="SV">Hindia Belanda</span></span></a><span style="color: black;" lang="SV">. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tjarda_van_Starkenborg_Stachourwer"><span class="Internetlink"><span style="color: black;" lang="SV">Tjarda van Starkenborg Stachourwer</span></span></a><span style="color: black;" lang="SV"> yang terpaksa harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal </span><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Imamura&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span class="Internetlink"><span style="color: black;" lang="SV">Immamura</span></span></a><span style="color: black;" lang="SV">, pemeritah pendudukan Jepang tahun 1942.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 4.3pt 0cm; text-align: justify;"><span style="color: black;" lang="IN">Pada tahun </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1950"><span class="Internetlink"><span style="color: black;" lang="IN">1950</span></span></a><span style="color: black;" lang="IN">, setelah masa kemerdekaan, mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia, dan resmi menjadi salah satu dari Istana Presiden Indonesia. Sejak itu nama Istana Kepresidenan Bogor atau Istana Bogor mulai populer digunakan.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;amp;amp; color: black;" lang="DE">Berangsur angsur, bentuk bangunan Istana Bogor telah mengalami berbagai perubahan. sehingga yang tadinya merupakan rumah peristirahatan berubah menjadi bangunan istana dengan luas halamannya mencapai 28,4 hektar dan luas bangunan 14.892 m².</span></p>
<p></mce:style></div>
<p></mce:style></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/02/dari-rumah-peristirahatan-ke-istana-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peran Panjang Handlestraat</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2011/02/peran-panjang-handlestraat/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2011/02/peran-panjang-handlestraat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 10:58:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=525</guid>
		<description><![CDATA[Handlestraat atau jalan perdagangan adalah nama sebuah jalan yang melintas di kawasan pecinan Bogor. Jalan ini merupakan bagian dari Groote Post Weg (Jalan Raya Pos) atau jalan Daendles yang dibangun tahun 1808. Rute jalan yang melintasi kawasan ini tembus hingga ke Cipanas. Bentuk rumah yang ada di sepanjang jalan ini memiliki ciri dan ke khas-an tersendiri. Selain rumah tinggal  bangunan tersebut juga berfungsi sebagai tempat berdagang. Nama Handlestraat mendukung keberadaan Pasar Bogor (Pasar Heubeul) yang sudah ada sebelum bangunan berdiri. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Handlestraat</em> atau jalan perdagangan adalah nama sebuah jalan yang melintas di kawasan pecinan Bogor. Jalan ini merupakan bagian dari <em>Groote Post Weg</em> (Jalan Raya Pos) atau jalan <em>Daendles</em> yang dibangun tahun 1808. Rute jalan yang melintasi kawasan ini tembus hingga ke Cipanas. Bentuk rumah yang ada di sepanjang jalan ini memiliki ciri dan ke khas-an tersendiri. Selain rumah tinggal  bangunan tersebut juga berfungsi sebagai tempat berdagang. Nama <em>Handlestraat</em> mendukung keberadaan Pasar Bogor (Pasar Heubeul) yang sudah ada sebelum bangunan berdiri. Kini jalan tersebut dikenal dengan nama jalan Suryakencana.</p>
<p>Latar belakang berkembangnya kawasan ini terjadi mulai  tahun 1835, dimana pemerintah Hindia Belanda melalui Gubernur Jendral JC Baud mengeluarkan kebijakan <em>rasialisme</em> yang dinamakan <em>Wijkenstelsel</em>. Kebijakan ini mengatur zona / wilayah permukiman berdasarkan kelompok etnis tertentu. Kebijakan ini pada akhirnya melarang orang Tionghoa tinggal ditengah kota, serta mengharuskan mereka membangun ghetto-gettho (pecinan) sebagai tempat tinggal. Tujuannya agar mereka tidak berbaur dengan kelompok masyarakat lain, terutama pribumi. Serta memudahkan pihak pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan pengotrolan. Karena kebijakan itulah orang Tionghoa akhirnya berkumpul dalam satu kawasan.</p>
<p>Di Bogor atau yang memiliki penyebutan <em>Buitenzorg</em>, kebijakan <em>Wijkenstelsel</em> diperjelas 10 tahun kemudian. Tepatnya pada 6 Juli 1845 Gubernur Jendral JJ Rochussen menetapkan keputusan pemerintah Hindia Belanda tentang peraturan permukiman di Kota Bogor. Bangsa Eropa  yang disamakan haknya  diberi izin membangun rumah di sebelah barat Jalan Raya Pos (saat ini terbagi menjadi dua jalan, yaitu Jl Sudirman dan Jl Juanda), mulai dari <em>Witte Paal</em> (pal putih) Pabaton sampai dengan sebelah selatan Kebun Raya dan Pakancilan. Sementara orang Tionghoa diberi peruntukan lahan di daerah dengan jalan raya sepanjang <em>Handlestraat </em>sampai tanjakan Empang. Dalam perkembangannya orang  Tionghoa  diberi  peran untuk memasok barang-barang kebutuhan (berdagang), peran mereka inilah yang kian meramaikan keberadaan pasar Bogor.</p>
<p>Saat ini keberadaan Jl Suryakencana tetap memiliki peran yang sama, yaitu meneruskan perjalanan panjang <em>Handlestraat</em> sebagai denyut ekonomi masyarakat. Menjadi rujukan pedagang dari luar Bogor seperti pada masa lalu. Rekonstruksi Budaya di kawasan ini beberapa tahun terakhir kembali di hidupkan. Festival budaya Cap Go Meh di sepanjang jalan ini berjalan kembali setiap tahunnya.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>Data &amp; Investigasi Kampoeng Bogor</em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>Diolah dari berbagai sumber</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2011/02/peran-panjang-handlestraat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tim Jejak Masjid Sampaikan Hasil Temuan</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/09/tim-jejak-masjid-sampaikan-hasil-temuan/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/09/tim-jejak-masjid-sampaikan-hasil-temuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 01:29:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[Tuntas sudah perjalanan tim Jejak Masjid Tua Kota Bogor 2010. Perjalanan itu menghasilkan pengalaman yang tak terkira, bayangkan saja terhitung sejak 22 hingga 28 Agustus lalu mereka bersama-sama masuk ke masjid-masjid bersejarah di kota Bogor. Menggali cerita dan fakta keberadaan masjid dan lingkungan sekitarnya. Dari kisah yang didapatkan, mereka akhirnya menemukan data-data terkait perjalanan Islam di kota Bogor. Dari pengalaman ini akhirnya tumbuh semangat untuk peduli dengan sejarah tinggalan Bogor lainnya. Pada Jum&#8217;at (3/9) lalu, kru Kampoeng Bogor bersama peserta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tuntas sudah perjalanan tim Jejak Masjid Tua Kota Bogor 2010. Perjalanan itu menghasilkan pengalaman yang tak terkira, bayangkan saja terhitung sejak 22 hingga 28 Agustus lalu mereka bersama-sama masuk ke masjid-masjid bersejarah di kota Bogor. Menggali cerita dan fakta keberadaan masjid dan lingkungan sekitarnya. Dari kisah yang didapatkan, mereka akhirnya menemukan data-data terkait perjalanan Islam di kota Bogor. Dari pengalaman ini akhirnya tumbuh semangat untuk peduli dengan sejarah tinggalan Bogor lainnya.</p>
<p>Pada Jum&#8217;at (3/9) lalu, kru Kampoeng Bogor bersama peserta jejak masjid lainnya kembali mendatangi empat masjid yang menjadi sasaran penggalian informasi. Seperti yang sudah diagendakan, kedatangan mereka kali ini adalah menyerahkan hasil perjalanan tim Jejak Masjid, berupa poster, Foto dan Film dokumenter kepada pengurus masjid. Selain itu mereka juga menyampaikan sedikit titipan sembako dari komunitas lain&nbsp; untuk dikelola oleh masjid.</p>
<p>Tujuan pertama tim ini adalah&nbsp; mendatangi Masjid Al Falak yang berada di Pagentongan. Kedatangan mereka disambut hujan deras yang cukup lebat, tim pun sempat berteduh sebelum tiba di lokasi. Setelah sukses di masjid Al Falak, Tim Jejak Masjid kemudian meluncur ke arah Empang untuk mendatangi masjid Atthohiriyah. Masjid yang berada persis dipinggir alun-alun Empang tersebut menjadi lokasi yang kedua. Karena tim tidak menemukan Pak Wawan, sang takmir masjid, maka rumah beliaulah yang menjadi sasaran tim untuk menyampaikan hasil perjalanan mereka. Meski senang dan mengucapkan terimakasih, Pak Wawan ternyata sempat&nbsp; kaget dengan kedatangan Tim Jejak Masjid. </p>
<p>Kondisi yang sama juga ditemui saat mendatangi masjid Noer Al Athas di jalan Lolongok, tak jauh dari Atthohiriyah. Ustadz Syarif yang menerima kedatangan tim juga merasa kaget dan menyampaikan ucapan terima kasih. Beliau berencana akan menyampaikan hasil ini kepada Habib Hasan yang saat itu sedang berada di Mekkah. </p>
<p>Pada lokasi terakhir, yaitu Masjid Al Mustofa, lagi-lagi tim dihadang hujan lebat. Untungnya sebagian dari mereka sudah berhasil mencapai masjid lebih dahulu, sehingga penyerahan hasil pun berhasil dilaksanakan dengan sukse. Akhirnya ditempat inilah seluruh tim diajak berbuka puasa bersama oleh pak Mukti, sang takmir Masjid. Menu kurma dan air zamzam menjadi penuntas dahaga, setelah menempuh perjalanan keliling Masjid.</p>
<p>Selesai menyerahkan seluruh hasil karya yang merupakan cuplikan&nbsp; temuan tim, akhirnya Tim Jejak Masjid kembali menembus hujan untuk berpisah. Sebelum&nbsp; berpisah mereka memantabkan hati baha suatu saat mereka harus bertemu kembali di jejak perjalanan lainnya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/09/tim-jejak-masjid-sampaikan-hasil-temuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pameran Yang Terkendala Hujan</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/pameran-yang-terkendala-hujan/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/pameran-yang-terkendala-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 15:02:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu, dengan tenaga dan semangat yang tersisa, seluruh tim Jejak Masjid menyerbu Taman Kencana. Kedatangan mereka kali ini bukan untuk menginvestigasi cerita sejarah lokasi setempat. Melainkan mempublikasikan hasil temuan mereka setelah sepekan ini mereka berkegiatan. Hari itu (28/8) kelompok Al Mustofa, Atthohiriyah, Al Falak dan An-Nur kompak memamerkan foto dan desain grafis isu dan sejarah yang ada di tiap masjid. Awalnya pameran berjalan lancar, selain memajang foto foto luarbiasa dan karya grafis masing-masing kelompok. Agenda hari itu juga diwarnai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu, dengan tenaga dan semangat yang tersisa, seluruh tim Jejak Masjid menyerbu Taman Kencana. Kedatangan mereka kali ini bukan untuk menginvestigasi cerita sejarah lokasi setempat. Melainkan mempublikasikan hasil temuan mereka setelah sepekan ini mereka berkegiatan. Hari itu (28/8) kelompok Al Mustofa, Atthohiriyah, Al Falak dan An-Nur kompak memamerkan foto dan desain grafis isu dan sejarah yang ada di tiap masjid.</p>
<p>Awalnya pameran berjalan lancar, selain memajang foto foto luarbiasa dan karya grafis masing-masing kelompok. Agenda hari itu juga diwarnai ajang pertemuan semua anggota tim. Baik peserta, pendamping bahkan narasumber. Mereka pun saling berceloteh mengisahkan pengalaman masing-masing selama dilapangan. Pak Mukti, narasumber dari masjid Al Mustofa juga terlihat antusias menekuni karya yang dipamerkan. Apalagi salah satu poster terdapat gambar masjid dan dirinya, wajah bangga pun menyeruak darinya. Lantas pada siapa saja yang ada didekatnya pak Mukti kembali menegaskan bahwa Masjid Al Mustofa di kampungnya, adalah masjid yang tertua. Cerita ini ia lengkapi dengan kisah makam pendiri, tak jauh dari  dekat Masjid.</p>
<p>Sayangnya keriuhan itu tidak berlangsung lama, mendung yang menggalayut sore itu benar-benar menumpahkan airnya. Anggota tim Jejak Masjid langsung mengamankan barang-barang, termasuk buku-buku yang digelar perpustakaan Sabar (KALAM). Selanjutnya mereka diarahkan menuju KALAM untuk persiapan berbuka dan screening film Jejak 4 masjid.</p>
<p>Saat screening film pun tak kalah serunya, empat film hasil besutan empat director itu menuturkan kisah dan sejarah 4 masjid. Kerja keras mereka selama seminggu ini ternyata mampu menghasilkan film yang luar biasa.</p>
<p>Hasil film dan seluruh karya yang dihasilkan dari Jejak Masjid Tua Kota Bogor ini rencananya akan diserahkan kepada masing-masing masjid yang bersangkutan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/pameran-yang-terkendala-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Pameran Menjelang</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/saat-pameran-menjelang/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/saat-pameran-menjelang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 20:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Masuki hari keenam, kesibukan semua peserta tim makin meningkat  saja. Hampir semua berkutat pada alat produksi masing-masing. Mulai dari yang  ngetik artikel laporan, collecting dan editing foto hingga produksi poster. Setiap tim tampak intens berkumpul untuk membahas isu-isu yang perlu diungkap. Kelompok Atthohiriah kali ini mengambil home base di KALAM, anggota tim yang datang adalah Nadia, Elly, Raphael dan Jojo. Tanti dan Chandra berhalangan hadir sehubungan dengan aktivitas rutinnya. Kelompok ini mulai membagi tugas, siapa yang membuat laporan dan siapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masuki hari keenam, kesibukan semua peserta tim makin meningkat  saja. Hampir semua berkutat pada alat produksi masing-masing. Mulai dari yang  ngetik artikel laporan, collecting dan editing foto hingga produksi poster. Setiap tim tampak intens berkumpul untuk membahas isu-isu yang perlu diungkap.</p>
<p>Kelompok Atthohiriah kali ini mengambil home base di KALAM, anggota tim yang datang adalah Nadia, Elly, Raphael dan Jojo. Tanti dan Chandra berhalangan hadir sehubungan dengan aktivitas rutinnya. Kelompok ini mulai membagi tugas, siapa yang membuat laporan dan siapa yang berproduksi. Targetnya jelas, yaitu pameran pada Sabtu sore ini. Yusuf Abdul Fatah atau yang memaksa dipanggil Kkcup, begitu sabar mendampingi tim. Terutama jurnalis yang memang butuh teman diskusi. Mereka mengerjakan inventarisir data temuan, kemudian membuatnya menjadi sebuah laporan akhir yang utuh.</p>
<p>Kelompok Al Mustofa yang selama itu tak terdeteksi aktivitas diskusinya, kali ini meramaikan suasana rumah gallery Kampoeng Bogor. Darmawan, Yeni, Rizeki dan Lutfi aktif membedah materi temuan mereka. Ridha yang sengaja hadir di kelompok diskusi tersebut turut memberikan masukan materi, utamanya terkait masalah perdebatan dan logika tahun berdirinya Masjid Al Mustofa. Dengan bahan yang ada tim ini rencanaya langsung mengeksekusi untuk dijadikan laporan akhhir tim.</p>
<p>Berbeda dengan dua tim di atas, kali ini kelompok An Nur agak kurang lancar. Konfirmasi pertemuan pagi/siang tidak terjadi di kelompok mereka. Akibatnya sang pendamping Abdul manaf terlihat gelisah. Maklum saja anggota kelompok yang hadir Cuma satu orang, Rosi. Namun selepas maghrib barulah wajah-wajah lainnya mulai tampak. Ibarat sinetron kejar tayang, tim ini langsung berkutat dengan tugasnya.</p>
<p>Kelompok Al Falak yang laporannya sudah masuk sebagian juga tak banyak melakukan aktifitas pertemuan or turun lapangan. Tetapi kelompok ini langsung menyambangi Kampoeng Bogor seusai buka puasa. Lingga, sang pemandu kelompok langsung menginstruksikan anggota tim untuk menyelesaikan tugas-tugas tim Fotografi. Untuk desain grafis belum terlihat keberadaannya. Kelompok ini akhirnya terkendala stok foto yang kurang banyak mendukung. Untungnya mereka menemukan strategi untuk berproduksi.</p>
<p>Selain aktifitas anggota kelompok, para pendamping, baik kelompok maupun kapasitas tak kalah sibuknya. Mereka terus mengawal ketat aktivitas tim. Bahkan sempat juga dilakukan briefing akhir terkait kesiapan tom untuk pameran Sabtu sore nanti.</p>
<p>Hasil briefing&#8230;The Show Must Go On&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/saat-pameran-menjelang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alun-Alun Empang, Saksi Sejarah Sadisnya Hukum Picis</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/alun-alun-saksi-sejarah-sadisnya-hukum-picis/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/alun-alun-saksi-sejarah-sadisnya-hukum-picis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 20:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN YUSUF ABDUL FATAH&#8211;Bila mengenang Alun-alun tempo dulu, para sesepuh pasti terngiang akan hukum picis. Yaitu sebuah hukuman yang membuat terhukum mengalami rasa pedih tak terkira sebelum mati. Cara eksekusi hukumannya pun dilakukan ditengah-tegah lapangan untuk di pertontonkan pada masyarakat sebagai bahan pelajaran untuk tidak meniru kejahatan yang dilakukannya. Pada awalnya, Hukum Picis sendiri terilhami dari zaman Majapahit. Jenis hukumannya pun bervariasi, misalnya terhukum diikat di tonggak kayu atau pohon. Selanjutnya perlahan-lahan sekujur tubuhnya disayat-sayat dengan pisau atau belati, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN YUSUF ABDUL FATAH&#8211;</strong>Bila mengenang Alun-alun tempo dulu, para sesepuh pasti terngiang akan hukum picis. Yaitu sebuah hukuman yang membuat terhukum mengalami rasa pedih tak terkira sebelum mati. Cara eksekusi hukumannya pun dilakukan ditengah-tegah lapangan untuk di pertontonkan pada masyarakat sebagai bahan pelajaran untuk tidak meniru kejahatan yang dilakukannya.</p>
<p>Pada awalnya, Hukum Picis sendiri terilhami dari zaman Majapahit. Jenis hukumannya pun bervariasi, misalnya terhukum diikat di tonggak kayu atau pohon. Selanjutnya perlahan-lahan sekujur tubuhnya disayat-sayat dengan pisau atau belati, dan lukanya dioleskan cuka atau ditaburi garam. Begitu terus hingga mati. Bayangkan betapa pedihnya. Hal ini dimaksudkan agar terhukum berada dalam situasi di mana mati terasa lebih “melegakan” ketimbang hidup. Dalam Serat Sekar Setaman, buku koleksi Museum Sanapustaka, Keraton Surakarta, melaporkan adanya hukuman yang paling ditakuti pada Zaman Mataram, yaitu hukum ‘picis’.</p>
<p>Tahun 1811, atas usul dari <strong>Gubernur Jenderal Sir Stamford Thomas Raffles </strong>(1811-1816), hukuman yang bersifat potong-memotong tersebut sedikit demi sedikit mulai dihapuskan, hingga awal abad 19 pada periode kekuasaan Paku Buwono IV hukum tersebut telah tergantikan dengan perpaduan antara hukum Islam dan hukum kolonial. Namun eksekusi hukuman yang dilakukan di tengah Alun-alun masih tetap berlanjut, sebagai tindakan preventif dari penguasa pada masa itu.<br />
Pada masa keislaman telah memasuki tanah Jawa, hukuman kepada para kriminal dijatuhkan dengan merujuk pada syariat Islam. Misalnya, ada hukuman potong tangan, potong kaki, potong jari, potong telinga, hingga hukuman mati. Sedangkan dalam hukuman mati ada dua cara, yaitu diadu dengan macan (mirip yang terjadi di Romawi) dan picis yang disesuaikan dengan syariat Islam. Keduanya sama-sama digelar di alun-alun dan dipertontonkan khalayak ramai di alun-alun.</p>
<p>Begitupun dengan Alun-alun Empang yang berada di Kota Bogor. Menurut <strong>H</strong> <strong>Abdurrahman Askar (84 th)</strong> salah seorang sesepuh Empang ini menyebutkan bahwa saat dia berumur sembilan tahun, Dia sempat menyaksikannya beberapa proses eksekusi hukum picis tersebut, diantaranya yaitu ada beberapa orang perampok yang digantung dan ada juga yang dipotong tangan dan kakinya diatas sebuah batu besar yang berada di tengah-tengah Alun-alun Empang tersebut. Hingga 30 tahun lalu, batu tempat eksekusi tersebut baru dipindah dan dihancurkan sebagai tanda berakhirnya hukum picis tersebut di tanah Bogor.</p>
<p>Lambat laun seiring perkembangan zaman, hukuman mati di Indonesia pun makin menyesuaikan keadaan. Dan pada abad ke-20 mulai diterapkan hukuman tembak mati yang masih langgeng hingga kini. <strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah pendamping utama kelompok Atthohiriah)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/alun-alun-saksi-sejarah-sadisnya-hukum-picis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makam Abah Falak Sering Dikunjungi</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/makam-abah-falak-sering-dikunjungi/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/makam-abah-falak-sering-dikunjungi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 19:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN RIZKY DAMAYANTI&#8212;Huy, guys!!!!!&#8230;Ternyata di kota Bogor terdapat beberapa masjid tua loch, salah satunya adalah masjid Al-Falak yang terdapat di desa Pagentongan kelurahan Loji kecamatan Bogor Barat, yang dulunya masyarakat di sekitar sana masih kental dengan agama Hindu serta ilmu-ilmu perdukunan. Proses pembangunan Masjid Al-Falak di awali pada tahun 1901. Wow!&#8230; Sudah cukup tua juga yach. Karena usianya yang sudah cukup tua masjid Al-Falak pernah di renovasi sampai tiga kali sehingga menghilangkan bentuk aslinya. Oh Iya&#8230;. sebelum kita melangkah lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN RIZKY DAMAYANTI&#8212;</strong>Huy, guys!!!!!&#8230;Ternyata di kota Bogor terdapat beberapa masjid tua loch, salah satunya adalah masjid Al-Falak yang terdapat di desa Pagentongan kelurahan Loji kecamatan Bogor Barat, yang dulunya masyarakat di sekitar sana masih kental dengan agama Hindu serta ilmu-ilmu perdukunan. Proses pembangunan Masjid Al-Falak di awali pada tahun 1901. Wow!&#8230; Sudah cukup tua juga yach. Karena usianya yang sudah cukup tua masjid Al-Falak pernah di renovasi sampai tiga kali sehingga menghilangkan bentuk aslinya.</p>
<p>Oh Iya&#8230;. sebelum kita melangkah lebih jauh tentang masjid Al-Falak. Apakah kalian tahu apa arti dari Al-Falak itu sendiri? Falak adalah ilmu perbintangan atau Astronomi. Kenapa masjid itu di berikan nama Al-Falak ?, jawabannya karena KH. Falak atau  yang memiliki  nama asli Tubagus Muhammad Falak adalah pendiri dari masjid itu. Selain mendirikan masjid ternyata Abah Falak juga mendirikan pesantren lohh guys..!!!!. Tentang Masjid AL-Falak , ternyata dulu presiden pertama kita  Ir Soekarno atau biasa di panggil Bung Karno pernah mendatangani Masjid AL-Falak tiap Senin malam dan Kamis malam pukul 23.00 WIB. Saat itu beliau bertemu langsung dengan Abah Falak, katanya sih bung karno datang menemui abah Falak untuk di mintai nasehatnya&#8230;.Kerrreeeennn kannn&#8230;.!!!!!!</p>
<p>Kekaguman kita bukan hanya di situ lohh&#8230;karena selain bung karno yang pernah mendatangi masjid itu .. mantan Presiden Soeharto dan para pejabat seperti  Gubernur pernah juga ikut bertamu di sana. Oh. Ya apa kalian tahu menteri Agama kita yang sekarang ???</p>
<p>Yupz&#8230;Bener banget, Bapak Suryadama Ali. Ternyata beliau adalah alumnus dari pesantren Al-Falak. Subhanallah!!. Di samping itu ada beberapa tradisi yang ditinggalkan Abah Falak, yaitu tradisi pagentongan yang di peringati setiap Maulid Nabi tiba dengan mengumpulkan ambeng-ambeng dari masyarakat setempat yang di ikuti oleh 5 RT. Kemudian di kumpulkan di Masjid Al Falak untuk di bagikan lagi kepada masyarakat dengan diiringi oleh tim marawis, istilahnya dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat&#8230;hhehehehe. Perayaan itu di hadiri hampir 4000 orang, wow buanyakk banget, karena perayaan itu sangat unik dan menarik. Bahkan acara di desa pagentongan ini pernah di liput oleh televisi nasional.</p>
<p>Selain tradisi pagentongan ada juga tradisi pasaran . Tahu ga tradisi pasaran &#8230;!?. Tradisi pasaran yaitu pengajian besar pada bulan Ramadhan untuk menamatkan suatu kitab tertentu yang di hadiri oleh para santri senior dan beberapa kiai yang datang dari berbagai daerah yang berjauhan.  Akan tetapi tradisi itu sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat Pagentongan.  Huuff&#8230;sayang banget yach guys &#8230;!!</p>
<p>Saat ini hanya tradisi pagentonganlah yang masih tetap dilakukan oleh masyarakat pagentongan.</p>
<p>Abah Falak dikenal sebagai orang yang dermawan, rendah hati, tidak memandang status sosial setiap tamu yang mendatanginya karena sifat yang ia miliki itu, banyak peziarah yang sengaja datang dari luar kota hanya untuk berziarah ke makam Abah Falak yang terdapat di areal komplek Pondok Pesantren Al-Falak. Bahkan dihitung-hitung ada sepuluh bus yang silih berganti menempati tempat parkir di sekitar makam beliau. Mereka berkunjung ke makam Abah Falak saat menjelang Ramadhan dan peringatan Maulid Nabi tiba.</p>
<p>Abah Falak wafat pada tahun 1972 diusianya yang ke 130 tahun, beliau meninggal karena sakit ringan yang dideritanya.  Beliau juga meninggalkan  tujuh orang istri dan beberapa anaknya. Desa pagentongan adalah saksi bisu tenggelamnya Masjid Al Falak beserta sejarahnya, tetapi jasa dari abah Falak terhadap desa itu tidak akan pernah hilang begitu saja dan tidak pernah tenggelam seperti masjid dan sejarahnya.</p>
<p>Nah gimana dengan ceritanya guys&#8230;seeruu bukan ??? Hmm&#8230;.sebagai generasi muda kita harus lebih mengenali kota kita sendiri begitupun dengan sejarahnya dan jangan biarkan sejarah yang ada di kota kita hilang begitu saja karena di makan zaman atau ditelan oleh waktu. Ingat kata Bung Karno Jasmerah (Jangan Pernah Lupakan sejarah)</p>
<p>Okey guys&#8230;Semoga tulisan ini bermanfaat buat kalian&#8230;. Amien</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah Jurnalis pada kelompok Al Falak)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/makam-abah-falak-sering-dikunjungi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilas Abah Falak</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/sekilas-abah-falak/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/sekilas-abah-falak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 18:50:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN FITRI SELASTYANING GAYATRI&#8211;Abah Falak adalah seorang ulama kharismatik yang lahir di Banten pada tahun 1842 masehi, tepatnya di Pondok Pesantren Sabi, Desa Purbasari Kabupaten Pandeglang Banten. Nama asli beliau sendiri adalah KH.Tubagus Muhammad Falak Abbas bin KH. Tubagus Abbas, sedangkan nama kecil beliau adalah Tubagus Muhammad, tetapi ada juga yang mengatakan nama kecil beliau adalah Abdul Halim kemudian diubah menjadi Abdul Haris. Sedangkan gelar falak itu sendiri diberikan oleh gurunya Syekh Sayyid Afandi Turqi, pada saat beliau mempelajari ilmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LAPORAN FITRI SELASTYANING GAYATRI&#8211;Abah Falak adalah seorang ulama kharismatik yang lahir di Banten pada tahun 1842 masehi, tepatnya di Pondok Pesantren Sabi, Desa Purbasari Kabupaten Pandeglang Banten. Nama asli beliau sendiri adalah KH.Tubagus Muhammad Falak Abbas bin KH. Tubagus Abbas, sedangkan nama kecil beliau adalah Tubagus Muhammad, tetapi ada juga yang mengatakan nama kecil beliau adalah Abdul Halim kemudian diubah menjadi Abdul Haris. Sedangkan gelar falak itu sendiri diberikan oleh gurunya Syekh Sayyid Afandi Turqi, pada saat beliau mempelajari ilmu khasaf dan falak (perbintangan-red) di Mekkah.</p>
<p>Sejak kecil beliau diasuh oleh ayahandanya KH. Tubagus Abbas dan ibundanya Ratu Quraysin. Ayahnya sendiri adalah keturunan keluarga kesultanan Banten, silsilah dari Syaikh Syarif Hidayatullah, sedangkan ibunya ratu Quraysin merupakan keturunan dari Sultan Banten.</p>
<p>Ayahandanya KH. Tubagus Abbas merupakan seorang ulama besar di Banten. Ia merupakan pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Sabi, dari beliaulah pertama kali Abah Falak mendapat pendidikan dalam bidang baca tulis Al Qur’an, Sufi dan terutama pemantapan Aqidah Islam. Saking cintanya pada ilmu agama beliau sampai pernah mengembara di usia yang sangat muda yaitu 15 tahun. Ia berguru pada ulama Banten dan Cirebon untuk menuntut dan memperdalam ilmunya.</p>
<p>Melalui garis keturunan dari Ayahnya. Abah Falak berasal dari keturunan keluarga besar kesultanan di Banten, bahkan merujuk kepada silsilah keluarganya, Abah Falak termasuk keturunan salah seorang mubalighin utama (Walisongo) yang memiliki putra bernama Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Djati.</p>
<p>Pada usia 17 tahun tepatnya tahun 1857 untuk pertama kalinya beliau berangkat ke tanah suci untuk menimba ilmu selama kurang lebih 21 tahun. Beberapa bidang keilmuan yang beliau pelajari dan perdalam hingga ke Timur Tengah antara lain ilmu Tafsir Al-Qur&#8217;an (dari Syaikh Nawawi Al-Bantany dan Syaikh Mansur Al-Madany), ilmu Hadits (dari Sayyid Amin Quthbi), ilmu Tasawwuf (dari Sayyid Abdullah Jawawi), ilmu Falak (dari Affandi Turki), ilmu Fiqh (dari Sayyid Ahmad Habsy, Sayyid Baarum, Syaikh Abu Zahid dan Syaikh Nawawi Al-Falimbany), ilmu Hikmat dan ilmu (dari Syaikh Umar Bajened-Makkah, Syaikh Abdul Karim dan Syaikh Ahmad Jaha-Banten) dan beberapa ulama besar lainnya antara lain Syaikh Ali Jabra, Staikh Abdul Fatah Al-Yamany, Syaikh Abdul Rauf Al-Yamany, Sayyid Yahya Al-Yamany, Syaikh Zaini Dahlan-Makkah, dan ulama-ulama besar dari Banten diantaranya, Syaikh Salman, Syaikh Soleh Sonding, Syaikh Sofyan dan Syaikh Sohib Kadu Pinang.</p>
<p>Selama berada di mekkah beliau tinggal bersama Syekh Abdul Karim, dari Syekh Abdul Karim beliau mendapatkan kedalaman ilmu thorekat dan tasawuf, bahkan oleh Syekh Abdul Karim yang dikenal sebagai seorang Wali Agung dan ulama besar dari tanah Banten yang menetap di Mekah itu, Abah Falak dibai’at hingga mendapat kepercayaan sebagai mursyid (guru besar) Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.</p>
<p>Pada tahun 1878 beliau kembali ke tanah air. Beliau sempat tinggal di tempat kelahirannya Pandeglang Banten dan mendapat kepercayaan memimpin Pondok Pesantren Sabi yang ditinggalkan ayahandanya.</p>
<p>Tetapi seperti perjalanan seorang mubalighin pada umumnya, aktivitas da’wah dan tablignya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam tidak akan terhenti sampai disana. Sebagai wujud untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmunya, sejak tahun itu beliau mulai melancarkan aktivitas tablig dan da’wah secara estafet. Dimulai dari daerah Pandeglang, Banten hingga sampai ke Pagentongan Bogor. Disana beliau mendapatkan seorang istri yang bernama Siti Fatimah, dari Siti Fatimah beliau  kemudian dikaruniai seorang putra yang bernama Tubagus Muhammad Thohir atau yang lebih dikenal dengan bapak Acenk. Dari Tb.Muh.Thohir lahirlah beberapa orang cucu dan buyut yang sekarang beberapa diantaranya mengabdi di Pesantren Al-Falak dan sekitarnya. Abah falak bermukim di pagentongan hingga akhir hayatnya.</p>
<p>Abah falak merupakan seorang ulama yang kharismatik, hingga saat ini beliau telah tiada makamnya masih sering diziarahi oleh banyak orang dari berbagai penjuru tanah air, bahkan oleh para pejabat Negara. Ini menunjukan suatu bukti bahwa semasa hidupnya beliau memiliki kedalaman ilmu dan pengaruh yang sangat luas diberbagai khayalak.</p>
<p>Pernyataan seperti itu didukung oleh pengakuan beberapa ulama besar termasuk para Habib di nusantara, mereka memberikan pengakuan bahwa abah Falak merupakan seorang waliyullah, hal itu pernah disampaikan oleh Habib Umar Bin Muhammad bin Hud Al-Attas ( Cipayung ), Habib Soleh Tanggul Jawa Timur dan Habib Ali Al Habsyi Kwitang, Jakarta .</p>
<p>Salah satu karomah Abah Falak adalah ketika tiga hari menjelang wafatnya beliau sempat dikunjungi oleh para gurunya yang telah tiada, seperti Syekh Nawawi Al Bantani, Syekh Said Abdul Turqi, Syekh Abdul Karim bahkan juga Syekh Abdul Qodir Jailani. Ada juga yang mengatakan beliau bisa mengetahui apa maksud dan tujuan orang yang akan datang padanya. Selain itu diterangkan pula, bahwa Abah Falak sering melakukan perjalanan singkat antara Pagentongan–Banten. Selama di Banten beliau menjadi seorang ulama besar yang menjadi pusat kunjungan berbagai kalangan masyarakat Banten. Artinya, disana dapat dilihat tidak semata-mata seorang individu yang memiliki pengaruh luas. Tapi, jelas ada kontek kekaromahan yang dimilikinya dan diyakini khalayak masyarakat yang tidak mungkin dapat dituangkan secara keseluruhan didalam tulisan yang serba singkat ini.</p>
<p>“ Subhanallah – Tabarakallah. Abah Falak itu seorang yang Alim, Wali, ‘allamah, perawakannya kecil, kulitnya putih berseri. Beliau sangat ramah dan selalu tersenyum kepada yang menyapanya!” ucap KH. Zein, orang yang pernah menjadi pengawal pribadi abah falak.</p>
<p>Lebih jauh, lelaki keturunan kelima dari Abah Falak itu menuturkan ¨Abah Falak tinggi badannya sekitar 150 cm, Abah selalu memakai udeng (sorban yang dililitkan dikepala-red) , wajahnya selalu berseri, tutur katanya lembut namun tegas dan jelas. Bahkan dikagumi oleh semua orang ,baik dengan para ulama, habib dan sahabat-sahabatnya yang datang bersilaturahmi kepadanya.”</p>
<p>“Abah Falak dalam berbicara selalu menggunakan bahasa Arab yang fasih, sedangkan kalau kepada santri-santri dan tamunya selalu menggunakan bahasa sunda atau bahasa Indonesia.” Lanjut KH. Zein.</p>
<p>&#8221; Selain ahli Falak, abah juga seorang ahli zikir dan tarekat, setiap harinya beliau tidak pernah lepas dari tasbih, bahkan Abah Falak selalu mengingatkan supaya mulut kita jangan sampai kering, tetapi harus basah dengan berzikir, membaca istigfar dan Solawat Nabi. Abah Falak, termasuk ulama besar yang selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuhnya Karena itu sudah menjadi kebiasaan setiap pagi memakan dua telur ayam kampung, kemudian jalan-jalan sambil melihat-lihat pondok pesantren, madrasah, majlis ta&#8217;lim dan masjid ¨ tutur KH Zein</p>
<p>Semasa hidupnya Abah Falak dikenal sebagai seorang yang dermawan, banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta tolong dan beliau selalu memberikan pertolongan kepada orang-orang yang meminta pertolongan. Yang tidak kalah menarik menurut penuturan KH. Zein, bahwa apabila kedatangan tamu yang niatnya tidak bagus, maka beliau seperti orang tuli, Pernah suatu saat Abah Falak kedatangan tamu yang minta nomor togel. Pada saat orang itu mengutarakan maksudnya, Abah Falak bertanya berulang kali seolah-olah sama sekali tidak mendengar apa yang diutarakan orang itu, bahkan secara tiba-tiba , Abah Falak menyuruh orang itu pulang .</p>
<p>Subhanallah, sungguh amalan dan keilmuannya menjadi wasiat yang teramat berharga bagi kita semua, sekalipun setelah beliau wafat. Abah falak wafat pada tanggal 19 Juli 1972M atau 8 Jumadil Akhir 1392H, yang di usianya yang ke 130 tahun. Beliau dimakamkan di areal komplek Pondok Pesantren Al Falak yang tidak jauh dari Masjid Al Falak. Beliau meninggal karena sakit ringan. hampir seluruh ulama dan Habib termasuk masyarakat ditanah air banyak yang ikut mensholatkan dan mengantarkan ketempat peristirahatannya yang terakhir</p>
<p>Sekarang Pondok Pesantren Al-Falak dikelola oleh buyutnya (generasi IV) Abah Falak yang tinggal di Pagentongan, dan Pondok Pesantren Al-Falak tetap konsisten untuk membantu pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang sangat islami, insya Allah.</p>
<p>-Dikutip dan diolah dari berbagai sumber-</p>
<p><em>(Penulis adalah Jurnalis pada kelompok Al Falak)</em><em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/sekilas-abah-falak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Terakhir Ekspedisi di Atthohiriah</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/hari-terakhir-ekspedisi-di-atthohiriah/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/hari-terakhir-ekspedisi-di-atthohiriah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 16:59:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN ELLY FITRIA ROSALINA&#8211;Kiri…kiri…kiriiii mang (akhirnya supir angkot berhenti juga mobilnya). Pukul 10.55 WIB Elly sampai di tempat janjian dengan angggota tim At Thohiriyyah di depan masjid At Thohiriyyah. Belum pada datang, 11.15  koq belum pada datang juga ya..?. Secepat kilat jari-jari Elly mijit keypad HP terkirim ke kang ucup dan jojo. “Assalammualaikum, Jo ad dmn? dah nyampe nih” (sms ke jojo). Balasan dari jojo “Jo lg ngaterin pin dl, bntarn kstnya”. Kalau sms ke kang Ucup “Assalammulaikum, kang ad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN ELLY FITRIA ROSALINA&#8211;</strong>Kiri…kiri…kiriiii mang (akhirnya supir angkot berhenti juga mobilnya). Pukul 10.55 WIB Elly sampai di tempat janjian dengan angggota tim At Thohiriyyah di depan masjid At Thohiriyyah. Belum pada datang, 11.15  koq belum pada datang juga ya..?. Secepat kilat jari-jari Elly mijit keypad HP terkirim ke kang ucup dan jojo.</p>
<p>“Assalammualaikum, Jo ad dmn? dah nyampe nih” (sms ke jojo).</p>
<p>Balasan dari jojo</p>
<p>“Jo lg ngaterin pin dl, bntarn kstnya”.</p>
<p>Kalau sms ke kang Ucup</p>
<p>“Assalammulaikum, kang ad dmn..? Dah nyampe empang nih”.</p>
<p>11.30 WIB koq belum pada datang juga sih, mana diliatin sama bapak-bapak yang lewat lagi. Ada yang aneh ya perempuan  berdiri depan masjid pas hari jumat..?. Ehmmm…sms jojo lagi deh</p>
<p>“jo cpt dtg donk dr td dliatin m bapa2 yg lwt”.</p>
<p>“Af  jojo ksiangan coz td jojo dtnggalin ma tmn, sebel q” nah balasan dari jojo.</p>
<p>11.35 WIB&#8230;.Tiba-tiba tukang cincau datang ngegelar gerobaknya sangat tepat disamping Elly dan mulailah terjadi interaksi perkacapan mulai dari silsilah keluarganya, lama si mamang tukang cincau jualan, dan sedikit sejarah alun-alun dan aktivitas masjid.</p>
<p>“Saya asli Cianjur, anak ada lima dan cucu ada banyak. Saya jualan disini dah lama”.</p>
<p>“Ari alun-alun dulu teh tempat naon Pak ?”</p>
<p>“Alun-alun dulu na teh pasar rame ti isuk ka sonten, nah ku masjid teh dipageran upados eta pasar teu ngaluaskeun ka masjid”.</p>
<p>“Ari syalawatan teh tiap jumat..?”.</p>
<p>“Biasana kitu neng jumat aya nu syalawatan sareng manasik haji, napi salama bulan puasa teu aya”.</p>
<p>“Teras Idul Fitri seur delman sareng beca hias ?”.</p>
<p>“iya seur pisan nepi pinuh jalan teh”.</p>
<p>11.45 WIB, Rafael datang selang beberapa detik Jojo datang, nah mulailah kita berburu foto-foto jumatan.  Kemudian pukul 12.00 WIB kita menyebar, Jojo dan Rafael masuk ke dalam masjid i berbagi tugas mengambil moment-moment shalat jum’at di masjid At-Thohiriyyah. Jojo yang mendapat tugas mengambil foto ditengah-tengah jamaah langsung beraksi. Mengambil angle-angle yang tepat, dan Rafael mendapat tugas mengambil gambar dari lantai dua masjid. Ternyata banyak moment-moment bagus di dalam masjid At-Thohiriyyah yang mereka tangkap dengan lensa kamera.</p>
<p>“Dan bukan hanya saat berlangsungnya shalat jum’at aja moment-moment bagus itu kita dapatkan dengan lensa, tapi juga setelah selesai shalatpun moment bagus itu makin menampakkan identitas diri,” itu kata Jojo.</p>
<p>Dan di depan gerbang masjid terlihat beberapa ibu-ibu yang mengharapkan santunan dari jamaah masjid. Tentu saja itu adalah momen yang berharga pada hari terakhir ini. Dan  tanpa ragu lagi senjata kami pun dikeluarkan.</p>
<p>Sementara kami  sedang asyik mengambil gambar baru teringat kalau jojo ternyata terpisah dari kami. Elly pun mencoba menghubungi jojo lewat sms, tetapi sms balasan tak kunjung tampil di layar. Sambil menunggu Elly tidak lupa dengan orang rumah dan saat melihat pedagang papaya di depan tembok masjid, tertarik juga membeli beberapa papaya tersebut.</p>
<p>Setelah menunggu sekian lama Jojo pun tak kunjung datang dan Rafael pun terburu-buru karena mempunyai jadwal mengajar pada hari tersebut. Sehingga Rafael pun mencari jojo ke dalam masjid. Dan didalam terlihat jojo sedang “nungging” untuk mencari angle yang bagus. Saat ditegur pun jojo tetap asyik dengan aktivitasnya dan karena insting penasarannya Rafael pun ikut dengan sendirinya ikut mengambil gambar pilar-pilar masjid. Setelah puas akhirnya kami pun pulang (Sumber info tulisan : Elly, Januar, dan Rafael)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/hari-terakhir-ekspedisi-di-atthohiriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pastikan Tak Ada Sudut Yang Terlewat</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-fotografi-pastikan-tak-ada-sudut-yang-terlewat/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-fotografi-pastikan-tak-ada-sudut-yang-terlewat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 13:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Tak berbeda dengan tim Film, perjalanan susur masjid ini juga tak lengkap dengan kehadiran tim fotografi. Para ksatria berkamera ini dengan lincahnya membidik sudut-sudut masjid, seolah tak mau melewatkan objek begitu saja. Tim yang digawangi oleh Rony, Yutto, Deni dan Yudha ini tak kenal lelah mengikuti rangkaian jejak masjid. Tidak sekedar mengambil gambar, mereka juga mendampingi para peserta minat foto yang diikuti oleh Andri Jivanta, Darmawan Mega Permana, Indri guli, Angga Lesmana, Elly Fitria, Jojo, Raphael, Rosi, Fawas dan Oni. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak berbeda dengan tim Film, perjalanan susur masjid ini juga tak lengkap dengan kehadiran tim fotografi. Para ksatria berkamera ini dengan lincahnya membidik sudut-sudut masjid, seolah tak mau melewatkan objek begitu saja. Tim yang digawangi oleh Rony, Yutto, Deni dan Yudha ini tak kenal lelah mengikuti rangkaian jejak masjid. Tidak sekedar mengambil gambar, mereka juga mendampingi para peserta minat foto yang diikuti oleh Andri Jivanta, Darmawan Mega Permana, Indri guli, Angga Lesmana, Elly Fitria, Jojo, Raphael, Rosi, Fawas dan Oni.</p>
<p>Peserta yang tergabung di kelompok masing-masing turun lapangan dengan instruksi pendamping kelompok. Mereka pun  langsung berinteraksi dengan para peserta dan masyarakat sekitar masjid. Tak berbeda dengan peserta, para pendamping tim fotografi  juga melibatkan diri kedalam tim jejak masjid.</p>
<p>Begitu tim dilepas mereka langsung eksekusi gambar, baik itu kondisi lingkungan masjid , human interest dan objek-objek lainnya.  Pada hari pertama turun lapangan, tim ini belum masuk pada tema sejarah. Mereka belum mengakses gambar para narasumber dan hal-hal lainnya di dalam masjid. Pendeknya mereka mengidentifikasi info  gambar-gambar yang menarik. Deny dan Yutto bertanggung jawab untuk mengidentifikasi masjid Atthohiriah, An Nur dan Al Mustofa. Sedangkan Yudha membentu identifikasi An Nur dan Al Mustofa. Sedangkan Rony langsung konsen pada masjid Al Falak.</p>
<p>Pada hari kedua tim foto mulai masuk ke narasumber, mereka pun mulai mengikuti arahan gambar sesuai informasi dari narasumber. Banyak hal yang mereka dapat dari sini, tidak sekedar dokumentasi kegiatan, tapi lebih menjurus pada unsur kesejarahan, situs dan lainnya. Mereka turun ke lapangan dengan berbagai cara. Ada yang bergabung dengan kelompok, namun ada juga yang langsung mengambil gambar sendiri, sesuai mood dan kebutuhan gambar.</p>
<p>Sukses mengeksplor informasi narasumber masjid. Tim ini kemudian mulai menentukan tema yang bisa diangkat di tiap masjid. Masing-masing gambar mencoba berbicara isu dan kondisi masing-masing masjid. Baik info sejarah, maupun kondisinya saat ini.</p>
<p>Mulai hari ketiga dan selanjutnya, tim ini dipastikan sibuk berproduksi dan mempersiapkan bahan-bahan pameran nantinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-fotografi-pastikan-tak-ada-sudut-yang-terlewat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #6: Anggota Tak Seberapa Dengan Kemampuan Beberapa</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/anggota-tak-seberapa-dengan-kemampuan-beberapa/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/anggota-tak-seberapa-dengan-kemampuan-beberapa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 12:04:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[Menyusuri jejak masjid tua kota Bogor, rasanya tidak pas kalau tidak mengungkap orang-orang film yang memback-up semua kelompok. Kelompok ini seperti rencana sebelumnya akan bekerjasama dengan masing-masing kelompok. Sayangnya setelah di verifikasi lagi, tak banyak peserta yang ikut tim ini. Data tim secara umum yang berminat adalah Ari, Zuliani Evi, Rani Anggraini, Resti Agesti dan Gita Purnama. Untungnya dibelakang tim ini sudah ada nama-nama pendamping yang sudah tidak asing lagi. Mereka adalah Erland, Gilang, Khairul Salam dan Fahrudin. Nama terakhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyusuri jejak masjid tua kota Bogor, rasanya tidak pas kalau tidak mengungkap orang-orang film yang memback-up semua kelompok. Kelompok ini seperti rencana sebelumnya akan bekerjasama dengan masing-masing kelompok. Sayangnya setelah di verifikasi lagi, tak banyak peserta yang ikut tim ini. Data tim secara umum yang berminat adalah Ari, Zuliani Evi, Rani Anggraini, Resti Agesti dan Gita Purnama. Untungnya dibelakang tim ini sudah ada nama-nama pendamping yang sudah tidak asing lagi. Mereka adalah Erland, Gilang, Khairul Salam dan Fahrudin. Nama terakhir adalah murid terbaik jurusan Film Sekolah KALAM.</p>
<p>Pada hari pertama turun lapangan (Senin-red), tim film yang jumlahnya tak seberapa, tapi dengan kemampuan beberapa itu hanya sekedar survey lokasi. Mereka coba mengumpulkan data-data menarik untuk kebutuhan film. Seperti Rani misalnya, sosok yang didaulat sebagai reporter tim film ini terus menggali data yang diketahuinya, maklum, Rani merupakan mahasiswi lanskap yang sempat melakukan penelitian di Empang. Tepat jika di hari pertama ia bertugas mengamati kawasan sekitar Masjid Atthohiriyah. Demikian juga dengan tim lainnya, masing-masing turun ke lokasi-lokasi yang dimaksud. Yaitu ke Masjid Al Falak, Masjid An Nur dan Masjid Al Mustofa. Dari peserta minta film pada hari pertama ini tak banyak yang terlibat. Hanya Rani saja yang aktif di Empang.</p>
<p>Hari berikutnya, dengan SDM yang ada tim mulai melanjutkan aksinya. Masing-masing tim rupanya sudah mempersiapkan strategi untuk produksi film. Erlan sang koordinator membagi tiap personil yang tersisa dalam 4 masjid. Mereka adalah Masjid An Nur oleh Fahrudin, Masjid Atthihiriyah oleh Erlan, Masjid Al Mustofa oleh Khairul Salam dan Masjid Al Falak oleh Gilang. Ada 3 kamera yang menemani mereka turun ke lapangan. Tanpa bertele-tele, masing-masing tim langsung memulai aksi pengambilan gambar.</p>
<p>Kelar syuting di beberapa lokasi masjid, tim ini langsung disibukkan dengan proses editing. Sebagian lagi tetap melakukan pengambilan gambar karena ada beberapa gambar yang kurang. Kondisi ini terlihat di hari ketiga dan keempat (Rabu dan kamis), beberapa anggota tim film tetap menyisir lokasi masjid, baik bersama kelompok maupun sendiri.</p>
<p>Puncak kesibukan mereka barulah benar-benar terlihat di hari kelima. Hampir semua anggota tim film ini menyibukan diri di depan monitor editing.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/anggota-tak-seberapa-dengan-kemampuan-beberapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #6: Masjid Tertua di Bogor..!?</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-tertua-di-bogor/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-tertua-di-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 10:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN RIZEKI RAHMAWATI&#8212;Subhanallah&#8230;ga disangka-sangka ternyata kota Bogor terdapat masjid tertua dan masjid pertamakali didirikan di Kota Bogor sebelum masjid-masjid lainnya. Masjid ini sudah berumur kurang lebih 703 tahun yang telah di bangun oleh seorang musafir asal Banten yang bernama K.Tubagus H.Mustofa Bakri dan di bantu oleh tiga orang sahabatnya yang benama Chaidir, Kail, dan Raden Dita Manggala. Masjid ini di beri nama seperti nama pendirinya yaitu Masjid Al-Mustofa yang didirikan pada tanggal 2 Ramadhan hari Jum’at 728H ( 8 Februari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN RIZEKI RAHMAWATI&#8212;</strong>Subhanallah&#8230;ga disangka-sangka ternyata kota Bogor terdapat masjid tertua dan masjid pertamakali didirikan di Kota Bogor sebelum masjid-masjid lainnya. Masjid ini sudah berumur kurang lebih 703 tahun yang telah di bangun oleh seorang musafir asal Banten yang bernama K.Tubagus H.Mustofa Bakri dan di bantu oleh tiga orang sahabatnya yang benama Chaidir, Kail, dan Raden Dita Manggala. Masjid ini di beri nama seperti nama pendirinya yaitu Masjid Al-Mustofa yang didirikan pada tanggal 2 Ramadhan hari Jum’at 728H ( 8 Februari 1307 M), masjid ini bertempat di Jl.Ceremai ujung,BantarJati kaum Kec.Bogor Utara yang sebelumnya kampung ini bernama Kampung Baru dan daerah kampung Baru ini menjadi kampung atau daerah yang membentuk terjadinya Kota Bogor sekaligus daerah pertamakali yang dibentuk di Kota Bogor.</p>
<p>Bentuk bangunan Al-Mustofa dahulu tidak sebagus seperti sekarang karena telah direnovasi, tetapi bentuk bangunannya tidak berubah hanya di perluas ke belakang dan akan menjadi dua lantai. Karena bangunanya sudah direnovasi  jadi kita semua khususnya orang-orang Bogor tidak mengetahui dan tidak menyangka kalau di Bogor terdapat masjid yang kemungkinan tertua dan pertama kali didirikan di Kota ini.</p>
<p>Di dekat Masjid ini pula terdapat makam salah satu dari pendiri Masjid Al-Mustofa yaitu Raden Dita Manggala dan makam keturunan keluarga K.H.Tubagus Mustofa Bakri , sedangkan makam dari pendiri Masjid Al- Mustofa sendiri K.H.Tubagus Mustofa Bakri berada di Mekkah. Banyak orang dari luar kota atau luar daerah bahkan Negara sering berdatangan untuk melakukan ziarah ke makam tersebut.</p>
<p>Di Masjid Al-Mustofa ini terdapat sumber mata air yang terletak tidak jauh dari lokasi Masjid  yang dibuat dan ditemukan sejak pertamakali masjid didirikan sampai sekarang dan sampai saat ini air tersebut masih terus mengalir dan belum pernah kering, walaupun kering itu hanya saat musim kemarau dan setelah musim kemarau air kembali mengalir. Mata air ini ukuran kedalamannya sekitar 190 m dan ukuran pipa ( 4 inci dan 3 inci ). Mata air ini dialirkan melalui pipa-pipa untuk masjid,  juga dialirkan kepada 38 rumah masyarakat sekitar masjid tersebut.</p>
<p>Hal menarik dari masjid ini adalah adanya Al-Qur’an yang ditulis tangan. Al-Qur’an ini sudah ada pada saat masjid didirikan dan terdapat pula buku berisi khutbah jum’at. Bahkan di Masjid ini setiap khutbah shalat Jum’at cara penyampaiannya menggunakan bahasa arab bukan bahasa Indonesia seperti masjid-masjid lainnya. Subhanallah&#8230;berarti Al-Qur”an itu sudah tua juga ya tetapi masih terlihat rapi walaupun cover dan kertasnya sedikit lapuk. Ada juga loh kejadian menarik lainnya di Masjid Al-Mustofa ini, seperti orang yang sedang tidur disana pada malam hari tiba-tiba keesokan harinya sudah ada di dalam bedug yang berukuran lumayan besar sehingga orang itu muat berada disana.</p>
<p>Masjid Al-Mustofa ternyata telah dikunjungi oleh walikota, suami Ibu Sri Mulyani (mantan Menkeu), Mentri Kehutanan dan orang-orang dari arab Saudi yang khusus datang ke Masjid ini. Kedatangan mereka untuk melihat masjid dan sejarah masjid ini, juga memberi bantuan berupa dana untuk merenovasi Masjid Al-Mustofa tersebut.</p>
<p>Oya&#8230; kegiatan di masjid Al-Mutofa sama dengan masjid lainnya seperti adanya pengajian bapak-bapak, pengajian ibu-ibu yg dilaksanakan setiap sebulan sekali dan pengajian anak-anak . Pengajian anak-anak biasanya dilakukan setiap hari ba’da ashar dan para santri/santriwati biasanya berumur 5 sampai   14 tahun atau tingkat TK,SD,dan SMP  yang pengajiannya dilakukan bersamaan hanya saja dibuat kelompok dibedakan menurut usia masing-masing.</p>
<p>Kegiatan pengajian anak-anak biasanya mengaji iqro, Al-Qur’an dan menghafal juz amma. Santri dan Santriwati mengaji disana tidak dipungut uang bayaran (menurut santriwati Al-Mustofa). Para ibu-ibu Rt 04 Al-mustofa hampir semua ibu rumah tangga dan kegiatan ibu-ibu ini bukan hanya mengaji atau arisan saja. Tetapi juga mengelola POSYANDU dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di kawasan Banjati Kaum.  Keterangan ini menurut Ibu Neneng (48 thn), Ibu Rt 04 , istri dari Bpk Mukti Natsir Yus</p>
<p>Semoga dengan informasi Masjid Al-mustofa diatas bisa menjadi informasi yang berguna untuk kalian semua dan kita harus menyadari sebenarnya masih banyak tempat bersejarah yang mungkin kita tidak ketahui di Kota Bogor ini dan semoga kita khususnya orang Bogaor jangan pernah melupakan sejarah yang ada di Kota Bogor seiring perkembangan zaman .</p>
<p>(Tulisan ini berdasarkan informasi dari Bapak Mukti Natsir Yus bin M. Yahya (60 thn), Ketua DKM masjid Al-Mustofa  yang juga keturunan ke 4 dari Tubagus H. Mustofa Bakri.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah Jurnalis pada kelompok Al Mustofa)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-tertua-di-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #5: Aktivitas Hari Kelima Diwarnai Diskusi Kelompok</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/aktivitas-hari-kelima-diwarnai-diskusi-kelompok/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/aktivitas-hari-kelima-diwarnai-diskusi-kelompok/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 16:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Aktivitas tim Jejak Masjid Tua Kota Bogor pada hari kelima, banyak diwarnai dengan aktivitas diskusi kelompok. Hampir semua peserta memilih untuk melakukan pembahasan materi dan konsep pelaporan di tim masing-masing. Kelompok Atthohiriyah misalnya, sejak pukul 13.00 mereka sudah berkumpul di markas Kampoeng Bogor untuk melakukan diskusi. Tim yang hadir kali ini adalah Nadia, Elly, Rafael, Tanti dan Jojo. Selain review data temuan, tim ini juga mengerjakan beberapa tugas seperti artikel dan pengumpulan file. Termasuk juga materi untuk produksi nanti, baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aktivitas tim Jejak Masjid Tua Kota Bogor pada hari kelima, banyak diwarnai dengan aktivitas diskusi kelompok. Hampir semua peserta memilih untuk melakukan pembahasan materi dan konsep pelaporan di tim masing-masing.</p>
<p>Kelompok Atthohiriyah misalnya, sejak pukul 13.00 mereka sudah berkumpul di markas Kampoeng Bogor untuk melakukan diskusi. Tim yang hadir kali ini adalah Nadia, Elly, Rafael, Tanti dan Jojo. Selain review data temuan, tim ini juga mengerjakan beberapa tugas seperti artikel dan pengumpulan file. Termasuk juga materi untuk produksi nanti, baik fotografi maupun desain grafis. Tim ini juga mendapat tambahan materi diskusi dengan tim pengkaji, terkait masalah penentuan tahun dan gambaran situasi sejarah umum.</p>
<p>Demikian juga dengan kelompok An Nur yang memilih KALAM sebagai home base mereka. Tim yang dipandu Abdul Manaf ini mulai menuliskan beberapa laporan temuan dan kurasi hasil foto. Diskusi mereka sempat tersendat karena ketidak hadiran orang desain grafis. Meski demikian tim ini tetap jalan, pembahasan kelompok ini dilakukan oleh Desma, Oni, Taufik dan Rossi. Seperti halnya kelompok An Nur, kelompok ini juga melakukan diskusi dengan tim pengkaji untuk membahas sedikit gambaran umum  sejarah. Terkait penentuan tahun berdirinya masjid ini.</p>
<p>Untuk Kelompok Al Falak, pada hari keempat ini lagi-lagi melakukan observasi akhir. Hal ini dilakukan untuk melengkapi data yang kurang saja. Mereka bersama tim film meluncur ke lokasi, dan akhirnya mendapat cerita tentang sosok Abah Falak, tokoh pendiri masjid yang memiliki nama kecil Abdul Halim. Selain itu mereka juga bertemu dengan Pak Asep generasi ke empat dari keluarga Abah Falak.</p>
<p>Sedangkan kelompok Al Mustofa hari ini tidak ada kegiatan, sepertinya mereka tengah mempersiapkan bahan-bahan juga untuk dilaporkan.</p>
<p>Dari hasil diskusi, rata-rata tim untuk keesokan harinya (hari keenam) tim sudah akan mulai melakukan produksi. Karena direncanakan pada Sabtu nanti mereka akan berpameran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/aktivitas-hari-kelima-diwarnai-diskusi-kelompok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #5: Masjid Atthohiriyah Mengalami Beberapa Kali Pembangunan</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-atthohiriyah-mengalami-beberapa-kali-pembangunan/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-atthohiriyah-mengalami-beberapa-kali-pembangunan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 13:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN NADIA ZULFIA ULFAH&#8211;Mesjid At-Thohiriyah  dulunya adalah sebuah Mushola kecil di daerah kekuasaan Karisidenan. Saat itu kawasan Empang yang dipimpin oleh Demang (Bupati-red) bernama Muhammad Thohir memperluas mushola tersebut menjadi sebuah Mesjid sekitar tahun 1815an.  Namun, ketika dibangun masih berupa Rumah Jogglo, demikian menurut salah sumber bernama Rani, salah satu mahasiswa IPB jurusan Landkap yang meneliti  tentang Sejarah Kawasan Empang  mengatakan. Seratus meter ke arah utara terdapat mesjid bernama Mesjid At-Taqwa. Menurut sumber mesjid ini dibuat untuk menampung jamaah pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LAPORAN NADIA ZULFIA ULFAH&#8211;Mesjid At-Thohiriyah  dulunya adalah sebuah Mushola kecil di daerah kekuasaan Karisidenan. Saat itu kawasan Empang yang dipimpin oleh Demang (Bupati-red) bernama Muhammad Thohir memperluas mushola tersebut menjadi sebuah Mesjid sekitar tahun 1815an.  Namun, ketika dibangun masih berupa Rumah Jogglo, demikian menurut salah sumber bernama Rani, salah satu mahasiswa IPB jurusan Landkap yang meneliti  tentang Sejarah Kawasan Empang  mengatakan.</p>
<p>Seratus meter ke arah utara terdapat mesjid bernama Mesjid At-Taqwa. Menurut sumber mesjid ini dibuat untuk menampung jamaah pada mesjid At-Thohiriyah yang sudah tidak cukup. Dua ratus kea rah timur juga terdapat mesjid An-Nur. Ke arah selatan mesjid terdapat Sekolah Dasar Al-Irsyad Empang dan ke sebelah utara berjarak sekitar seratus meter terdapat sebuah bendungan Sungai Cisadane.</p>
<p>Mesjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi seperti tampak pada foto yang dipajang di Perpustakaan Mesjid. Di Mesjid ini pun mengelola Taman Pengajian Al-Qur’an. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Lutfi, marbot Masjid Agung Empang Atthohiriyah.</p>
<p>“Masjid ini sudah direnovasi beberapa kali, kan awalnya masih berupa rumah panggung, atapnya juga masih berundak. Ditambah sekarang sudah ada pagar pemisah antara alun-alun dan mesjid tidak seperti dulu”, ujarnya.</p>
<p>Alun-alur  itupun tadinya adalah sebuah pasar. Namun, karena Belanda menetapkan peraturan yang melarang berjualan disekitar daerah tersebut akhirnya pasar tersebut dijadikan alun-alun untuk keperluan mesjid At-Thohiriyah.</p>
<p>Konon, nama Mesjid At-Thohiriyah tersebut diberi  nama seperti pendirinya  untuk mengenang bahwa Muhammad Thohir yang membangun mesjid tersebut.</p>
<p>“Karena dia ingin mendapat pahala terus dari pahala orang-orang yang beribadah di mesjid At-Thohiriyah tersebut” ujar salah satu murid SMA di Bogor ini bernama Marlinda Apriyanti.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah Jurnalis pada kelompok Atthohiriyah)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-atthohiriyah-mengalami-beberapa-kali-pembangunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #4: Tradisi Hukum Picis di Alun-Alun Empang</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/tradisi-hukum-picis-di-alun-alun-empang/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/tradisi-hukum-picis-di-alun-alun-empang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 16:48:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN NADIA ZULFIA ULFAH&#8212;Seorang veteran kemerdekaan RI bernama H. Abdurahman Askar yang akrab disapa Haji Amuh ini merupakan salah satu tokoh masyarakat yang tinggal di daerah sekitar Mesjid At-Thohiriyyah. Menurut beliau, Mesjid ini sebenarnya bernama Mesjid Agung Empang. Dibangun pertama kali oleh Raden H. Hasbullah yaitu kakek dari Raden Muhammad Thohir. Dari awal pembangunanya mesjid ini telah mengalami renovasi sebanyak dua kali dan satu lagi renovasi yang dilakukan oleh Raden Dalem Sholawat  dalam skala besar. Dan mungkin karena perubahan inilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN NADIA ZULFIA ULFAH&#8212;</strong>Seorang veteran kemerdekaan RI bernama H. Abdurahman Askar yang akrab disapa Haji Amuh ini merupakan salah satu tokoh masyarakat yang tinggal di daerah sekitar Mesjid At-Thohiriyyah. Menurut beliau, Mesjid ini sebenarnya bernama Mesjid Agung Empang. Dibangun pertama kali oleh Raden H. Hasbullah yaitu kakek dari Raden Muhammad Thohir. Dari awal pembangunanya mesjid ini telah mengalami renovasi sebanyak dua kali dan satu lagi renovasi yang dilakukan oleh Raden Dalem Sholawat  dalam skala besar. Dan mungkin karena perubahan inilah yang mengubah nama Mesjid Agung Empang menjadi Mesjid At-Thohiriyyah. Dan perbaikan terbaru terjadi sekitar empat atau lima tahun yang lalu, yaitu dengan penambahan perpustakaan dan kantor DKM.</p>
<p>Begitu menarik berbincang-bincang dengan seseorang humoris seperti beliau ini. Menurutnya zaman dulu jamaah mesjid Agung Empang ini datang dari tempat jauh</p>
<p>“Waktu saya menjabat sebagai kepala Rukun Keluarga, jamaah di mesjid ini datangnya dari jauh. Ada yang dari Bondongan sampai Ciwaringin. Lalu kadang-kadang ada juga orang asing yang numpang solat disini” ujarnya dengan semangat.</p>
<p>Karena mesjid ini tidak membedakan ras dan partai politik apapun, serta menjunjung tinggi nilai kesatuan. Namun sekarang mesjid ini sudah mulai sepi, hanya warga sekitar yang datang karena sudah banyak mesjid-mesjid yang berdiri di daerah lainnya.</p>
<p>Kegiatan-kegiatan yang masih dilakukan hingga sekarang adalah adanya Majlis Taklim setiap malam baik di bulan Ramadhan seperti sekarang ini maupun di bulan-bulan lainnya. Acara yang khusus dilakukan sekarang ini berupa acara berbuka puasa bersama yang dilakukan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Menurutnya adat istiadat di daerah Empang ini merupakan daerah yang paling unik, baik dari nilai kebaikan sampai ke nilai paling jelek sekalipun.</p>
<p>Setelahnya, beliau banyak bercerita tentang alun-alun yang berada di depan mesjid Agung Empang. Alun-alun tersebut menurutnya dulu dibuat berbarengan dengan berdirinya masjid dengan tujuan untuk dekorasi taman. Masa kecil sang sesepuh daerah Empang ini dipenuhi dengan bermain sepak bola di taman tersebut bersama kawan sebayanya. Di lokasi tersebut tadinya ada sebuah batu yang sangat besar yang digunakan untuk melakukan Hukum Picis, yaitu penghukuman bagi warga yang melakukan kejahatan seperti merampok dan sejenisnya oleh Belanda (penjajah, red). Hukuman itu sengaja dilakukan agar disaksikan oleh warga sekitar dengan tujuan tidak ada yang mengulanginya lagi. Namun, sekitar 15-20 tahun yang lalu para pemuda yang tidak percaya akan mitos tentang batu tersebut menghancurkannya sehingga sekarang batu besar itu sudah tidak ada lagi.</p>
<p>Alun-alun yang seharusnya berfungsi untuk taman tersebut sekarang lebih sering digunakan saat hari-hari Besar Islam seperti Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Biasanya saat-saat seperti itu di alun-alun tersebut banyak terdapat hewan-hewan qurban yang akan dijual dan beberapa Andong (delman, red) yang boleh digunakan oleh siapapun. Bisa dikatakan sekarang alun-alun tersebut digunakan untuk Pasar dadakan walaupun sudah dilarang oleh pemerindah kota Bogor.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah Jurnalis pada kelompok Atthohiriah)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/tradisi-hukum-picis-di-alun-alun-empang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #4: Masjid Itu Sempat Berbentuk Joglo</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-itu-sempat-berbentuk-joglo/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-itu-sempat-berbentuk-joglo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 13:13:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN CHANDRA--Siapa sangka Masjid Agung Empang At-Thohiriyah yang didirikan tahun 1817 oleh Raden Mohammad Thohir ini ternyata telah mengalami perubahan bentuk. Bentuk pertama Masjid tersebut adalah Joglo, yang diyakini oleh pengurus masjid sebagai  yang tertua di Kota dan Kabupaten Bogor. Awal pembangunannya dirintis oleh Raden Mohammad Thohir sendiri. Kemudian pembangunannya diteruskan oleh cucunya yang bernama Raden Arya Wiranata (Bupati I di Bogor). Sedangkan putra R Muhammad Tohir sendiri (Ayah R Arya Wiranata)  meninggal di Mekkah. Pada abad 19 masjid ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>
<a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/jejak-masjid/atthohiriyah.jpg" title="" class="shutterset_singlepic146" >
	<img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/cache/146__320x240_atthohiriyah.jpg" alt="atthohiriyah" title="atthohiriyah" />
</a>
LAPORAN CHANDRA-</strong>-Siapa sangka Masjid Agung Empang At-Thohiriyah yang didirikan tahun 1817 oleh Raden Mohammad Thohir ini ternyata telah mengalami perubahan bentuk. Bentuk pertama Masjid tersebut adalah Joglo, yang diyakini oleh pengurus masjid sebagai  yang tertua di Kota dan Kabupaten Bogor. Awal pembangunannya dirintis oleh Raden Mohammad Thohir sendiri. Kemudian pembangunannya diteruskan oleh cucunya yang bernama Raden Arya Wiranata (Bupati I di Bogor). Sedangkan putra R Muhammad Tohir sendiri (Ayah R Arya Wiranata)  meninggal di Mekkah.</p>
<p>Pada abad 19 masjid ini digunakan sebagai tempat sholat jumat para demang, para demang yang datang menaruh kuda mereka di alun-alun, kemudian mandi di sungai cisadane dan dilanjutkan dengan sholat jumat.</p>
<p>
<a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/jejak-masjid/piagam_atthoriyah1.jpg" title="" class="shutterset_singlepic147" >
	<img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/cache/147__160x120_piagam_atthoriyah1.jpg" alt="piagam_atthoriyah1" title="piagam_atthoriyah1" />
</a>
Ciri khas Masjid ini bisa dilihat dari  adanya 4 tiang penopang kubah yang berasal dari bangunan asli. Tiang tersebut mempunyai simbol 4 sahabat rosul dan juga 4 arah mata angin. Bagian Kanan Masjid ini dahulu digunakan sebagai Kantor Pemerintahan Kabupaten Bogor pada abad 19, kemudian sempat digunakan sebagai tempat untuk Taman Kanak-kanan/TK dan Persatuan Wanita Departemen Agama. Bangunan yang tidak dirubah saat renovasi selain 4 tiang, ada juga tempat imam / mihrob.</p>
<p>Masjid dengan luas 20&#215;50 meter ini memiliki luas tanah 3.600 m2. Sayangnya tidak ada data sahih mengenali luas masjid ini saat pertama kali dibangun,  Bagian kiri masjid merupakan wakaf dari Habib Ali Idrus dan Habib Husin Asegaff</p>
<p>
<a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/jejak-masjid/piagam_atthoriyah2.jpg" title="" class="shutterset_singlepic148" >
	<img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/cache/148__160x120_piagam_atthoriyah2.jpg" alt="piagam_atthoriyah2" title="piagam_atthoriyah2" />
</a>
Raden Mohammad Thohir dikenal sebagai Mbah Dalem Sholawat, karena setiap jumatan selalu membaca sholawat, Tradisi membaca sholawat setelah jumatan merupakan tradisi masjid yang masih dijalankan sebagai sekarang. Jamaah di masjid ini  menggunakan ajaran Imam Syafei. Kegiatan masjid: ceramah, tausiah, santunan, buka puasa bersama kaum dhuafa setiap hari dibulan rahmadan, sholat subuh dengan tafsir quran dan fikih setap hari.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah Jurnalis pada kelompok Atthohiriah)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-itu-sempat-berbentuk-joglo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #4: Tim Tuntaskan Penyisiran 4 Masjid</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-tuntaskan-penyisiran-4-masjid/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-tuntaskan-penyisiran-4-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 13:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki penelusuran di hari ketiga, tim telusur masjid kian menemukan banyak hal menarik dimasing-masing lokasi. Jadwal turun lapangan pun akhirnya tidak sebatas pada aktivitas bareng-bareng saja. Beberapa kelompok bahkan melakukannya diluar jadwal yang telah ditentukan. Misalnya melakukan interview malam hari dengan Habib maupun ‘nyari’ gambar saat subuh. Kelompok An Nur yang menuju ke Masjid Noer Alatas (nama Masjid Keramat Empang setelah diverifikasi) pada hari ketiga ini kembali menyusuri kawasan sekitar masjid. Mereka mencoba mencari tahu pandangan masyarakat sekitar terhadap Masjid [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memasuki penelusuran di hari ketiga, tim telusur masjid kian menemukan banyak hal menarik dimasing-masing lokasi. Jadwal turun lapangan pun akhirnya tidak sebatas pada aktivitas bareng-bareng saja. Beberapa kelompok bahkan melakukannya diluar jadwal yang telah ditentukan. Misalnya melakukan interview malam hari dengan Habib maupun ‘nyari’ gambar saat subuh.</p>
<p>Kelompok An Nur yang menuju ke Masjid Noer Alatas (nama Masjid Keramat Empang setelah diverifikasi) pada hari ketiga ini kembali menyusuri kawasan sekitar masjid. Mereka mencoba mencari tahu pandangan masyarakat sekitar terhadap Masjid Noer Alatas. Kali ini mereka menuju ke rumah ketua RT 04 Bapak Ali Idris. Dari beliau mereka mendapatkan cerita bahwa kawasan RT 04, tempat keberadaan masjid ini, rata-rata keluarga keturunan Habib Abdullah. Namun bagi warga Empang keturunan, tidak semuanya ‘pro ’ dengan Masjid ini. Hal ini terkait adab dan mazhab tertentu. Dari rumah ketua RT tim selanjutnya menyisir dan mencari pendapat atau keterangan warga Empang lainnya. Tepat sebelum buka puasa tim ini sudah selesai melakukan penyisiran.</p>
<p>Tak jauh dari lokasi An Nur, kelompok Atthohiriah juga melakukan hal yang sama. Mereka menemui Bapak Abdurrahman Askar, seorang veteran perang kemerdekaan. Dari beliau tim ini mendapatkan info massjid ini sebenarnya bernama Mesjid Agung Empang. Dibangun pertama kali oleh Raden H. Hasbullah yaitu kakek dari Raden Muhammad Thohir. Karena perubahan inilah menurut beliau yang mengubah nama Mesjid Agung Empang menjadi Mesjid At-Thohiriyyah. Waktu beliau menjabat sebagai kepala Rukun Keluarga, jamaah di mesjid ini datangnya dari jauh. Ada yang dari Bondongan sampai Ciwaringin. Lalu kadang-kadang ada juga orang asing yang numpang sholat disini.</p>
<p>Sementara itu kelompok Al Falak pada hari ketiga ini tidak melakukan observasi lapangan. Mereka pada hari ketiga melakukan diskusi tim di KALAM. Hasilnya mereka merumuskan data yang perlu dilengkapi serta menentukan media yang akan mereka keluarkan nanti. Hasilnya setelah diketahui kebutuhan yang kurang, tim ini memutuskan untuk kembali turun lapangan pada keesokan harinya.</p>
<p>Tak berbeda dengan tim lainnya, kelompok Al Mustofa juga tetap turun lapangan. Kali ini mereka juga hanya melengkapi data-data yang kurang saja, terkait pendapat masyarakat sekitar. Tersiar kabar duka dari tim ini, Pak Bonar telah kehilangan ibunda tercintanya. Jadinya beliau tidak bisa ikut mendampingi tim. Berhubung data-data banyak diolah dan dipegang oleh beliau, maka tim ini pun belum bisa banyak update informasi yang mereka dapat.</p>
<p>Hampir semua tim kecuali kelompok Al Falak, mengagendakan pertemuan untuk diskusi data-data yang mereka peroleh. Termasuk membicarakan materi media yang akan mereka keluarkan saat pameran nanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-tuntaskan-penyisiran-4-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #4: Rumah Abah, Perkuburan dan Pesantren Narkoba</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/rumah-abah-perkuburan-dan-pesantren-narkoba/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/rumah-abah-perkuburan-dan-pesantren-narkoba/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 19:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN FS PUTRI CANTIKA (UTHI)&#8211;Pada saat memasukki wilayah masjid Al-Falak, kira-kira pada jarak 100 meter sebelum masjid, tampak bangunan-bangunan yang sepintas seperti dibangun pada awal abad 20. Bangunan ini tampak sudah sedikit kehilangan orisinalitasnya yang dapat langsung terlihat dari bentuk kaca dan kusen yang di cat baru. Bangunan tersebut merupakan kediaman KH. Falak pada masa kepemimpinannya sebagai ulama di Pondok Pesantren Al-Falak. Terdapat tiga bangunan terpisah yang menurut penuturan salah satu keturunannya (Pak Oyok)merupakan bangunan bekas kediaman Abah Falak. Rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>
<a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/jejak-masjid/masjidalfalak2.jpg" title="" class="shutterset_singlepic144" >
	<img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/cache/144__240x320_masjidalfalak2.jpg" alt="masjidalfalak2" title="masjidalfalak2" />
</a>
 LAPORAN FS PUTRI CANTIKA (UTHI)&#8211;</strong>Pada saat memasukki wilayah masjid Al-Falak, kira-kira pada jarak 100 meter sebelum masjid, tampak bangunan-bangunan yang sepintas seperti dibangun pada awal abad 20. Bangunan ini tampak sudah sedikit kehilangan orisinalitasnya yang dapat langsung terlihat dari bentuk kaca dan kusen yang di cat baru. Bangunan tersebut merupakan kediaman KH. Falak pada masa kepemimpinannya sebagai ulama di Pondok Pesantren Al-Falak. Terdapat tiga bangunan terpisah yang menurut penuturan salah satu keturunannya (Pak Oyok)merupakan bangunan bekas kediaman Abah Falak.</p>
<p>
<a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/jejak-masjid/rumahabahfalak.jpg" title="" class="shutterset_singlepic145" >
	<img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/cache/145__240x180_rumahabahfalak.jpg" alt="rumahabahfalak" title="rumahabahfalak" />
</a>
Rumah pertama, yang lokasinya di tengah saat ini difungsikan sebagai penginapan untuk para Tamu yang berkunjung ke Al-Falak. Bangunan kedua yang terletak di sisi kanan bangunan utama tadi saat ini difungsikan sebagai Majlis Ta&#8217;lim,  yang biasanya dikhususkan untuk tempat pengajian perempuan. Bangunan ketiga yang terletak di belakang bangunan utama tadi merupakan ruangan ziarah untuk para tamu yang berniat untuk berziarah ke makam Abah Falak.</p>
<p>
<a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/jejak-masjid/makam_abahfalak.jpg" title="" class="shutterset_singlepic143" >
	<img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/cache/143__240x180_makam_abahfalak.jpg" alt="makam_abahfalak" title="makam_abahfalak" />
</a>
Di sebelah rumah ketiga, terdapat kuburan yang dikelilingi tembok dan dipasangi gembok pada pagarnya. Lokasi yang menjadi makam Abah Falak ini sebelumnya adalah kolam. Hanya dibatasi oleh tembok, terdapat beberapa kuburan lain di belakang rumah peninggalan Abah tersebut yang menurut penuturan Pak Oyok merupakan perpanjangan dari makam Abah Falak. Kompleks tersebut merupakan pemakaman keluarga Abah Falak yang tergolong masih sedarah (keturunan langsung). Berjarak 50 meter dari pemakaman keluarga tersebut, tepatnya di sebelah bangunan Masjid Al-Falak merupakan kompleks pemakaman keluarga yang bukan keturunan langsung Abah Falak. Kedua pemakaman tersebut tidak berhubungan dengan pemakaman yang terdapat di persimppangan jalan sebelum memasukki kampus Al-Falak. Pemakaman yang letaknya sebelum Pondok Rehabilitasi Al-Uum ini merupakan tanah wakaf dari Abah Falak yang memang diperuntukkan sebagai pemakaman warga Pagentongan.</p>
<p style="text-align: left;">
<a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/jejak-masjid/abah-falak.jpg" title="" class="shutterset_singlepic141" >
	<img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/cache/141__240x180_abah-falak.jpg" alt="abah-falak" title="abah-falak" />
</a>
Menariknya saat memasuki kawasan menuju Masjid Al Falak, terdapat sebuah pondok pesantren yang menarik perhatian disepanjang jalan menuju masjid ini. Pondok Pesantren Al Uum, yang menurut narasumber pendirinya masih ada hubungan keluarga dengan Abah Falak. Al Uum sendiri didirikan sekitar 10 atau 15 tahun yang lalu. Yang membedakan Al-Uum sebagai pusat rehabilitasi Narkoba dengan Al-Falak adalah fokus ajarannya dan sasaran anak didiknya yang lebih menekankan pada kesembuhan korban pemakai Narkoba.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah pendamping utama kelompok Al Falak)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/rumah-abah-perkuburan-dan-pesantren-narkoba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #3: Antara Habib, Masjid dan Budaya Empang</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/antara-kisah-habib-masjid-dan-budaya-empang/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/antara-kisah-habib-masjid-dan-budaya-empang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 16:59:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN DESMA DAMAYANTI&#8211;Pada perjalanan hari kedua ini, kelompok An Nur kembali menyambangi narasumber. Kali ini tim bertemu dengan  Habib Agil Bin Achmad Bin Abdullah Bin Syarif Bin Ahmad Bin Al Atas. Narasumber yang kini berusia 85tahun. Diceritakan oleh beliau bahwa Habib Abdullah bertemu dengan seorang gadis bernama Den Eha lalu menikah dengannya dan mendirikan majelis yang awalnya kecil dan berfungsi sebagai mushola. Kemudian secara bertahap bangunannya diperbesar(renovasi) . Pemanfaatan masjid ini menilik pesan dari Habib Abdullah, tidak dilaksanakan shalat jum’at [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN DESMA DAMAYANTI&#8211;</strong>Pada perjalanan hari kedua ini, kelompok An Nur kembali menyambangi narasumber. Kali ini tim bertemu dengan  Habib Agil Bin Achmad Bin Abdullah Bin Syarif Bin Ahmad Bin Al Atas. Narasumber yang kini berusia 85tahun.</p>
<p>Diceritakan oleh beliau bahwa Habib Abdullah bertemu dengan seorang gadis bernama Den Eha lalu menikah dengannya dan mendirikan majelis yang awalnya kecil dan berfungsi sebagai mushola. Kemudian secara bertahap bangunannya diperbesar(renovasi) . Pemanfaatan masjid ini menilik pesan dari Habib Abdullah, tidak dilaksanakan shalat jum’at karena masih terdengar suara adzan dari masjid lain.</p>
<p>Sosok Habib Abdullah memiliki kekeramatan, sehingga makamnya banyak diziarahi. Suatu hari habib berkata dalam Bahasa Arab yang berarti ”Kuburan saya disini”, sepulangnya dari masjid sambil membaca salah satu surat Al-Qur’an. Kekeramatan yang ada pada Habib Abdullah juga menurun pada keturunannya seperti pada anak pertamanya Habib Mukhsin. Dikisahkan saat beliau berpergian ke Balikpapan dan Samarinda, beliau mengungkap bahwa disana mengandung banyak minyak bumi. Apa yang disampaikannya ini ternyata benar, minyak itu  kemudian dibongkar oleh Sultan.</p>
<p>Seseorang dikatakan Habib atau Wali bukan dari pendapat sendiri melainkan opini dari banyak orang dan menurut kepercayaan sekitar apabila seseorang berilmu maka ia tidak dapat diambil fotonya. Habib Abdullah sendiri sudah dikenal hingga ke negeri Belanda saat Indonesia masih dalam penjajahan dan disegani atas ‘kekeramatan’ yang ia miliki.</p>
<p>Habib Abdullah memiliki wasiat sebelum beliau wafat, putra pertamanya Habib Mukhsin, putra keduanya Habib Zain dan putra ketiganya Habib Husain harus dimakamkan di lokasi yang sama. Maka ketika Habib Abu Bakar dan Ifa Nur wafat terjadi kekacauan karena tidak tersebut dalam wasiatnya. Den Eha sendiri merupakan keturunan peribumi dan tidak dapat diketahui banyak tentangnya.</p>
<p>Masjid An Nur berdiri sejak 90 tahun lalu dan diberi nama ‘Nur’ karena artinya cahaya dengan harapan dapat memberikan pencahayaan pada jemaahnya. Masyarakat memiliki opini yang berbeda tentang keberadaan masjid ini, memang jarang peribumi yang beribadah disini. Ada yang mengatakan bahwa kiblatnya berbeda, cara cium tangan yang berbeda, berziarah musyrik, jam tarawih yang berbeda dan lain sebagainya. Masjid An Nur sendiri diurus oleh pihak keluarga tanpa campur tangan orang lain dan dapat dikatakan satu-satunya masjid yang ‘non komersil’. Ada sebuah tradisi disini yaitu pada setiap malam ke 21Ramadhan banyak jemaah yang beribadah kesini dan datang dari jauh.</p>
<p>Sukses mewawancarai Habib Agil, tim kemudian bergerak mencari narasumber lainnya. Hasilnya mereka bertemu dengan bapak Oos Masyur, ketua RW 012 yang tinggal di Empang sejak 1977. Dari pengetahuan beliau tim memperoleh catatan menarik.</p>
<p>Menurut Oos Masjid At Tohiriyah lebih tua dari pada Masjid An Nur yang lokasinya berdekatan. Kira-kira 200 tahun yang lalu Masjid At Tohiriyah berdiri, saat ini masjid tersebut telah menjadi cagar budaya kota Bogor dan sudah mengalami beberapa kali renovasi. Meskipun berdekatan tetapi kehadiran masjid An Nur tidak terlalu berpengaruh bagi masyarakat sekitar.</p>
<p>Memang ada beberapa perbedaan antara 2 masjid ini, seperti banyaknya peziarah yang datang dari luar untuk berziarah ke makam Habib Abdullah yang sejak dahulu dikenal sebagai ‘Tawasul’ atau perantara dengan Tuhan. Habib ini datang dari Yaman Selatan dan menyebarkan agama Islam sambil berdagang.</p>
<p>Adapula kebudayaan di daerah ini yang akrab dikenal sebagai ‘Kampung Arab’. Yakni saat Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha, ramai sekali masyarakat yang berkeliling kampung menggunakan delman.</p>
<p>Sementara itu kebudayaan atau adab pernikahannya lebih mengacu pada aturan agama seperti pengantin pria dan wanita harus berada dirungan berbeda saat akad nikah. Akad nikah dapat dilakukan sendiri oleh Ayah dari mempelai. Panganannya juga unik yaitu menyajikan nasi kebuli dan nasi putih dengan racikan khusus.</p>
<p><em>(Penulis adalah Jurnalis pada kelompok An Nur )</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/antara-kisah-habib-masjid-dan-budaya-empang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #3: Masjid Untuk Kepentingan Umat</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-untuk-kepentingan-umat/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-untuk-kepentingan-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 12:49:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN FITRI SELASTYANING GAYATRI--Menelusuri jejak masjid-masjid tua Kota Bogor, akan banyak kita temukan nilai-nilai sejarah dari penelusuran ini, begitu pula dengan keberadaan Masjid Al Falak yang dibangun oleh seorang ulama besar bernama Tubagus Muhammad atau yang lebih dikenal dengan KH. Falak atau Abah Falak. Masjid Al Falak berada di Desa Pagentongan, tepatnya di kelurahan Loji, kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Desa Pagentongan menjadi terkenal karena pernah menjadi desa tempat tinggal ulama besar bergelar KH. Falak pendiri masjid dan pondok pesantren [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN FITRI SELASTYANING GAYATRI-</strong>-Menelusuri jejak masjid-masjid tua Kota Bogor, akan banyak kita temukan nilai-nilai sejarah dari penelusuran ini, begitu pula dengan keberadaan Masjid Al Falak yang dibangun oleh seorang ulama besar bernama Tubagus Muhammad atau yang lebih dikenal dengan KH. Falak atau Abah Falak.</p>
<p>Masjid Al Falak berada di Desa Pagentongan, tepatnya di kelurahan Loji, kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Desa Pagentongan menjadi terkenal karena pernah menjadi desa tempat tinggal ulama besar bergelar KH. Falak pendiri masjid dan pondok pesantren Al Falak.</p>
<p>Sepanjang perjalanan menuju lokasi kita akan menemukan panorama alam pedesaan yang masih sejuk, apalagi ketika mulai memasuki komplek Al Falak, jarang sekali mobil yang melintas disana. Berbeda dengan mesjid tua lainnya, Masjid Al Falak berada jauh ke pedalaman. Jika kita naik angkutan umum kita tidak akan langsung menemukan masjidnya tapi kita perlu berjalan kira-kira 30 hingga 45 menit untuk bisa sampai ke lokasi. Meskipun jauh tapi insya allah kita tidak akan jenuh karena disuguhi panorama alam yang nyaman dan menyejukkan.</p>
<p>Ketika memasuki komplek Al Falak terlebih dahulu kita akan menemukan pondok pesantern, bekas rumah, dan komplek pemakaman Abah Falak beserta keluarga. Setelah berjalan beberapa meter dari pesantren barulah kita bisa menemukan Masjid Al Falak.</p>
<p>Isu yang muncul ke permukaan proses pembangunan masjid dimulai pada awal abad ke 20 atau tepatnya tahun 1901 masehi. Tapi menurut bapak Hasbullah salah satu kerabat Abah Falak yang sempat kami wawancara, Masjid Al Falak dibangun sekitar tahun 1924. Memang sering ada perbedaan pendapat mengenai tahun didirikannya masjid, mungkin karena faktor masjid yang sudah sangat lama dibangun.</p>
<p>Melangkah ke bentuk arsitektur mesjid sepertinya kami belum bisa memastikan apakah arsitekturnya lokal ataupun asing. Sebab ketika kami berkunjung kesana, masjid sedang dalam keadaan pemugaran. Hampir semua bagian masjid sedang diperbaharui kecuali menara, mimbar dan yang sepertinya masih ingin dipertahankan aslinya.</p>
<p>Menara yang menjulang dengan tinggi sekitar 10 meter ini merupakan ciri masjid yang ternyata dibangun tidak bersamaan dengan dibangunnya mesjid. Menara yang terletak di sebelah kanan masjid ini dibangun pada tahun 1977 dengan tujuan agar suara ketika azan dapat terdengar lebih jelas ke setiap penjuru. Masjid Al Falak sendiri sudah melakukan tiga kali pemugaran hingga saat ini.</p>
<p>Selanjutnya pembangunan masjid ini sendiri bertujuan untuk kepentingan beribadah masyarakat sekitar, yang konon sebelum Abah Falak datang masih kental diwarnai kultur kehinduan. Masjid ini pun digunakan beliau sebagai tempat berdakwah dan bersyiar. Menurut pak Hasbullah, Abah Falak sendiri juga sering mengaji di maasjid itu tepatnya 1,5 meter ke sebelah kiri mimbar, sedangkan anaknya 1,5 meter ke sebelah kanan mimbar.</p>
<p>Peristiwa apa yang melatarbelakangi pembangunan masjid sendiri hingga saat ini masih dipertanyakan. Para narasumber yang kami wawancara pun tidak tahu pasti apa yang menjadi latar belakang KH Falak membangun masjid itu, yang pasti setiap pembangunan masjid tujuan utamanya adalah untuk kepentingan umat termasuk masjid Al Falak ini.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah Jurnalis pada kelompok Al Falak</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/masjid-untuk-kepentingan-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #3: Ekspedisi Masjid At-Thohirriyah Temukan Makam</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/ekspedisi-masjid-at-thohirriyah-temukan-makam/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/ekspedisi-masjid-at-thohirriyah-temukan-makam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 12:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN TANTI EKA PRATIWI -  Sama dengan hari  sebelumnya, kelompok At-Thohiriyyah memulai kegiatan mereka dengan berkumpul didepan BTM.    Tugas pertama yang dilakuin pertama kali yaitu saling menunggu anggota lain yang belum dating, alias   ngareeeet… heemm  maklum jam karet, padahal waktu uda di tentuin jam 14.00. Setelah sekian lama menunggu akhirnya seluruh anggota kumpul dengan lengkap, dan ekspedisi pun dimulai. Penelusuran dimulai dari berjalan kaki menuju  tempat tujuan utama yaitu masjid At- Thohiriyaah. Sampainya di masjid tim segera melaksana kewajiban sholat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LAPORAN TANTI EKA PRATIWI -  Sama dengan hari  sebelumnya, kelompok At-Thohiriyyah memulai kegiatan mereka dengan berkumpul didepan BTM.    Tugas pertama yang dilakuin pertama kali yaitu saling menunggu anggota lain yang belum dating, alias   ngareeeet… heemm  maklum jam karet, padahal waktu uda di tentuin jam 14.00. Setelah sekian lama menunggu akhirnya seluruh anggota kumpul dengan lengkap, dan ekspedisi pun dimulai.</p>
<p>Penelusuran dimulai dari berjalan kaki menuju  tempat tujuan utama yaitu masjid At- Thohiriyaah. Sampainya di masjid tim segera melaksana kewajiban sholat ashar dulu. Selesai dari sholat tim membagi dua kubu, untuk mempermudah pencarian informasi. Kubu  1 mencari informasi diwilayah sekitar masjid dan kubu ke-2  mencari informasi ke masyarakat sekitar, dan tokoh setempat. Orang pertama yang menjadi target adalah Pak RT yang bernama Pak Mangkid, beliau mencerikan beberapa sejarah  dari masjid at-thohiriyyah.</p>
<p>Setelah berbincang-bincang dengan pak RT, kita  melanjutkan perjalanan ke tempat yang katanya sepuh dari tempat itu dan tidak jauh dari rumah pak RT. Beliau adalah bpk Hj. Abdulrahman Askar, yang biasa di kenal Hj. Amuh.  Sayangnya kami kurang beruntung karena ternyata beliau tidak ada ditempat. Akhirnya perjalanan kita lanjutkan kembali ke tempat RW  setempat, lagi-lagi kita kurang beruntung dikarena kan bpk RW nya lagi tidur siang kata anaknya yang sempat bertanya dulu ke ayahnya yang bilang kalau ayahnya lagi tidur.</p>
<p>Pencarian terus dilajutkan meski sedang puasa tapi kita semua tetep semangat demi mencapai tujuan yang kita menyengungkap legenda serta mitos dari masjid dan alun-alun yang ada di sana. Berjalan terus sampai tiba ujung jalan dan di tepi kanan terlihat rumah antik yang masih kokoh berdiri. Rumah jaman belanda ini ternyata ditempati oleh seorang bpk tua yang bernama Bpk Umar Usman Bajened.Dari beliau kita mendapatkan banyak info legenda yang menarik untuk di dengar. Cukup lama kita berada di kediaman beliau, ya sambil menunggu hujan berhenti. Setelah  melewati perbincangan yang seru kita kembali kemasjid untuk berkumpul lagi dengan tim 1.</p>
<p>Ada narasumber dari DKM kemudian mengajak kita semua pergi untuk melihat makam keluarga  dari raden-raden. Karena waktu yang memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk meneruskan pencarian. Kita pun memutuskan untuk segera kembali ke Salam, untuk berbuka puasa. Serelah berbuka puasa kita semua membahas apa yang sudah kita dapatkan hari ini. Ternyata hasil yang kita dapat masih kurang cukup lengkap di karena kan masih banyak narasumber yang tidak berhasilkita temui. Dan perjalanan pun diputuskan dilanjutkan esok hari .</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah jurnalis kelompok Atthohiriyah)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/ekspedisi-masjid-at-thohirriyah-temukan-makam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #3: Tim Makin Lengkap Cerita-pun Tuntas Diserap</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-makin-lengkap-cerita-pun-tuntas-diserap/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-makin-lengkap-cerita-pun-tuntas-diserap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 11:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki hari kedua, tim Jejak Masjid Tua kota Bogor kembali menyambangi para narasumber. Kali ini mereka memiliki agenda lebih jelas dan terencana. Semua kelompok dari hasil temuan-temuan di hari pertama, merumuskan target interview dan penggalian lebih dalam. Sedikit banyak mereka memiliki beberapa isu pilihan, terkait sejarah objek (masjid), ketokohan, lingkungan dan masyarakat. Kelompok Atthohiriah misalnya, sejak pukul 13.00 WIB kelompok ini sudah berkumpul ke BTM. Hebatnya hari itu anggota tim semakin lengkap dibandingkan hari pertama. Saat ini pasukan yang hadir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memasuki hari kedua, tim Jejak Masjid Tua kota Bogor kembali menyambangi para narasumber. Kali ini mereka memiliki agenda lebih jelas dan terencana. Semua kelompok dari hasil temuan-temuan di hari pertama, merumuskan target interview dan penggalian lebih dalam. Sedikit banyak mereka memiliki beberapa isu pilihan, terkait sejarah objek (masjid), ketokohan, lingkungan dan masyarakat.</p>
<p>Kelompok Atthohiriah misalnya, sejak pukul 13.00 WIB kelompok ini sudah berkumpul ke BTM. Hebatnya hari itu anggota tim semakin lengkap dibandingkan hari pertama. Saat ini pasukan yang hadir adalah Juna, Elly, Rafael, Jojo, Tanti, Nadia dan Chandra. Target mereka  adalah bertemu ketua DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Pak Wawan dan  RT setempat. Dari hasil interview mereka mendapati ternyata Pak RT baru menempati kawasan pada tahun 80-an, jadi tidak bisa bicara banyak tentang daerah sekitar masjid At Thohiriyah. Kemudian tim dibagi tim  Thohiriyah dibagi menjadi 2, mereka menyebar ke segala arah. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Bapak Abdurahman (84), sosok keturunan arab yang mengaku sebagai penghuni terlama di Empang.</p>
<p>Dari pak Wawan tim mendapatkan temuan bahwa masjid ini awalnya dibangun oleh kakek dari Raden Muhammad Thohir yang pada saat itu menjabat sebagai Demang (Bupati, red). Setelah meninggal posisi Demang digantikan oleh Syaikh Sholawat Dalem. Posisi di Kademangan diberikan kepada keluarga Syaikh Thohir oleh Belanda. Kademangan ini merupakan pusat pemerintahan di daerah Empang yang dulunya disebut Sukahati. Beliau juga menuturkan soal kohkol, bedug dan pengurus mesjid At-Thohiriyyah yang merupakan keturunan dari para Raden yang telah meninggal. Baik DKM, pemukul bedug, pemukul kohkol, sampai marbot masih keluarga Raden Muhammad Thohir.</p>
<p>Sementara itu kelompok An Nur mulai bergerak menuju lokasi sejak pukul 14.00. Tim sebanyak 4 orang ditambah 2 pendamping ini bergerak menyusur empang menjemput target, baik gambar maupun narasumber. Kali ini mereka berhasil menemui Habib Agil Bin Achmad Bin Abdullah Bin Syarif Bin Ahmad Bin Al Atas (85 th). Dari beliau tim beroleh cerita awalnya tempat ini kecil dan berfungsi sebagai mushola. Kemudian secara bertahap bangunannya diperbesar (renovasi) . Pemanfaatan masjid ini menilik pesan dari Habib Abdullah, tidak dilaksanakan shalat jum’at karena masih terdengar suara adzan dari masjid lain.  Termasuk adanya sebuah tradisi setiap malam ke 21 Ramadhan dilaksanakan shalat Tarawih massal, banyak jemaah yang beribadah kesini dan datang dari jauh.</p>
<p>Sukses mewawancarai Habib Agil, tim kemudian bergerak mencari narasumber lainnya. Hasilnya mereka bertemu dengan bapak Oos Masyur, ketua RW 012 yang tinggal di Empang sejak 1977. Dari pengetahuan beliau tim memperoleh catatan menarik. Menurut Oos Masjid At Tohiriyah lebih tua dari pada Masjid An Nur yang lokasinya berdekatan. Kira-kira 200 tahun yang lalu Masjid At Tohiriyah berdiri, saat ini masjid tersebut telah menjadi cagar budaya kota Bogor dan sudah mengalami beberapa kali renovasi. Meskipun berdekatan tetapi kehadiran masjid An Nur tidak terlalu berpengaruh bagi masyarakat sekitar. Memang ada beberapa perbedaan antara 2 masjid ini, seperti banyaknya peziarah yang datang dari luar untuk berziarah ke makam Habib Abdullah yang sejak dahulu dikenal sebagai ‘Tawasul’ atau perantara dengan Tuhan. Habib ini datang dari Yaman Selatan dan menyebarkan agama Islam sambil berdagang.</p>
<p>Pada hari kedua ini, kelompok Al Falak yang lokasi kajiannya ada di Pagentongan tak kalah menariknya. 8 orang anggota kelompok menyambangi kawasan Pagentongan, mereka terdiri dari 6 anggota kelompok dan 2 pendamping. Mereka bertemu  Pak Oyok yang merupakan keturunan K.H Falak di depan makam dan rumah Abah Falak. Dari pak Oyok, informasi yang didapat adalah keberadaan bangunan yang ada di sekitar masjid termasuk makam. <strong>Temuan tim Jejak masjid tua mendapati bahwa pada </strong>jarak 100 meter sebelum masjid, tampak bangunan-bangunan yang sepintas seperti dibangun pada awal abad 20. Bangunan ini tampaknya  sudah mulai  kehilangan orisinalitasnya, terlihat dari bentuk kaca dan kusen yang di cat baru. Bangunan tersebut merupakan kediaman KH. Falak pada masa kepemimpinannya sebagai ulama di Pondok Pesantren Al-Falak. Terdapat tiga bangunan terpisah sebagaimana penuturan salah satu keturunannya. Pertama ada ditengah, saat ini difungsikan sebagai penginapan untuk para Tamu yang berkunjung ke Al-Falak. Kedua terletak di sisi kanannya, saat ini difungsikan sebagai Majlis Ta’lim.  Ketiga yang terletak di belakang bangunan utama, merupakan ruangan ziarah untuk para tamu yang berniat untuk berziarah ke makam Abah Falak.</p>
<p>Sementara itu kelompok Al Mustofa yang meluncur ke lokasi pada pukul 16.17 mendapati pak Mukti (narasumber) seperti hari sebelumnya. Bedanya untuk kedatangan kali ini tim didampingi lengkap oleh dua pendampingnya, Lutfi dan Aryo. Yeni, Rizky dan Darmawan adalah anggota kelompok yang hadir pada hari itu. Sedangkan pak Bonar menurut informasi yang didapat saat itu berhalangan hadir. Andri sendiri mengkonfirmasi akan mendatangi masjid pas malam nanti untuk mengejar moment interaksi masjid dengan warga sekitar.</p>
<p>Dari pak Mukti tim mendapat temuan tentang keberadaan makam pendiri masjid, adanya mata air dan cerita tentang air untuk wudhu dari sumber mata air.</p>
<p>Sampai disini masing-masing tim menyusun kembali strategi inventarisasi data yang akan diperoleh. Dan penelururan jejak masjid ini belum berakhir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-makin-lengkap-cerita-pun-tuntas-diserap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #2: Tim Jejak Masjid Tua Temui Narasumber</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-jejak-masjid-tua-temui-narasumber/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-jejak-masjid-tua-temui-narasumber/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 16:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Kegiatan susur masjid tua yang digulirkan Kampoeng Bogor, pada hari ini, senin (23/8), mulai menapaki kegiatan turun lapangan. Peserta yang terbagi dalam empat kelompok kajian masjid, masing-masing mengunjungi lokasi sasaran. Yaitu kelompok Atthohiriyah yang mengunjungi Masjid Agung Empang Atthohiriyah, kelompok An Nur yang mengunjungi Masjid An Nur Tauhid, kelompok Al Falak yang mengunjungi Masjid Al Falak, dan kelompok Al Mustofa yang mengunjungi Masjid Al Mustofa. Kelompok Atthohiriyah terlihat mulai mendatangi masjid yang ada di Jl. R Aria Wiranata Empang Bogor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><span style="font-style: normal; font-weight: normal;">Kegiatan susur masjid tua yang digulirkan Kampoeng Bogor, pada hari ini, senin (23/8), mulai menapaki kegiatan turun lapangan. Peserta yang terbagi dalam empat kelompok kajian masjid, masing-masing mengunjungi lokasi sasaran. Yaitu kelompok Atthohiriyah yang mengunjungi Masjid Agung Empang Atthohiriyah, kelompok An Nur yang mengunjungi Masjid An Nur Tauhid, kelompok Al Falak yang mengunjungi Masjid Al Falak, dan  kelompok Al Mustofa yang mengunjungi Masjid Al Mustofa.</span></em></strong></p>
<p>Kelompok Atthohiriyah terlihat mulai mendatangi masjid yang ada di Jl. R Aria Wiranata Empang Bogor pada pukul 14.00 WIB. Mereka yang terdiri dari Nadya, Juna, Jojo dan Elly langsung melakukan observasi pada masjid yang berdiri sejak 1815 ini. Masjid yang berada di sisi barat alun-alun Empang sekilas nampak bercirikan tata ruang yang pernah digulirkan pada jaman Sunan Kalijaga. Dimana ada alun-alun, pusat pemerintahan dan masjid. Apalagi saat dikonfirmasi dengan catatan sejarah, kawasan Empang pernah dijadikan pusat pemerintahan oleh para Bupati Bogor (1754 M).</p>
<p>Sementara itu tak jauh dari lokasi masjid ini, kelompok An Nur yang terdiri dari Taufik, Desma, Fawas, Opang, dan Oni terlihat mendatangi masjid An Nur Tauhid. Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Kramat Empang berlokasi di Jl. Lolongok. Kedatangan mereka disambut Ustad Syarif, sosok yang diserahi tanggung jawab mengurus masjid ini. Setelah melaksanakan sholat Ashar berjamaah, kelompok ini langsung menginventarisir hal-hal menarik yang ada di masjid ini. Terlihat bangunan masjid yang masih mencirikan bangunan masa awal berdiri (1828). Bangunan ini terintegrasi dengan keberadaan makam pendiri yang banyak di-ziarah-i umat, yayasan pendidikan Islam Tauhid dan Madrasah.</p>
<p>Dari hasil wawancara dengan ustadz Syarif, tim ini menemukan kisah pendiri masjid yaitu seorang Habib yang berasal dari Yaman Selatan, dikenal dengan sebutan Waliyullah Al Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas (1351 H).  Sebelum  Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas wafat diketahui bahwa banyak peziarah yang datang untuk menuntut ilmu (memperdalam agama Islam). Banyaknya orang  arab yang berkunjung ke Empang dan menetap, kemudian wilayah ini sering disebut-sebut ‘Kampung Arab’. Suatu wilayah yang dihuni  banyak keturunan arab di Kota Bogor.</p>
<p>Di lokasi ini terdapat 7 buah makam pada bangunan yang sama. Makam tersebut adalah makam Alm. Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas (wafat Selasa 29 Zulhijah 1351 H ) dan 4 putranya, seorang putri dan seorang santri dari Habib Abdullah. Saat ini keturunan asli dari Habib Abdullah sudah pada generasi ke-6, mereka masih berdomisili dikawasan tersebut.</p>
<p>Uniknya masjid ini tidak pernah dipakai untuk shalat jum’at. Kabarnya hal ini terjadi karena dulunya  berfungsi sebagai mushola dan  wilayah masjid ini dulunya tidak cukup menampung jamaah yang banyak. Ada juga yang menyebutkan saat ada adzan di masjid lain yang dekat masih terdengar, sehingga masjid ini tidak mengadakan shalat jumat. Kelompok ini sempat juga mengunjungi rumah pendiri masjid yang saat ini berfungsi sebagai majelis untuk jamaan wanita.</p>
<p>Kelompok lainnya yaitu kelompok Al Falak ternyata menjadi kelompok yang paling sedikit pesertanya, hanya satu orang saja. Walaupun begitu, kelompok yang didampingi oleh Lingga ini tetap bersemangat untuk menapaki identitas masjid Al-fallak yang ada di Pagentongan kelurahan Loji. Masjid ini konon sudah berdiri sejak tahun 1901. Pada perjalanannya, personil kemudian bertambah menjadi empat orang setelah datangnya dua orang pendamping yang dikirim langsung dari Kampoeng Bogor.</p>
<p>Awal penggalian data, tim langsung mendatangi masjid Al-Falak yang ternyata sudah 11 bulan ini sedang direnovasi. Mereka kemudian menemui salah seorang pengurus masjid yang akan menjadi narasumber &#8211; Bapak Komaruddin. Pak Komaruddin mengarahkan kami kepada narasumber lainnya yang juga merupakan salah satu keturunan langsung dari pendiri pesantren Al-Fallak. KH. Fallak yaitu Bapak KH. Hasballah, beliau merupakan generasi ke-4 dari keluarga Fallak yang saat ini di usianya ke 72 tahun masih tetap aktif mengajar di lembaga pendidikan Al-Falak. Sebelum sempat berbincang, adzan ashar berkumandang dan segera tim pun bergagas mengambil air wudhu dan melakukan shalat berjamaah.</p>
<p>Selesai shalat, perbincangan dilanjutkan di kediaman KH.Hasballah yang berada tepat di sebelah asrama pesantren. Berbagai cerita mengenai tokoh pendiri pesantren, sejarah perkembangan, sampai dengan kultur yang masih tetap dijaga oleh masyarakat sekitar, dituturkan langsung oleh beliau, tidak hanya itu, belaiu pun dengan senang hati mau memberikan dokumen profil pesantren yang sudah sejak lama disusun bersama anaknya.</p>
<p>Perkembangan pesantren Al-Falak di kawasan pagentongan ini sedikit banyak mempengaruhi perkembangan kultur masyarakat di sekitarnya, hal ini terlihat dari perayaan-perayaan hari besar islam yang masih dilakukan oleh masyarakat dan telah menjadi agenda tahunan yang mampu mendatangkan tamu dari berbagai daerah.</p>
<p>Kelompok Mustofa pada yang mendatangi Masjid Al Mustofa di kelurahan Bantarjati tak kalah serunya. Kelompok sebanyak 4 orang ini langsung disambut pak Mukti, selaku pengurus masjid. Tanpa basa-basi tim langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Pak Mukti pun  tak sungkan membagi pengetahuannya tentang sejarah masjid yang didirikan oleh gabungan ulama Banten dan Cirebon. Diceritakan oleh beliau bahwa masjid ini didirikan oleh Tubagus Mustofa Bakri bersama 3 ulama lainnya pada tahun tertulis 1307 M. Data ini konon tercatat di salah satu bangunan masjid yang sayangnya sudah tidak ada lagi. Tim juga ditunjukkan pada keberadaan Al Qur’an tulis tangan yang ditulis oleh anak keturunan Tubagus Mustofa Bakri.</p>
<p>Saat disinggung keberadaan para pendirinya, pak Mukti kemudian mengajak tim ini ke arah makam para pendiri masjid dan anak keturunannya. Kompleks makam tua ini letaknya sekitar 200 meter dari masjid. Untuk mencapai lokasi tim harus menyeberang kali Cibagolo dan menembus kebon bambu.</p>
<p>Aksi turun lapangan pada hari pertama ini direncanakan akan terus didalami oleh masing-masing kelompok. Banyak cerita sejarah masjid dan lingkungan yang mempengaruhinya yang belum tergali. Rasa penasaran yang membuncah sepertinya menjadi spirit para peserta untuk terus menelusuri jejak masjid tua kota Bogor. Menapak Identitas Jejak Masjid Tua Kota Bogor pun akan berlanjut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/tim-jejak-masjid-tua-temui-narasumber/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #2: Hari Pertama Menapak Jejak Masjid AT-THOHIRIYYAH</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/laporan-junaedi-juna/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/laporan-junaedi-juna/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 16:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN JUNAEDI&#8211;Tak disangka mAsjid AT-THOHIRIYYAH yang berada di Jl Rd. Adipati Wiranata no. 1 RT 02/01 Empang Bogor Selatan ini menjadi mAsjid yang banyak keunikannya, seperti alun- alun yang ada di depan teras mesjid, yayasan sosial keagamaan dan  majlis ta’lim yang dipakai juga untuk tempat sholat wanita. Ada juga perpustakaan dan kantor DKM yang ada di samping kanan masjid. Mesjid At Thohiriyyah diperkirakan mengalami 3 kali renovasi. Dari data awal yang ditemukan, mesjid ini pada awalnya berdiri hanya sebatas rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN JUNAEDI&#8211;</strong>Tak disangka mAsjid AT-THOHIRIYYAH yang berada di Jl Rd. Adipati Wiranata no. 1 RT 02/01 Empang Bogor Selatan ini menjadi mAsjid yang banyak keunikannya, seperti alun- alun yang ada di depan teras mesjid, yayasan sosial keagamaan dan  majlis ta’lim yang dipakai juga untuk tempat sholat wanita. Ada juga perpustakaan dan kantor DKM yang ada di samping kanan masjid. Mesjid At Thohiriyyah diperkirakan mengalami 3 kali renovasi. Dari data awal yang ditemukan, mesjid ini pada awalnya berdiri hanya sebatas rumah panggung yang dapat menampung ± 150 jamaah. Selain itu ada juga sebuah alun-alun yang dulunya kerap juga dipakai perluasan shaf sholat pada hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Namun seringnya alun-alun tersebut ramai karena sempat dijadikan pasar dadakan.</p>
<p>Kemudian dari tahun 1971 mesjid ini sedikit mengalami perubahan, perbaikan dan perluasan hingga menjadi sebuah bangunan yang kokoh. Pada tahun 1981 mesjid ini mengalami perubahan yang lumayan signifikan dengan membuat pagar pada alun-alun dan mendirikan bangunan-bangunan disamping kiri dan kanan sebagai perluasannya, (Yayasan sosial, kantor DKM At Thohiriyyah, Perpustakaan dan Madrasah) yang sampai saat ini masih tetap berdiri. Namun sebagian bangunan tidak dipakai dan menjadi tempat penyimpanan barang atau gudang.</p>
<p>Pada sekitar Masjid AT-THOHIRIYAH  terdapat pula bangunan bangunan tua yang dulunya menjadi saksi pusat pemerintahan lokal Bogor, selain itu terdapat juga bangunan mesjid AT-TAQWA yang berada 100-150 meter di sebelah utara masjid  AT-THOHIRIYYAH dan masjid  NUR ALATAS, 200 meter disebelah timur.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah peserta minat desain grafis pada kelompok Atthohiriyah)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/laporan-junaedi-juna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #2: Suatu Hari, Senin 23 Agustus  At Thohiriyyah</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/laporan-yusuf-abdul-fatah/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/laporan-yusuf-abdul-fatah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 16:39:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN YUSUF ABDUL FATAH&#8211;Seperti yang di agendakan bersama, kelompok Masjid At Thohiriyyah akan berkumpul di BTM pada jam 14.00 WIB. Namun Didi (Nadya) sebagai Ketua kelompok, mengisyaratkan lewat sms akan tiba terlebih dahulu ketempat yang telah dijanjikan. Sedangkan para anggota lainnya akan tiba di TKP setelah angka menunjukan pukul dua siang. Karena itu dari SMSnya Didi terlihat “pegel” karena harus menunggu para anggota timnya. Di tempat lain Juna (Junaedi), dengan masih menggunakan helm bergegas memarkir motornya dan langsung menuju pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN YUSUF ABDUL FATAH&#8211;</strong>Seperti yang di agendakan bersama, kelompok Masjid At Thohiriyyah akan berkumpul di BTM pada jam 14.00 WIB. Namun Didi (Nadya) sebagai Ketua kelompok, mengisyaratkan lewat sms akan tiba terlebih dahulu ketempat yang telah dijanjikan. Sedangkan para anggota lainnya akan tiba di TKP setelah angka menunjukan pukul dua siang. Karena itu dari SMSnya Didi terlihat “pegel” karena harus menunggu para anggota timnya.</p>
<p>Di tempat lain Juna (Junaedi), dengan masih menggunakan helm bergegas memarkir motornya dan langsung menuju pada lokasi yang dituju. Setibanya disana dia langsung mengontak ketua tim yang telah tiba terlebih dahulu. Tak lama kemudian Didi, sang ketua pun tiba. Dengan raut wajah yang cukup ceria Juned menanyakan kabar anggota timnya yang lain. Beberapa saat kemudian, dengan senyum khas Garut Elly datang menghampiri. Suasana pun bertambah cair ketika Rani sang reporter dari tim videografi akhirnya muncul ditengah-tengah mereka. Begitupula dengan Erlan yang tampak lebih bersinar di siang hari itu mendatangi kerumunan tim.</p>
<p>Didi menginformasikan bahwa beberapa anggota tim At Thohiriyyah tidak dapat mengikut-sertakan diri mengikuti kunjungan lapangan. Mereka itu adalah Candra sang pegawai, yang harus mengikuti rapat dadakan dikantornya. Rafael kudu menggantikan mengajar selain itu Tanti juga tidak bisa mengikuti proses karena harus ngerjain tugas jurnalisnya, sedangkan Rezeki dipindahkan ke kelompok Al Mustofa dan Jojo tidak jelas kabar beritanya.</p>
<p>Setelah menunggu lama, akhirnya tim memutuskan beranjak ketempat tujuan inti, yaitu Masjid At Thohiriyyah. Setibanya dilokasi, tim telah ditunggu oleh Anggit sang Kordinator kegiatan yang sengaja datang untuk melihat dan mendampingi proses awal penggalian data yang akan diakukan tim. Ketika tim baru memulai <em>briefing</em> perdananya di hari itu, Jojo akhirnya menampakkan diri. Dengan senyum simpul yang ditampilkan dengan tampang <em>uninnocent</em>, Jojo langsung “nimbrung” diantara peserta lainnya.</p>
<p>Pada <em>Briefing</em> kali itu, para peserta didingatkan akan kewajiban masing-masing yang erat hubungannya dengan proses selanjutnya. Tim pun menentukan target dan hasil yang akan di capai para anggotanya. Untuk bagian jurnalis dan design akan meninjau lingkungan seputaran masjid dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan tim foto membidik bangunan masjid dan sekitarnya. Para anggota timpun langsung menyebar setelahnya hingga waktu Ashar menjelang.</p>
<p>Setelah melakukan Sholat Ashar bersama, tim pun kembali bergerak. Sedikit banyak mereka menyempatkan untuk mewawancarai pengunjung masjid yang kebetulan telah selesai melakukan aktifitas ibadahnya. Dari narasumber tersebut, tim baru mendapatkan sedikit informasi berkaitan dengan perkembangan masjid tersebut. Sepertinya  masjid tersebut kurang lebih telah mengalami tiga kali lebih perbaikan. Diceritakan pula disekitar masjid dan alun-alun tersebut pernah berdiri pusat pemerintahan Kademangan, seperti kantor dan rumah Demang (atau sekarang setingkat dengan Bupati/walikota). Selain itu bangunan-bangunan tua disekitarnya pun dibangun untuk menunjang kegiatan Kademangan, seperti bangunan tua di sebelah utara masjid yang merupakan bangunan bekas kantor Agama atau yang sekarang disebut dengan KUA. Namun banguan tua disekitaran masjid dan alun-alun tersebut telah banyak yang tergantikan dan beralih fungsi / kepemilikan.</p>
<p style="text-align: left;">Selanjutnya tim pun beranjak dari masjid tersebut untuk meninjau perkembangan wilayah sekitar. Dari penelusuran tim dilapangan, dapat diketahui bahwa dari jarak 150-200 meter masjid At Thohiriyyah tersebut. Di wilayah barat ditemukan makam keramat dan makam keluarga pendiri mesjid. Sedangkan di wilayah utara dan timur telah berdiri juga sebuah masjid. Pendirian kedua masjid tersebut menurut hasil dari wawancara awal dibangun pada tahun 1970-an menyesuaikan dengan bertambahnya jumlah penduduk. Masjid At Thohiriyyah sudah tidak lagi dapat menampung besarnya jumlah jamaahnya. Usai penelusuran wilayah, tim melakukan evaluasi dari hasil pendataan yang dilakukannya. Setelah menjelang pukul 17.00 WIB, para anggota tim pencari fakta tersebut mencapai butir-butir kesepakatan dan akan meneruskan penelusuran jejak masjid tersebut esok hari hingga akhirnya tim pun kembali pulang.<br />
<em></em></p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah pendamping utama  kelompok Atthohiriyah)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/laporan-yusuf-abdul-fatah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #2: Hari Pertama di Masjid An Nur Empang</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/hari-pertama-di-masjid-an-nur-empang/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/hari-pertama-di-masjid-an-nur-empang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 16:20:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN TAUFIK UMAR PRAYOGA, DESMA DAMAYANTI&#8211;Tak bisa dipungkiri kawasan empang merupakan kawasan pemukiman keturunan arab yang sudah mendiami daerah ini sejak seratusan tahun yang lalu, didaerah ini terdapat sebuah masjid yang konon berusia lebih dari seratus tahun, menurut pak salim seorang pengurus masjid sekaligus muadzin di masjid yang bernama Nur Tauhid ini menuturkan sedikit mengenai aktifitas di masjid Jamek selama bulan ramadhan (Jami&#8217;-Red) “Taraweh kita tidak seperti ditempat lain, selesai ditempat lain sekitar pukul delapan, baru kita mulai”. Dengan keunikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN TAUFIK UMAR PRAYOGA, DESMA DAMAYANTI&#8211;</strong>Tak bisa dipungkiri kawasan empang merupakan kawasan pemukiman keturunan arab yang sudah mendiami daerah ini sejak seratusan tahun yang lalu, didaerah ini terdapat sebuah masjid yang konon berusia lebih dari seratus tahun, menurut pak salim seorang pengurus masjid sekaligus muadzin di masjid yang bernama Nur Tauhid ini menuturkan sedikit mengenai aktifitas di masjid Jamek selama bulan ramadhan (Jami&#8217;-Red)</p>
<p>“Taraweh kita tidak seperti ditempat lain, selesai ditempat lain sekitar pukul delapan, baru kita mulai”.</p>
<p>Dengan keunikan arsitektur Timur Tengah-nya, masjid An-Nur didirikan oleh seorang Habib yang berasal dari Yaman Selatan yaitu Waliyullah Al Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas pada tahun 1351 hijriah. Pengaruh Arab sangat terasa karena pendiri masjid ini adalah seorang habib yang masyhur beliau  Habib  Abdullah bin Mukhsin al-Athas yang berasal dari Hadramaut, sebuah daerah di Yaman Selatan.  Keilmuan dan karomah beliau sudah terkenal hingga mancanegara terbukti dengan berduyun-duyunnya jamaah  dari berbagai daerah dan luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Yaman yang datang setiap malam ke dua puluh satu Ramadhan.</p>
<p>“Jalan empang ini sampai ditutup saking membludaknya” tutur pak Salim, narasumber yang ditemui tim.</p>
<p>Pada masjid ini terdapat 5 bangunan yaitu tempat ibadah atau masjid, yayasan, makam, rumah keluarga pendiri dan majlis ta’lim.  Memang terdapat 2 buah masjid diderah lolongok, Empang ini. Yaitu Masjid An Nur dan Masjid Atthohiriyah, namun dari sumber yang  didapatkan,  masjid At Thohiriyah berdiri lebih dulu.</p>
<p>Sebelum  Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas wafat diketahui bahwa banyak peziarah yang datang untuk menuntut ilmu(memperdalam agama Islam). Dikarenakan banyak orang  arab yang berkunjung ke Empang ini lalu menetap maka wilayah ini sering disebut ‘Kampung Arab’ sebagai salah satu wilayah yang dihuni oleh banyak keturunan arab di Kota Bogor.</p>
<p>Masjid yang berarsitektur timur tengah ini merupakan duplikat dari nama dan bentuk bangunan masjid di Yaman, kata “Nur” sendiri diambil dari nama salah seorang putri beliau Syarifah Nur yang makamnya berada tepat disebelah barat masjid. Pada hari-hari tertentu komplek makam ramai dikunjungi peziarah yang  datang dari berbagai daerah, khusus hari Jum’at  peziarah rata-rata berasal dari sekitar bogor. Konon kekaromahan dan luasnya ilmu beliau yang membawa mereka berziarah.</p>
<p>Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas wafat pada hari Selasa, 29 Zulhijah 1351 Hijriah. Beliau dimakamkan di bagian barat masjid An Nur. Terdapat 7 buah makam pada bangunan yang sama, bangunan tersebut mengimbangi arsitektur dari bagian gedung yang lainnya yaitu bergaya Timur Tengah. Makam tersebut adalah makam Alm. Habib Abdullah Bin Muksin Al Athas, 4 orang putranya, seorang putri dan seorang santri dari Habib Abdullah. Hingga saat ini keturunan asli dari Habib Abdullah sudah pada generasi ke-6 yang masih berdomisili disekitar daerah tersebut. Cerita mengenai kekaromahan beliau dituturkan secara turun temurun dan dari mulut kemulut, walaupun beliau berasal dari Yaman kedekatan denagn masyarakat sekitar terjalin begitu erat.<br />
Ada yang berbeda dari masjid An Nur ini yaitu pada kegunaannya. Masjid ini tidak pernah dipakai untuk shalat jum’at.  Banyak versi yang menungkap fakta tersebut namun menurut kabar hal itu dikarenakan dulunya lokasi ini berfungsi sebagai mushola. Pendapat lain juga menyebutkan wilayah masjid yang dulu tidak cukup menampung jamaah yang banyak. Ada juga yang menyebutkan saat ada adzan di masjid lain(dekat), suaranya masih terdengar hingga ke masjid ini.  Masjid ini pun tidak mengadakan shalat jumat.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Kedua penulis merupakan jurnalis kelompok An-Nur)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/hari-pertama-di-masjid-an-nur-empang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #2: Menelusuri Masjid Al Mustofa</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/menelusuri-masjid-al-mustofa/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/menelusuri-masjid-al-mustofa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 16:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN LUTFIE  KURNIA--Pukul 15.30 lebih sedikit berkumpulah Yeni, Darmawan dan Andri di sekretariat KALAM, sedangkan Pak Bonar langsung menuju lokasi. Sesuai dengan kesepakatan semalam, hari ini Kelompok Satoe akan turun lapang berkunjung ke Masjid Al Mustofa di wilayah Bantarjati Kaum. Hanya Zico yang belum ada kabar, apakah akan datang tapi telat atau mungkin sudah menunggu di Masjid tertua di Kota Bogor ini (menurut pengakuan warga setempat). Luthfi dan Ariyo sang pendamping kelompok sedang memacu gas kendaraannya dari Jakarta menuju Bogor, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN LUTFIE  KURNIA-</strong>-Pukul 15.30 lebih sedikit berkumpulah Yeni, Darmawan dan Andri di sekretariat KALAM, sedangkan Pak Bonar langsung menuju lokasi. Sesuai dengan kesepakatan semalam, hari ini Kelompok Satoe akan turun lapang berkunjung ke Masjid Al Mustofa di wilayah Bantarjati Kaum. Hanya Zico yang belum ada kabar, apakah akan datang tapi telat atau mungkin sudah menunggu di Masjid tertua di Kota Bogor ini (menurut pengakuan warga setempat). Luthfi dan Ariyo sang pendamping kelompok sedang memacu gas kendaraannya dari Jakarta menuju Bogor, tentunya dengan harapan walaupun telat tapi gak telat-telat amat, ini diketahui dari Ridha sang Ketua Kampoeng Bogor. Sebelumnya Luthfi meminta bantuan Ridha untuk mengkondisikan kelompoknya.</p>
<p>Jelang pukul 16.00 kurang sedikit, tim pun mulai berangkat. Sebanyak 3 orang dari Kelompok Satoe ditemani beberapa orang panitia, berangkat menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang hanya memakan waktu sepuluh menit ini memang tak terasa, baru saja duduk harus sudah turun lagi karena sudah sampai tujuan, benar saja Pak Bonar sudah menunggu di serambi masjid bersama anaknya yang masih berusia 11 tahun, tapi Zico masih belum terlihat juga batang hidungnya. Tiba-tiba seorang tua menghampiri rombongan dengan ramah, menggunakan peci warna hitam tetap saja tak mampu menyembunyikan rambutnya yang sudah memutih. Menggunakan pakaian koko dan sarungan Pak Mukti nama pria tua tersebut mempersilahkan rombongan untuk masuk ke dalam masjid. <em>“Mangga, kalebet”</em> ucapnya dengan logat sunda yang kental, beliau Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Al Mustofa yang sekaligus merupakan keturunan kelima dari pendiri masjid ini, KH. Tubagus Mustafa Bakri (Banten) dan KH. Ditta Manggala (Cirebon).</p>
<p>Investigasi pun dimulai. Masjid ini konon dibangun 2 Februari 1307 Masehi atau bertepatan dengan tahun 728 Hijriyah. Bagai seorang polisi menginterogasi tersangka, Pak Bonar mencecar Ketua DKM dengan berbagai pertanyaan. Mulai dari kapan masjid dibangun, dibangun oleh siapa, bangunan atau peninggalan apa saja yang masih ada hingga silsilah dari pendiri masjid. Tak hanya Pak Bonar  (seorang guru sejarah di SMK Taruna Andhiga) yang memang berminat pada bidang jurnalistik, Yeni seorang guru TK yang berminat dibidang desain graphis pun tak ketinggalan bertanya pada ustadz kelahiran tahun 1950 tersebut.</p>
<p><em>“Pak apakah bapak masih punya foto-foto sesepuh yang mengurus masjid ini atau foto lama masjid ini”</em>, pertanyaan yang menyesuaikan dengan bidangnya.</p>
<p>Lain lagi dengan Andri dan Darmawan, dua anak muda beda generasi ini terlihat asyik memainkan mata kameranya membidik bagian-bagian masjid yang terlihat tua. Sebuah Al-Qur’an tua yang ditaruh di dalam wadah kaca kadang menjadi rebutan untuk di foto, tinta asli yang digoreskan pada lembaran-lembaran kulit binatang tersebut memang sangat menarik perhatian, karena benda itu satu-satunya peninggalan yang tampak jelas masih tersisa.</p>
<p>Ustadz Mukti kemudian mengajak rombongan untuk melihat makam tua salah satu pendiri Masjid Al Mustofa. Jarak antara masjid dan makam yang hanya 250 meter membuat kami mengiyakan ajakan Ustadz Mukti, padahal langit mulai terlihat mendung sambil sesekali diiringi suara petir. Sebelum sampai ke makam, Ustadz Mukti menunjukan sebuah kolam kecil di balik rerimbunan, menurut beliau dari kolam kecil inilah air masjid berasal. Dialirkan melalui pipa ukuran 4 inch lalu disambung dengan pipa ukuran 3 inch inch hingga mengalirlah air tersebut kedalam bak penampungan yang berada di pojok belakang masjid. Ternyata air itu tak hanya untuk kepentingan jamaah masjid saja, melainkan dialirkan lagi melalui pipa-pipa kecil berukuran 2 inch ke rumah-rumah disekitar masjid, ada 38 rumah yang memanfaatkan air tersebut, konon sejak dulu mata air tersebut tak pernah “<em>saat</em>”.</p>
<p>Tak jauh dari mata air kurang lebih 50 meter, makam itu berada. Berada diketinggian, sunyi dan bersih kondisi makam tersebut.</p>
<p>“<em>Yang ini makam mbah Ditta Manggala</em>” kata Ustadz Mukti.</p>
<p>Selain itu berjejer beberapa makam tua lainnya seperti makam Putera Pertama KH. Tubagus Mustofa Bakri. Beberapa batu yang menghiasi makam memiliki ciri khas dari Banten dan Cirebon masih tampak terlihat, walaupun tidak utuh lagi. 15 menit di makam membuat kami semakin memahami arti kehidupan, hidup yang bermanfaat bukan hidup yang bergelimang harta tapi hidup yang bisa berbagi dengan orang lain, seperti para aulia yang telah berbagi ilmu dan kebaikan untuk orang banyak.</p>
<p>Tanpa terasa, waktu berbuka semakin mendekat. Pukul 17.50 kami berkumpul kembali di Masjid, satu persatu hidangan berbuka di hidangkan mulai dari air putih, teh manis hangat hingga air zamzam di suguhkan, kue bolu, kue lapis, goreng pisang hingga kurma membuat kami agak sedikit kurang enak karena merepotkan Ustadz Mukti. Namun tak sedikit pun tampak raut wajah yang kecewa dari Ustadz Mukti, bahkan gurat-gurat wajahnya tampak cerah sesaat setelah di basuh air wudhu.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah pendamping utama kelompok Al Mustofa)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/menelusuri-masjid-al-mustofa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #2: Keluarga Thohir, Pendiri Mesjid At-Thohiriyyah</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/keluarga-thohir-pendiri-mesjid-at-thohiriyyah/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/keluarga-thohir-pendiri-mesjid-at-thohiriyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 14:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[ LAPORAN NADIA ZULFIA ULFAH&#8211;Masjid At-Thohiriyyah yang berada di Jalan Empang Raya ini, dahulu hanya berbentuk surau atau rumah panggung (mushola, red). Mulai mengalami renovasi pada tahun 1817an oleh Raden Muhammad Thohir atau biasa disapa Syaikh Sholawat Dalem. “Masjid ini sebenarnya dibangun oleh kakek dari Syaikh Sholawat. Saat Syaikh Sholawat jadi Demang barulah Mesjid yang besar seperti saat ini” ujar Wawan, Ketua Dewan Kesejahteraan Masjid At-Thohiriyyah. Masjid ini awalnya dibangun oleh kakek dari Raden Muhammad Thohir yang pada saat itu menjabat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<a href="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/jejak-masjid/3.jpg" title="" class="shutterset_singlepic49" >
	<img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://kampoengbogor.org/wp-content/gallery/cache/49__240x180_3.jpg" alt="3" title="3" />
</a>
 <strong>LAPORAN NADIA ZULFIA ULFAH</strong>&#8211;Masjid At-Thohiriyyah yang berada di Jalan Empang Raya ini, dahulu hanya berbentuk surau atau rumah panggung (mushola, red). Mulai mengalami renovasi pada tahun 1817an oleh Raden Muhammad Thohir atau biasa disapa Syaikh Sholawat Dalem.</p>
<p>“Masjid ini sebenarnya dibangun oleh kakek dari Syaikh Sholawat. Saat Syaikh Sholawat jadi Demang barulah Mesjid yang besar seperti saat ini” ujar Wawan, Ketua Dewan Kesejahteraan Masjid At-Thohiriyyah.</p>
<p>Masjid ini awalnya dibangun oleh kakek dari Raden Muhammad Thohir yang pada saat itu menjabat sebagai Demang (Bupati, red). Setelah meninggal posisi Demang digantikan oleh Syaikh Sholawat Dalem. Posisi di Kademangan diberikan kepada keluarga Syaikh Thohir oleh Belanda. Kademangan merupakan pusat pemerintahan daerah Empang yang dulu disebut Sukahati.</p>
<p>Masjid maupun daerah sekitar telah mengalami sedikit demi sedikit perubahan. Baik berupa alun-alun yang berada di arah barat mesjid maupun rumah penduduk sekitar. Setelah ditelusuri lebih mendalam tentang daerah sekitar ternyata alun-alun yang berupa sebuah lapangan yang berukuran sedang tersebut dulunya adalah sebuah pasar. Hal ini masih merupakan hal yang simpang-siur begitupun dengan perubahan yang terjadi pada mesjid itu sendiri. Menurut salah satu narasumber yang bernama Umar Utsman Bajened ini.</p>
<p>“Alun-alun yang berada di depan mesjid bukan sebuah pasar. Memang pernah tapi masyarakat sekitar tidak setuju”.</p>
<p>Maka, pasar tersebut tidak jadi dibangun. Adapun pasar yang dimaksud mungkin hanya sekumpulan pedagang-pedagang kaki lima yang bisa muncul dimana saja.</p>
<p>Dahulu terdapat sebuah bedug dan kohkol (pentungan, red) atau singkatan dari <em>ditakol morongkol</em> . Budayanya pada waktu itu adalah setiap Jum&#8217;at siang ketika para lelaki masih sibuk dengan kesibukannya, Kohkol ini dipukul berirama oleh seorang pemukul Kohkol (sekarang sudah meninggal). Suara pukulannya terdengar sampai 1 km, para lelaki tersebut mulai meninggalkan pekerjaan mereka dan bersiap-siap ke sungai Cisadane untuk mandi beramai-ramai dan berwudhu untuk melaksanakan sholat Jum&#8217;at di mesjid. Namun, karena beberapa hal budaya memukul kohkol ini sudah tidak digunakan lagi.</p>
<p>“Sekarang kohkol ini sudah tidak digunakan karena sang pemukul kohkol sudah meninggal dan tidak ada penerusnya.” ujar Sulaiman salah seorang marbot (penjaga mesjid, red) yang masih keturunan Raden.</p>
<p>Sampai saat ini yang mengurus mesjid At-Thohiriyyah adalah keturunan-keturunan dari para Raden yang telah meninggal. Baik DKM, pemukul bedug, pemukul kohkol, sampai marbot masih keluarga Raden Muhammad Thohir. Jika keturunan Raden terhenti pada tugas-tugasnya maka pengurus mesjid menjadi tidak tertata lagi. Nadia Zulfia Ulfah.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah jurnalis pada kelompok At-thohiriyyah)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/keluarga-thohir-pendiri-mesjid-at-thohiriyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #2: Jejak Masjid Al Falak Pagentongan</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/jejak-masjid-al-falak-pagentongan/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/jejak-masjid-al-falak-pagentongan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 07:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN AHMAD ANOVA LINGGA WASTU--Lingkungan pagentongan terbilang masih asri, terbukti dengan adanya pepohonan di pinggir jalan mengapit beberapa bangunan. Kami menemukan adanya Komplek sekolah Al Falak di daerah Pagentongan dan juga asrama Putri di sisi kanan jalan. Selain itu, ada juga 2 komplek pemakaman yang belum kami diidentifikasi apakah itu masih bagian dari Al Falak atau bukan. Tidak jauh dari area masjid dan pesantren Al Falak, kami menemukan adanya pesantren dan pusat rehabilitasi Salafiyah Al-Um, yang belum dipastikan memiliki hubungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAPORAN AHMAD ANOVA LINGGA WASTU-<span style="font-weight: normal;">-Lingkungan pagentongan terbilang masih asri, terbukti dengan adanya pepohonan di pinggir jalan mengapit beberapa bangunan. Kami menemukan adanya Komplek sekolah Al Falak di daerah Pagentongan dan juga asrama Putri di sisi kanan jalan. Selain itu, ada juga 2 komplek pemakaman yang belum kami diidentifikasi apakah itu masih bagian dari Al Falak atau bukan. Tidak jauh dari area masjid dan pesantren Al Falak, kami menemukan adanya pesantren dan pusat rehabilitasi Salafiyah Al-Um, yang belum dipastikan memiliki hubungan atau tidak dengan Masjid dan Pesantren Al Falak.</span></strong></p>
<p>Memasuki perkampungan dengan jalan setapak yang bisa dilewati 4 orang secara berjajar, tim Al Falak mulai terasa terbawa ke masa lalu dengan adanya beberapa bangunan dengan arsitektur tua di sisi kanan jalan, menurut informasi yang kami dapat setelahnya, bangunan itu merupakan rumah berkumpul para tamu dan keturunan yang sering berkunjung, di sebelahnya terdapat makam KH Al Falak dan di belakangnya ada bangunan yang juga masih memiliki arsitektur tua yang dijadikan Majelis Ta’lim.</p>
<p>Kami menuju masjid dan menemukan sesuatu yang boleh dibilang cukup mengecewakan. Ternyata masjid AL Falak sedang di renovasi dan di rombak total, sehingga tidak lagi terlihat bentuk aslinya, kecuali beberapa bagian masjid yang sengaja dibiarkan tetap terjaga seperti aslinya yaitu: mimbar masjid, menara masjid, dan 2 pilar masjid yang sengaja dipertahankan untuk dijadikan contoh bagi pilar lainnya di akhir pembangunan.</p>
<p>Menurut bapak Komar yang bertugas mengawasi proses pembangunan masjid, renovasi selama masjid ini berdiri telah dilakukan lebih dari 3 kali. Jika renovasi sebelumnya hanya sekedar pemugaran, maka sekarang di rombak total karena sudah tidak memungkinkan untuk mempertahan bangunan yang sudah semakin tua.</p>
<p>Selama proses yang sudah berlangsung selama 11 bulan ini, Masjid Al Falak kini bertambah satu tingkat ke atas untuk menampung warga saat beribadah. Yang dipertahankan hanyalah menara masjid yang didesain bertingkat 5 dengan tinggi kurang lebih 10 meter, tetapi untuk kedepannya pak Komar mengatakan bahwa menara tersebut pun akan mengalami pemugaran, tetapi hanya sekedar perawatan dan penambahan ornament di dindingnya untuk mengikuti perubahan di masjid tersebut.</p>
<p>Tim Al Falak kagum dengan rumah peninggalan KH Falak dan komplek makam beliau yang terawat dengan cukup baik tertutup dengan tembok setinggi 2 meter. Satu hal yang menarik dari Masjid Al Falak adalah tempat wudhu yang letaknya cukup unik karena berada sekitar 1 meter di bawah permukaan tanah.</p>
<p>Sedikit aneh rasanya sholat didalam masjid yang sedang dibangun, tetapi kondisi tersebut tidak berpengaruh pada puluhan warga yang berdatangan mengikuti shalat berjamaah. Selesai shalat berjamaah, kami menemui Bapak Haji Hasbullah. Beliau mulai menjabarkan beberapa informasi menarik tentang sejarah dan tradisi secara umum karena ingatannya yang mulai terbatas akibat faktor usia, antara lain</p>
<p>Ilmu falak merupakan ilmu perbintangan atau lebih dikenal dengan ilmu astronomi. Tetapi sangat disayangkan Ilmu Falak tidak termasuk dalam pokok ajaran yang di ajarkan dalam pesantren Al Falak. Karena KH Falak sendiri tidak menurunkan ilmu tersebut secara spesifik. Banyak yang kurang tertarik pada ilmu Falak dikarenakan tingkat kesulitannya yang cukup tinggi dan dibutuhkan ketelitian yang sangat besar pula. Tetapi semasa hidupnya, Abah Falak tidak menutup diri menurunkan ilmu Falak kepada santri yang meminta diajarkan ilmu tersebut.</p>
<p>Yang luar biasa dari Abah Falak salah satunya adalah saat menentukan peringatan hari tertentu dan bahkan jadwal shalat. Menurut Haji Hasbullah, Abah Falak kerap kali memerintahkan puasa pada waktu tertentu yang tidak diketahui oleh santri maupun orang awan, tetapi konon perhitungan beliau tidak pernah meleset apalagi saat menentukan waktu puasa Ramadhan.</p>
<p>Menurut penuturan Haji Achmad Hasbullah dari sepupunya yang bernama Wa Penoh, KH Falak atau disebut juga dengan Abah Falak memiliki panggilan kecil, yaitu: Abdul Haris. Seperti halnya pesantren lain di nusantara, ilmu yang diajarkan di Pesantren Al Falak cenderung sama, seperti mendorong dan mengajarkan santri untuk dapat hidup mandiri, Ukhuwah Islamiyah, Ilmu fiqih dan lain sebagainya. Hanya saja perbedaan terletak pada kitab khusus yang digunakan.</p>
<p>Secara pribadi, Abah Falak merupakan sosok yang dermawan, selalu memotivasi santri dan keluarganya dalam hal kehidupan dan beragama, sederhana, tawadhu dan tidak membedakan antara pria dan wanita secara keras. Dan hubungannya dengan para santri bisa dikatakan sangat bijaksana, beliau bisa menjadi teman bercerita bagi para santri tanpa mengilangkan kewibawaannya. Dan dalam situasi tertentu bisa menjadi orang yang sangat dihormati oleh para santri.</p>
<p>Ada tradisi menarik yang masih ada hingga sampai saat ini di lingkungan Masjid Al Falak, salah satunya adalah pada saat perayaan Maulud Nabi. Para warga dari berbagai kelompok (sekarang RT) mengarak keliling desa sebuah tandu yang berisi berbagai macam makanan diiringi marawis kemudian berkumpul di masjid untuk membagikan makanan tersebut. Acara ini dihadiri lebih dari 4000 orang termasuk warga dan tamu yang berdatangan dari dalam maupun luar kota. Dan pernah di liput oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional.</p>
<p>Sedangkan tradisi pesantren yang sekarang sudah dihapuskan adalah memasak hidangan secara bersamaan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan antar para santri. Karena suatu hal, tradisi tersebut hilang sejak tahun 1985. Selama tradisi tersebut berlangsung, Abah Falak kerap kali turut makan bersama dengan para santri. Santri yang menuntut ilmu di Pesantren Al Falak datang dari penjuru nusantara. Mereka mengetahui informasi tentang keberadaan pesantren Al Falak dari keluarga dan bahkan dari beberapa media massa yang memuat berita tentang Al Falak. Beberapa lulusan Al Falak saat ini menduduki kursi penting di berbagai instansi, seperti Suryadharma Ali Menteri Agama kabinet bersatu II, termasuk Pembantu Rektor di universitas Jayabaya yang juga menduduki posisi penting di UIN.</p>
<p>Pada tanggal beliau meninggal selalu ada perayaan yang dilakukan. Peringatan ini dihadiri oleh keluarga, warga sekitar, para alumni dan ratusan warga lainnya yang datang berombongan dari daerah Tangerang, Bandung, Tanjung Priok. Didalamnya ada berbagai acara seperti tahlilan, pengajian, dan santunan keluarga kepada fakir miskin. Dan yang tidak bisa dielakkan dari acara ini adalah memberikan kontribusi pemasukan tambahan bagi para warga sekitar. Sebuah berkah yang luar biasa yang masih bisa dirasakan sampai saat ini bahkan setelah beliau wafat puluhan tahun lamanya.</p>
<p style="text-align: right;"><em>(Penulis adalah pendamping kelompok Al Falak)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/jejak-masjid-al-falak-pagentongan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari #1: Jejak Masjid Tua Kota Bogor Telah Dimulai</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/jejak-masjid-tua-kota-bogor-telah-dimulai/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/jejak-masjid-tua-kota-bogor-telah-dimulai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 17:19:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Kegiatan perdana Menapak Identitas jejak Masjid Tua Kota Bogor resmi dimulai pada hari minggu (22/8). Sebanyak 33 peserta terlibat dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Kampoeng Bogor. 33 peserta itu adalah yang terkonfirmasi datang setelah sebelumnya mereka mendaftarkan diri via email ke kampoengbogor@kampoengbogor.org. Kehadiran mereka ini utamanya adalah untuk mengikuti workshop kapasitas yang diberikan pemateri, sebelum mereka turun lapangan. Senang sekali melihat antusias para peserta Jejak masjid. Mereka berasal dari berbagai usia dan lintas profesi, ada yang pelajar, mahasiswa, guru/dosen, peneliti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kegiatan perdana Menapak Identitas jejak Masjid Tua Kota Bogor resmi dimulai pada hari minggu (22/8). Sebanyak 33 peserta terlibat dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Kampoeng Bogor. 33 peserta itu adalah yang terkonfirmasi datang setelah sebelumnya mereka mendaftarkan diri via email ke <a href="http://">kampoengbogor@kampoengbogor.org</a>. Kehadiran mereka ini utamanya adalah untuk mengikuti workshop kapasitas yang diberikan pemateri, sebelum mereka turun lapangan.<br />
Senang sekali melihat antusias para peserta Jejak masjid. Mereka berasal dari berbagai usia dan lintas profesi, ada yang pelajar, mahasiswa, guru/dosen, peneliti hingga aktivis pemuda. Sebelum masuk pada materi kapasitas, peserta dijelaskan kegiatan umum Jejak Masjid yang akan dimulai 22 sampai 28 Agustus nanti. Mereka pun juga dibekali cerita sejarah awal (hasil googling) berkembangnya Islam di Bogor, termasuk cerita sejarah empat masjid yang akan dijadikan sasaran. Empat lokasi masjid itu adalah Masjid Al Falak di Pagentongan Loji, Masjid Al Mustofa di Bantarjati Kaum, Masjid Agung Empang Atthohiriyah dan Masjid An Nur Tauhid Lolongok kelurahan Empang.<br />
Ridha, koordinator Kampoeng Bogor menjelaskan kegiatan umum Jejak Masjid Tua Kota Bogor ini. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai kegiatan alternatif bulan Ramadhan Kampoeng Bogor, komunitas yang selama ini  bergerak mengusung cerita sejarah Kota Bogor untuk disebarluaskan sebagai upaya  mendorong kepedulian. Pilihan kegiatan jejak masjid dipilih untuk melihat jejak syiar Islam di Bogor yang dipengaruhi oleh kedatangan bangsa Arab dari Asia Tengah, peran Para Wali (Islam di Jawa) dan fakta bahwa Pajajaran merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa yang belum di Islam-kan. Hal menarik untuk dikaji dan didalami ternyata di Bogor terdapat beberapa Masjid ‘tertua’ di kota Bogor. Kemudian melihat peran ulama Banten dan keluarga Habib, termasuk lokasi Masjid dan perkembangan daerah sekitarnya.<br />
Untuk menelusuri jejak masjid tua, Kampoeng Bogor membekali peserta dengan kemampuan Jurnalistik, Fotografi, Videografi dan Desain Grafis. Mereka disebar dibeberapa tempat untuk mendapatkan pembekalan materi sebelum ke lapangan. Untuk kelas fotografi dan videografi dipusatkan di KALAM, kelas desain grafis di Gallery Kampoeng Bogor. Sedangkan kelas jurnalistik di pusatkan di SALAM. Hasil dari kegiatan ini akan dikemas dalam bentuk Buku, Film, Pameran Foto dan Desain Grafis. Selain itu hasilnya juga akan disebarkan dengan cara upload pada media-media online.<br />
Sementara itu pada paparan sejarah yang disampaikan oleh Anggit, terkuaklah sedikit cerita masuknya Islam di nusantara. Islam berkembang melalui tiga fase, yaitu fase abad ke-7 melalui Sumatra. Kemudian abad 13 yang ditandai dengan kedatangan para wali. Terakhir pada masa kolonial.  Islam di Bogor kemungkinan masuk pada abad 13, dimana Kerajaan Pajajaran diketahui merupakan Kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa. Saat itu Syarif Hidayatullah (yang kemudian dikenal Sunan Gunung Jati) mendalangi berdirinya kesultanan Cirebon dan Banten. Beliau merupakan  cucu Raja Siliwangi yang lahir dari Putri Rarasantang yang menikah dengan Penguasa Mesir, Sultan Syarif Abdullah. Perkembangan Islam masuk ke wilayah Pajajaran pada awalnya berlangsung tanpa kekerasan. Raja Pajajaran walaupun menolak masuk Islam, namun membiarkan rakyat, pangeran dan panglima perang mereka memeluk Islam. Akibatnya banyak pangeran dan punggawanya yang menjadi pengikut Banten dan Cirebon serta memerintah disana. Kondisi ini lama-lama membuat Pajajaran redup, tergantikan oleh kekuatan Islam.<br />
Pada tanggal 28 April 1579, Maulana Yusuf dari Banten memadamkan kekuatan Pajajaran secara resmi dengan bantuan Kesultanan Cirebon dan Demak. Setelah Pajajaran runtuh, maka runtuhlah seluruh kekuatan Hindu di Jawa. Sayangnya bekas Pajajaran tersebut tidak dihuni dan ditinggalkan begitu saja sampai akhirnya menjadi hutan. Pada babak selanjutnya penyebaran Islam di Bogor banyak dilakukan oleh ulama-ulama Banten dan para Habib. Mereka memiliki jejak di keempat masjid tersebut.<br />
Peserta kemudian dibagi dalam empat kelompok kajian masjid. Setiap kelompok dilengkapi dengan peserta yang telah dibekali materi kapasitas jurnalistik, fotografi, videografi dan desain grafis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/jejak-masjid-tua-kota-bogor-telah-dimulai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kota Bogor tahun 45</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/kota-bogor-tahun-45/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/kota-bogor-tahun-45/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 15:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Enam puluh lima tahun yang lalu, saat Republik mulai akan berdiri. Kota Bogor masih dalam cengkraman penguasa Nippon (Jepang). Situasi kota yang sebelumnya &#8220;Buitenzorg&#8221; (dalam istilah Belanda artinya lepas dari kepenatan) tak ubahnya seperti situasi di kota-kota lain. Mencekam dan tak lepas dari kekerasan dan kekejaman penguasa saat itu. Penduduk Bogor tidak memiliki kebebasan untuk beraktifitas. Semua fasilitas yang diduduki oleh tentara Nippon langsung berubah menjadi aset militer mereka. Seperti Hotel Dibbet (sekarang Hotel Salak) yang dijadikan markas Kenpeitai, Istana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Enam puluh lima tahun yang lalu, saat Republik mulai akan berdiri. Kota Bogor masih dalam cengkraman penguasa Nippon (Jepang). Situasi kota yang sebelumnya &#8220;Buitenzorg&#8221; (dalam istilah Belanda artinya lepas dari kepenatan) tak ubahnya seperti situasi di kota-kota lain. Mencekam dan tak lepas dari kekerasan dan kekejaman penguasa saat itu. Penduduk Bogor tidak memiliki kebebasan untuk beraktifitas. Semua fasilitas yang diduduki oleh tentara Nippon langsung berubah menjadi aset militer mereka. Seperti Hotel Dibbet (sekarang Hotel Salak) yang dijadikan markas Kenpeitai, Istana Bogor, Hotel Bellevue, Stasiun dan lainnya.</p>
<p>Suatu saat muncullah peluang mendapat pengakuan sebagai bangsa merdeka. Berawal dari munculnya selebaran dari  kapal udara sekutu pada akhir September 1944. Selebaran itu berisi pemberitahuan perihal kedatangan sekutu di Jawa.  Melihat kondisi ini pemerintah Jepang pun berusaha menarik simpati penduduk dengan membolehkan pemasangan bendera merah putih. Lalu keluarlah aturan pemasangan bendera termasuk janji kemerdekaan dalam arti tidak lepas dari ikatan dengan kekaisaran Jepang. Peraturan ini diumumkan di Warta Bogor Shu  bertanggal 14 September 1944. Sejak itu berangsur-angsur diberi izin mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.</p>
<p>Terbukanya peluang dan janji kemerdekaan telah mendorong  utusan Kantor Besar Djawa Hooko Kai pergi ke berbagai tempat, untuk mengadakan pidato dalam berbagai rapat tertutup dan rapat umum tentang Kemerdekaan Indonesia di kemudian hari. Di Bogor utusan dilakukan oleh Mr. R. Samsoedin yang datang pada pada 3 Oktober 1944. Saat itu pidatonya disampaikan R. Oto Iskandar Dinata.</p>
<p><strong>Provokasi Sekutu</strong><br />
Pagi itu sekitar jam 09.50 tanggal 26 Januari 1945, sebuah pesawat terbang sekutu terbang tinggi dari arah Selatan menyerbu daerah Bogor. Sekitar jam 10.00 kelihatan lagi 6 buah pesawat terbang musuh berputar-putar di Gunung Batu. Kemudian Jam 10.30 pesawat tersebut melarikan diri ke arah Selatan tanpa menjatuhkan bom atau selebaran apapun.</p>
<p>Pada masa itu golongan peranakan Belanda ditempatkan oleh tentara Dai Nippon di suatu daerah di Bogor yang diberi nama <em>Zyenryo Kukonketu Juumin Noogyo Tikusan Imin Dogyoâ</em> (tempat pertanian golongan peranakan), kemungkinan pengelompokkan dalam satu lokasi tersebut untuk memudahkan pengawasan dan menjadi sandera.</p>
<p>Ir Soekarno Tanggal 16 Maret 1945 mengunjungi Bogor dari Karesidenan Banten. Beliau seperti biasa memberikan pidato menyala-nyala tentang pentingnya perang Asia Timoer Raja, semangat perjuangan, dan tidak lupa menyanyikan Indonesia Raya.</p>
<p>Tanggal 18 Mei 1945 dilangsungkan rapat umum di <em>Midori Gekizya</em> Bogor, yang dihadiri  para pembesar Nippon dan Indonesia. Turut hadir pula sekitar 500 penduduk lelaki dan perempuan dari semua golongan. Dalam rapat tersebut disebutkan bahwa sikap Pemerintah Agung Dai Nippon terhadap Indonesia adalah seperti sikap Ibu-Bapak terhadap anaknya. Juga bahwa Bangsa Indonesia merupakan seketurunan dengan Bangsa Nippon. Seterusnya disampaikan juga perihal tentang kemerdekaan Indonesia yang di hari kemudian harus tetap memegang sifat ketimurannya dan menjadi keluarga Asia Timoer Radja yang sejati. Rapat umum ditutup oleh pidato Toean Gatot Mangkupradja.</p>
<p>Pada 6 Agustus 1945 sebuah bom dijatuhkan di Hiroshima, kemudian 9 Agustus 1945 bom itu jatuh di Nagasaki. Atas pengeboman tersebut tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah. Berita penyerahan Jepang inilah yang akhirnya memicu pernyataan kemerdekaan atau proklamasi pada 17 Agustus 1945, jam 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur no. 56.</p>
<p>Setelah kemerdekaan berkumandang, gerakan ambil alih segala aset dari Jepang oleh Repoeblik dilaksanakan berangsur-angsur mulai dari perorangan hingga kelompok. Beberapa gedung didatangi dan ditempel dengan tulisan milik Repoeblik, bendera Jepang diturunkan, atau dengan mengusir orang Jepang.</p>
<p>Oktober 1945, situasi kota Bogor sangat genting. Sekutu dengan pimpinan tentara Inggris dan Gurkha memasuki daerah Bogor, yang kesempatannya juga ditunggangi oleh tentara NICA. Pertama kali yang mereka datangi adalah tangsi Batalyon XVI bekas tentara Jepang yang sudah dikosongkan. Tentara Inggris dan Gurkha kemudian melebarkan kekuasaannya dengan menduduki Kota Paris, tempat nyonya-nyonya dan anak-anak Belanda (RAPWI/ Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees) dikumpulkan. Dalam waktu singkat Kota Paris dapat direbut dengan mudah oleh tentara Inggris.</p>
<p>Sikap tentara Inggris yang sombong justru menyakitkan hati rakyat. Pada tanggal 6 Desember 1945, terjadilah pemberontakan oleh seluruh masyarakat Bogor. Mereka hanya bersenjatakan bambu runcing, golok, pedang dan senjata ala kadarnya. Peperangan ini berlangsung sengit dan menggetarkan, terutama di sekitar Istana Bogor dan Kota Paris. Lalu pada tanggal 21 Desember, sebanyak 250 serdadu Gurkha yang bersenjata lengkap  tank dan truk menuju Keboen Radja dan Kota Paris, rupanya mereka hendak menggulung kawat-kawat telepon yang mereka pasang karena Kota Paris sudah dikosongkan. Sementara di atas Kota Bogor melayang pesawat udara yang menjatuhkan sebuah surat kabar Kebenaran no. 27 yang berisi berbagai berita dunia. Orang yang mendapatkan surat kabar tersebut segera menyerahkannya kepada yang berwajib.</p>
<p>Ditengah situasi Kota Bogor yang kian memanas itu, Kapten Muslihat bersama pasukannya melakukan penyerangan ke markas-markas yang diduduki tentara Inggris dan Gurkha. Pada  tanggal 25 Desember 1945, Kapten Muslihat bersama pasukannya  menyerang  kantor Polisi yang terletak di Djalan Banten (sekarang jalan Kapten Muslihat), dalam penyerangan tersebut Kapten Muslihat gugur.</p>
<p><strong>Antara Jepang, Sekutu dan Kapten Muslihat</strong><br />
Enam puluh lima tahun yang lalu, saat Republik mulai akan berdiri. Kota Bogor masih dalam cengkraman penguasa Nippon (Jepang). Situasi kota yang sebelumnya Buitenzorg (dalam istilah Belanda artinya lepas dari kepenatan) tak ubahnya seperti situasi di kota-kota lain. Mencekam dan tak lepas dari kekerasan dan kekejaman penguasa saat itu. Penduduk Bogor tidak memiliki kebebasan untuk beraktifitas. Semua fasilitas yang diduduki oleh tentara Nippon langsung berubah menjadi aset militer mereka. Seperti Hotel Dibbet (sekarang Hotel Salak) yang dijadikan markas Kenpeitai, Istana Bogor, Hotel Bellevue, Stasiun dan lainnya. Suatu saat muncullah peluang mendapat pengakuan sebagai bangsa merdeka. Berawal dari munculnya selebaran dari  kapal udara sekutu pada akhir September 1944.</p>
<p>Selebaran itu berisi pemberitahuan perihal kedatangan sekutu di Jawa.  Melihat kondisi ini pemerintah Jepang pun berusaha menarik simpati penduduk dengan membolehkan pemasangan bendera merah putih. Lalu keluarlah aturan pemasangan bendera termasuk janji kemerdekaan dalam arti tidak lepas dari ikatan dengan kekaisaran Jepang.</p>
<p>Peraturan ini diumumkan di Warta Bogor Shu  bertanggal 14 September 1944. Sejak itu berangsur-angsur diberi izin mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.Terbukanya peluang dan janji kemerdekaan telah mendorong  utusan Kantor Besar Djawa Hooko Kai pergi ke berbagai tempat, untuk mengadakan pidato dalam berbagai rapat tertutup dan rapat umum tentang Kemerdekaan Indonesia di kemudian hari.</p>
<p>Di Bogor utusan dilakukan oleh Mr. R. Samsoedin yang datang pada pada 3 Oktober 1944. Saat itu pidatonya disampaikan R. Oto Iskandar Dinata.Provokasi SekutuPagi itu sekitar jam 09.50 tanggal 26 Januari 1945, sebuah pesawat terbang sekutu terbang tinggi dari arah Selatan menyerbu daerah Bogor. Sekitar jam 10.00 kelihatan lagi 6 buah pesawat terbang musuh berputar-putar di Gunung Batu.</p>
<p>Kemudian Jam 10.30 pesawat tersebut melarikan diri ke arah Selatan tanpa menjatuhkan bom atau selebaran apapun.Pada masa itu golongan peranakan Belanda ditempatkan oleh tentara Dai Nippon di suatu daerah di Bogor yang diberi nama &#8220;Zyenryo Kukonketu Juumin Noogyo Tikusan Imin Dogyo&#8221; (tempat pertanian golongan peranakan), kemungkinan pengelompokkan dalam satu lokasi tersebut untuk memudahkan pengawasan dan menjadi sandera. Ir Soekarno Tanggal 16 Maret 1945 mengunjungi Bogor dari Karesidenan Banten.</p>
<p>Beliau seperti biasa memberikan pidato menyala-nyala tentang pentingnya perang Asia Timoer Raja, semangat perjuangan, dan tidak lupa menyanyikan Indonesia Raya.Tanggal 18 Mei 1945 dilangsungkan rapat umum di Midori Gekizya Bogor, yang dihadiri  para pembesar Nippon dan Indonesia.</p>
<p>Turut hadir pula sekitar 500 penduduk lelaki dan perempuan dari semua golongan. Dalam rapat tersebut disebutkan bahwa sikap Pemerintah Agung Dai Nippon terhadap Indonesia adalah seperti sikap Ibu-Bapak terhadap anaknya. Juga bahwa Bangsa Indonesia merupakan seketurunan dengan Bangsa Nippon.</p>
<p>Seterusnya disampaikan juga perihal tentang kemerdekaan Indonesia yang di hari kemudian harus tetap memegang sifat ketimurannya dan menjadi keluarga Asia Timoer Radja yang sejati. Rapat umum ditutup oleh pidato Toean Gatot Mangkupradja.6 Agustus 1945 sebuah bom dijatuhkan di Hiroshima, kemudian 9 Agustus 1945 bom itu jatuh di Nagasaki. Atas pengeboman tersebut tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah.</p>
<p>Berita penyerahan Jepang inilah yang akhirnya memicu pernyataan kemerdekaan atau proklamasi pada 17 Agustus 1945, jam 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur no. 56.Setelah kemerdekaan berkumandang, gerakan ambil alih segala aset dari Jepang oleh Repoeblik dilaksanakan berangsur-angsur mulai dari perorangan hingga kelompok.</p>
<p>Beberapa gedung didatangi dan ditempel dengan tulisan milik Repoeblik, bendera Jepang diturunkan, atau dengan mengusir orang Jepang.Oktober 1945, situasi kota Bogor sangat genting. Sekutu dengan pimpinan tentara Inggris dan Gurkha memasuki daerah Bogor, yang kesempatannya juga ditunggangi oleh tentara NICA.</p>
<p>Pertama kali yang mereka datangi adalah tangsi Batalyon XVI bekas tentara Jepang yang sudah dikosongkan. Tentara Inggris dan Gurkha kemudian melebarkan kekuasaannya dengan menduduki Kota Paris, tempat nyonya-nyonya dan anak-anak Belanda (RAPWI/ Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees) dikumpulkan.</p>
<p>Dalam waktu singkat Kota Paris dapat direbut dengan mudah oleh tentara Inggris.Sikap tentara Inggris yang sombong justru menyakitkan hati rakyat. Pada tanggal 6 Desember 1945, terjadilah pemberontakan oleh seluruh masyarakat Bogor. Mereka hanya bersenjatakan bambu runcing, golok, pedang dan senjata ala kadarnya.</p>
<p>Peperangan ini berlangsung sengit dan menggetarkan, terutama di sekitar Istana Bogor dan Kota Paris. Lalu pada tanggal 21 Desember, sebanyak 250 serdadu Gurkha yang bersenjata lengkap  tank dan truk menuju Keboen Radja dan Kota Paris, rupanya mereka hendak menggulung kawat-kawat telepon yang mereka pasang karena Kota Paris sudah dikosongkan. Sementara di atas Kota Bogor melayang pesawat udara yang menjatuhkan sebuah surat kabar â€™Kebenaran no. 27â€™ yang berisi berbagai berita dunia.</p>
<p>Orang yang mendapatkan surat kabar tersebut segera menyerahkannya kepada yang berwajib. Ditengah situasi Kota Bogor yang kian memanas itu, Kapten Muslihat bersama pasukannya melakukan penyerangan ke markas-markas yang diduduki tentara Inggris dan Gurkha. Pada  tanggal 25 Desember 1945, Kapten Muslihat bersama pasukannya  menyerang  kantor Polisi yang terletak di Djalan Banten (sekarang jalan Kapten Muslihat), dalam penyerangan tersebut Kapten Muslihat gugur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/kota-bogor-tahun-45/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENAPAK IDENTITAS: Jejak Masjid Tua Kota Bogor</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/08/menapak-identitas-jejak-masjid-tua-kota-bogor/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/08/menapak-identitas-jejak-masjid-tua-kota-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 13:46:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[MENAPAK IDENTITAS SAAT RAMADHAN Banyak hal tentunya yang dapat dilakukan dalam menapaki Ramadhan. Berbagai kegiatan positif menjadi harapan dalam memanfaatkan berkahnya suatu bulan. Kampoeng Bogor sebuah komunitas yang selama ini mengusung informasi sejarah Kota Bogor dalam mendorong kepedulian terhadap kondisi kota, tentunya ingin turut serta dala memanfaatkan momen tersebut. Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, Kampoeng Bogor ingin menciptakan ruang untuk berbagi dan bersilaturahmi bagi masyarakat Bogor yang masih menaruh kepeduliannya terhadap Bogor untuk coba berkontribusi dalam pengayaan informasi sejarah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MENAPAK IDENTITAS SAAT RAMADHAN</strong></p>
<div><a href="http://kampoengbogor.local/wp-content/uploads/2010/08/poster-jelajah-_web.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-250" title="poster jelajah _web" src="http://kampoengbogor.local/wp-content/uploads/2010/08/poster-jelajah-_web.jpg" alt="" width="500" height="708" /></a></div>
<div id="_mcePaste">Banyak hal tentunya yang dapat dilakukan dalam menapaki Ramadhan. Berbagai kegiatan positif menjadi harapan dalam memanfaatkan berkahnya suatu bulan. Kampoeng Bogor sebuah komunitas yang selama ini mengusung informasi sejarah Kota Bogor dalam mendorong kepedulian terhadap kondisi kota, tentunya ingin turut serta dala memanfaatkan momen tersebut.</div>
<div id="_mcePaste">Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, Kampoeng Bogor ingin menciptakan ruang untuk berbagi dan bersilaturahmi bagi masyarakat Bogor yang masih menaruh kepeduliannya terhadap Bogor untuk coba berkontribusi dalam pengayaan informasi sejarah di Kota Bogor. Informasi ini harapannya kemudian dapat diakses oleh sebanyak-banyaknya masyarakat Bogor, hingga mendorong kepedulian kondisi tinggalan sejarah dan kenyamanan kota ini ke depan.</div>
<div id="_mcePaste">Kegiatan yang biasanya dilakukan oleh para punggawa Kampoeng Bogor, kini bisa diikuti pula oleh para anggota, dan masyarakat yang berminat. Mereka baik para pelajar ataupun umum sangat memungkinkan untuk dapat mengikuti kegiatan ini.</div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<div><strong>JEJAK SYIAR ISLAM DI KOTA BOGOR</strong></div>
<div id="_mcePaste">Perkembangan Islam di Kota Bogor tentunya tidak dapat terlepas dari proses penyebaran Islam di Indonesia. Mulai kedatangan para bangsa Arab dari Asia Tengah sampai peran para Wali yang telah berhasil mengembangkan Islam di Tanah Jawa. Kemudian menyisakan lah Pajajaran yang menjadi kerajaan Hindu terakhir dalam misi penyebaran Islam.</div>
<div id="_mcePaste">Lalu kapan tepatnya Islam masuk ke Bogor, tentu menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri. Penulusuran dapat dimulai melalui tempat yang menjadi pusat syiar dan tinggalan-tinggalan yang masih tersisa. Terdapat beberapa masjid yang dinyatakan tertua di Kota Bogor. Penelusuran akan berkembang juga pada perkembangan daerah sekitar dimana masjid berdiri.</div>
<div id="_mcePaste">Lokasi-lokasi masjid tersebut akan ditelusuri oleh beberapa kelompok yang berbeda, dimana setiap kelompok harus memiliki kemampuan jurnalistik, fotografi, videografi, dan disain grafis dalam mendukung proses pendokumentasian. Kemampuan inilah yang akan dipelajari bersama-sama pada awal kegiatan penelusuran.</div>
<div id="_mcePaste">Hasil penulusuran akan didokumentasikan bersama dalam bentuk seperti buku, film, ataupun dengan meng-upload pada media-media online. Kegiatan akan ditutup dengan pameran bersama pada salah satu ruang public yang berada di Kota Bogor.</div>
<p>&nbsp;</p>
<div><strong>NAMA KEGIATAN</strong></div>
<p><strong>â€œMenapak Identitas, Jejak Masjid Tua Kota Bogorâ€.</strong></p>
<div id="_mcePaste">Dalam kegiatan-kegiatan Kampoeng Bogor, Menapak Identitas merupakan sebuah tajuk utama yang selalu dipakai. Sedangkan Jejak Masjid Tua Kota Bogor, merupakan tema kegiatan yang akan dilaksanakan. Sehingga terdapat tema-tema lain yang diharapkan dapat dimunculkan ke depan.</div>
<div><strong>WAKTU PELAKSANAAN</strong></div>
<div id="_mcePaste">Kegiatan akan dilaksanakan selama 7 hari yaitu pada tanggal 22 â€“ 28 Agustus 2010. Jadwal pada hari pertama akan ditentukan, sedangkan pada hari-hari selanjutnya dimana peserta telah terbagi kelompok, jadwal dapat disesuaikan sesuai dengan kesepakatan di masing-masing kelompok. Jadwal kemudian akan ditentukan lagi pada hari terkahir dimana kegiatan akan diisi oleh kegiatan Pameran.</div>
<div id="_mcePaste"><strong>KEGIATAN UMUM</strong></div>
<div id="_mcePaste">Pembekalan Teori, Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memberi pembekalan kepada para peserta sebelum Tour lapangan dilakukan. Para peserta akan mendapatkan materi, sesuai dengan minat yang dipilihnya. Materi yang ditawarkan, antara lain:</div>
<div id="_mcePaste">a.       Jurnalistik<br />
b.      Fotografi<br />
c.       Videografi<br />
d.      Design Grafis</div>
<div id="_mcePaste">Tour dan Orientasi Lapang, dalam kegiatan penelusuran jejak masjid-masjid Tua di Bogor, para peserta bersama pendamping akan melakukan:</div>
<div id="_mcePaste">a.       Survei</div>
<div id="_mcePaste">b.      Pendokumentasian (Hunting Foto dan Video)</div>
<div id="_mcePaste">Inventarisasi, Para peserta dan masing-masing pendamping akan membuat data-base mengenai penemuan di lapang dan hasil penelusuran jejak di lapang.</div>
<div id="_mcePaste">Produksi, Data-data yang diperoleh para peserta akan dikemas ke dalam media-media sesuai dengan materi pembekalan yang diperoleh para peserta di sesi awal kegiatan. Adapun hasil dari penelusuran ini akan dikemas menjadi Buku, Poster, Film, dan Pameran fotografi.</div>
<div id="_mcePaste">Pameran, Hasil produksi dari masing-masing kelompok akan di Pamerkan pada akhir kegiatan.</div>
<div id="_mcePaste"><strong>BIAYA PARTISIPASI &amp; FASILITAS</strong></div>
<div id="_mcePaste">Dalam proses kegiatan yang akan dilakukan, peserta dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Fasilitas tersebut meliputi akses internet, computer (PC), printer, kertas HVS, dan secretariat bersama yang bisa dipakai aktifitas produksi karya ataupun menjadi tempat menginap jika dibutuhkan.</div>
<div id="_mcePaste">Dalam mendukung kegiatan dan fasilitas, maka diperlukan juga partisipasi peserta dalam pemenuhan operasional lain. Biaya yang dibebankan berkisar antara Rp 5.000 &#8211; Rp 10.000,-, sehingga peserta dapat memilih kisaran biaya sesuai dengan kesanggupan masing-masing.</div>
<div id="_mcePaste">Biaya diatas tidak termasuk pengadaan konsumsi, peralatan dokumentasi (camera digital &amp; handycam), dan transportasi.</div>
<div id="_mcePaste"><strong>PENDAFTARAN</strong></div>
<div id="_mcePaste">Bagi masyarakat yang berminat, dapat mendaftarkan data diri secepatnya melalui:</div>
<div id="_mcePaste">Email Kampoeng Bogor: kampoengbogor@kampoengbogor.org</div>
<div id="_mcePaste">Twitter dengan mention/ DM kami di @kamp0engb0g0r(dengan angka â€œ0â€-nol untuk huruf â€œOâ€) dan cc ke @xuthiex</div>
<div id="_mcePaste">Selain data diri, peserta yang mendaftar harus juga menyebutkan dan memilih bidang yang diminati. Bidang tersebut meliputi, Fotografi, Videografi, Jurnalistik dan Disain Grafis.</div>
<div id="_mcePaste">Karena keterbatasan fasilitas dan sumber daya yang dimiliki serta untuk menjamin keefektifan kegiatan, maka peserta akan dibatasi dengan jumlah maksimal sebanyak 40 orang.</div>
<div id="_mcePaste"><strong>CATATAN</strong></div>
<div id="_mcePaste">Khusus untuk Peserta dengan minat fotografi dan produksi film, diharapkan membawa perlengkapan sendiri (kamera atau alat perekam jenis apapun).</div>
<p><strong>MENAPAK IDENTITAS SAAT RAMADHAN</strong></p>
<p><strong> </strong>Banyak hal tentunya yang dapat dilakukan dalam menapaki Ramadhan. Berbagai kegiatan positif menjadi harapan dalam memanfaatkan berkahnya suatu bulan. Kampoeng Bogor sebuah komunitas yang selama ini mengusung informasi sejarah Kota Bogor dalam mendorong kepedulian terhadap kondisi kota, tentunya ingin turut serta dala memanfaatkan momen tersebut.Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, Kampoeng Bogor ingin menciptakan ruang untuk berbagi dan bersilaturahmi bagi masyarakat Bogor yang masih menaruh kepeduliannya terhadap Bogor untuk coba berkontribusi dalam pengayaan informasi sejarah di Kota Bogor. Informasi ini harapannya kemudian dapat diakses oleh sebanyak-banyaknya masyarakat Bogor, hingga mendorong kepedulian kondisi tinggalan sejarah dan kenyamanan kota ini ke depan.Kegiatan yang biasanya dilakukan oleh para punggawa Kampoeng Bogor, kini bisa diikuti pula oleh para anggota, dan masyarakat yang berminat. Mereka baik para pelajar ataupun umum sangat memungkinkan untuk dapat mengikuti kegiatan ini.</p>
<p><strong>JEJAK SYIAR ISLAM DI KOTA BOGOR</strong><br />
Perkembangan Islam di Kota Bogor tentunya tidak dapat terlepas dari proses penyebaran Islam di Indonesia. Mulai kedatangan para bangsa Arab dari Asia Tengah sampai peran para Wali yang telah berhasil mengembangkan Islam di Tanah Jawa. Kemudian menyisakan lah Pajajaran yang menjadi kerajaan Hindu terakhir dalam misi penyebaran Islam.Lalu kapan tepatnya Islam masuk ke Bogor, tentu menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri. Penulusuran dapat dimulai melalui tempat yang menjadi pusat syiar dan tinggalan-tinggalan yang masih tersisa. Terdapat beberapa masjid yang dinyatakan tertua di Kota Bogor. Penelusuran akan berkembang juga pada perkembangan daerah sekitar dimana masjid berdiri.Lokasi-lokasi masjid tersebut akan ditelusuri oleh beberapa kelompok yang berbeda, dimana setiap kelompok harus memiliki kemampuan jurnalistik, fotografi, videografi, dan disain grafis dalam mendukung proses pendokumentasian. Kemampuan inilah yang akan dipelajari bersama-sama pada awal kegiatan penelusuran.Hasil penulusuran akan didokumentasikan bersama dalam bentuk seperti buku, film, ataupun dengan meng-upload pada media-media online. Kegiatan akan ditutup dengan pameran bersama pada salah satu ruang public yang berada di Kota Bogor.</p>
<p><strong>NAMA KEGIATAN</strong><br />
â€œMenapak Identitas, Jejak Masjid Tua Kota Bogorâ€.Dalam kegiatan-kegiatan Kampoeng Bogor, Menapak Identitas merupakan sebuah tajuk utama yang selalu dipakai. Sedangkan Jejak Masjid Tua Kota Bogor, merupakan tema kegiatan yang akan dilaksanakan. Sehingga terdapat tema-tema lain yang diharapkan dapat dimunculkan ke depan.</p>
<p><strong>WAKTU PELAKSANAAN</strong><br />
Kegiatan akan dilaksanakan selama 7 hari yaitu pada tanggal 22 â€“ 28 Agustus 2010. Jadwal pada hari pertama akan ditentukan, sedangkan pada hari-hari selanjutnya dimana peserta telah terbagi kelompok, jadwal dapat disesuaikan sesuai dengan kesepakatan di masing-masing kelompok. Jadwal kemudian akan ditentukan lagi pada hari terkahir dimana kegiatan akan diisi oleh kegiatan Pameran.</p>
<p><strong>KEGIATAN UMUM</strong><br />
Pembekalan Teori, Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memberi pembekalan kepada para peserta sebelum Tour lapangan dilakukan. Para peserta akan mendapatkan materi, sesuai dengan minat yang dipilihnya. Materi yang ditawarkan, antara lain:a.       Jurnalistikb.      Fotografic.       Videografid.      Design GrafisTour dan Orientasi Lapang, dalam kegiatan penelusuran jejak masjid-masjid Tua di Bogor, para peserta bersama pendamping akan melakukan:a.       Surveib.      Pendokumentasian (Hunting Foto dan Video)Inventarisasi, Para peserta dan masing-masing pendamping akan membuat data-base mengenai penemuan di lapang dan hasil penelusuran jejak di lapang.Produksi, Data-data yang diperoleh para peserta akan dikemas ke dalam media-media sesuai dengan materi pembekalan yang diperoleh para peserta di sesi awal kegiatan. Adapun hasil dari penelusuran ini akan dikemas menjadi Buku, Poster, Film, dan Pameran fotografi.Pameran, Hasil produksi dari masing-masing kelompok akan di Pamerkan pada akhir kegiatan.</p>
<p><strong>BIAYA PARTISIPASI &amp; FASILITAS</strong><br />
Dalam proses kegiatan yang akan dilakukan, peserta dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Fasilitas tersebut meliputi akses internet, computer (PC), printer, kertas HVS, dan secretariat bersama yang bisa dipakai aktifitas produksi karya ataupun menjadi tempat menginap jika dibutuhkan.Dalam mendukung kegiatan dan fasilitas, maka diperlukan juga partisipasi peserta dalam pemenuhan operasional lain. Biaya yang dibebankan berkisar antara Rp 5.000 &#8211; Rp 10.000,-, sehingga peserta dapat memilih kisaran biaya sesuai dengan kesanggupan masing-masing.Biaya diatas tidak termasuk pengadaan konsumsi, peralatan dokumentasi (camera digital &amp; handycam), dan transportasi.</p>
<p><strong>PENDAFTARAN</strong><br />
Bagi masyarakat yang berminat, dapat mendaftarkan data diri secepatnya melalui:Email Kampoeng Bogor: kampoengbogor@kampoengbogor.orgTwitter dengan mention/ DM kami di @kamp0engb0g0r(dengan angka â€œ0â€-nol untuk huruf â€œOâ€) dan cc ke @xuthiexSelain data diri, peserta yang mendaftar harus juga menyebutkan dan memilih bidang yang diminati. Bidang tersebut meliputi, Fotografi, Videografi, Jurnalistik dan Disain Grafis.Karena keterbatasan fasilitas dan sumber daya yang dimiliki serta untuk menjamin keefektifan kegiatan, maka peserta akan dibatasi dengan jumlah maksimal sebanyak 40 orang.</p>
<p><strong>CATATAN</strong><br />
Khusus untuk Peserta dengan minat fotografi dan produksi film, diharapkan membawa perlengkapan sendiri (kamera atau alat perekam jenis apapun).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/08/menapak-identitas-jejak-masjid-tua-kota-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siswa Taruna Andhiga Serbu Galeri Kampoeng Bogor</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/05/siswa-taruna-andhiga-serbu-galeri-kampoeng-bogor/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/05/siswa-taruna-andhiga-serbu-galeri-kampoeng-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 15:37:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Suatu siang di bulan Januari 2010. Opih, salah satu pengurus Kampoeng Bogor mendapat sms dari salah satu anak sekolah swasta di kota Bogor. Inti dari sms itu adalah mempertanyakan dimanakah letak Gallery Kampoeng Bogor. Sontak Opih langsung memandu melalui sms cara mencapai lokasi Gallery kami. Kami langsung bersiap-siap. Sepertinya bakalan ada tamu yang akan meramaikan Gallery kami siang itu. Benar saja, tak sampai hitungan jam serombongan anak berseragam sekolah mendatangi kami. Dengan sedikit malu-malu mereka memperkenalkan diri masing-masing. Ternyata mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu siang di bulan Januari 2010. Opih, salah satu pengurus Kampoeng Bogor mendapat sms dari salah satu anak sekolah swasta di kota Bogor. Inti dari sms itu adalah mempertanyakan dimanakah letak Gallery Kampoeng Bogor. Sontak Opih langsung memandu melalui sms cara mencapai lokasi Gallery kami. Kami langsung bersiap-siap. Sepertinya bakalan ada tamu yang akan meramaikan Gallery kami siang itu.</p>
<div id="_mcePaste">Benar saja, tak sampai hitungan jam serombongan anak berseragam sekolah mendatangi kami. Dengan sedikit malu-malu mereka memperkenalkan diri masing-masing. Ternyata mereka adalah siswa dan siswi dari SMA Taruna Andhiga, sebuah sekolah swasta yang ada di daerah Panaragan. Kedatangan mereka adalah untuk mencari bahan tugas pelajaran sejarah di sekolah. Kaitannya dengan Kampoeng Bogor, mereka sedang mencari foto dan cerita sejarah Bogor. Gallery Kampoeng  Bogor yang sebenarnya lumayan luas itu pun langsung penuh oleh mereka.</div>
<div id="_mcePaste">Waduhhh, kaget juga mendengar penuturan mereka, mau tak mau kami yang ada saat itu (Anggit, Ridha, Opih dan Evi) langsung sibuk melayani mereka. Awalnya beberapa marchendise koleksi kami menarik perhatian mereka. Demikian juga dengan foto-foto tempo dulu hasil repro yang di pajang di sepanjang dinding. Setelah &#8220;mengobrak-abrik&#8221; aneka koleksi, barulah mereka sadar bahwa tujuan mereka ke sini adalah mencari foto Bogor jaman dahulu. Sayangnya foto yang kami miliki untuk ukuran kecil sedang habis. Akhirnya postcard yang didalamnya ada foto dan sedikit ilustrasi cerita langsung diserbu sebagai pengganti.</div>
<p><strong>Salah satu siswa bernama Lutfi berujar singkat kepada kami.</strong></p>
<div id="_mcePaste">&#8220;Awalnya memang untuk cari tugas sekolah, tapi setelah datang dan melihat koleksi yang ada ehh..malah terpesona dengan suasana Bogor jaman dahulu&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Selain berburu gambar, para siswa SMA Taruna Andhiga yang melakukan kunjungan tersebut juga antusias untuk mengetahui sejarah atau cerita dibalik foto. Mereka dengan aktif bertanya sana-sini. Kami sempat kewalahan pada awalnya, baru kemudian setelah kita pecah menjadi beberapa kelompok, mereka bisa terlayani dengan baik. Tugas pun dibagi antara Anggit dan Ridha untuk menceritakan kisah-kisah yang ada di dalam foto. Lalu mengalirlah rangkaian cerita tentang kawasan Sempur, Kota Paris, jalan Suryakencana, Stasiun Bogor, Stasiun Batu Tulis, Istana Bogor.dan beberapa tempat lain di Bogor.</div>
<div id="_mcePaste">Senang dan lega rasanya melihat wajah puas begitu kami usai bercerita, mereka sepertinya sudah punya bahan apa yang akan ditulis nanti. Sebagian bahkan saling berbagi file rekaman suara. Hmmm.. rupanya ada yang cerdik merekam saat kami bercerita tadi. Tak lama kemudian mereka-pun pamit pulang.</div>
<div id="_mcePaste">Akhirnya ada juga kesempatan beristirahat. Tapi, itu tak lama. Opih kembali menyampaikan bahwa ada anak SMA Taruna Andhiga juga, tapi beda kelas yang akan datang. Rombongan kedua ini lumayan banyak seperti yang pertama tadi. Mereka juga dalam rangka tugas sejarah dari sekolah. Aktivitas melayani mereka kembali kami lakukan. Mulai dari pembelian merchandise, foto dan bercerita tentang sejarah Bogor kami lakukan. Waahhhâ€¦ini luar biasa, kami pikir cuma satu kelompok atau satu kelas saja. Ternyata satu sekolah mendapat tugas yang sama. Duhh ada apa ini&#8230; Kami jadi bertanya-tanya.</div>
<div id="_mcePaste">Saat kami tanya dari mana anak-anak sekolah ini tahu keberadaan Kampoeng Bogor dengan koleksi-koleksi Bogor tempo dulu-nya, sebagian besar menjawab dari guru mereka yang bernama pak Bonar. Hmmmm&#8230; Ini rupanya yang jadi sumbernya. Kami menerka-nerka yang mana yah beliau ini, mungkin saja beliau adalah salah satu diantara warga Bogor yang pernah mengunjungi pameran kami di beberapa tempat. Kami jadi terharuâ€¦baru kali ini ada sekolah yang secara khusus memasukan sejarah Bogor sebagai bagian dari kegiatan sekolah. Sosok guru ini pastilah orang yang juga turut prihatin dengan nasib tinggalan sejarah di kota Bogor yang kurang terperhatikan.</div>
<div id="_mcePaste">Kami jadi berandai-andai jika seluruh sekolah di Bogor memiliki kehendak yang sama seperti sekolah pak Bonar. Mungkin anak muda yang peduli sejarah dan peninggalannya di Bogor bisa lebih banyak. Itu juga bukan andai-andai semata, pasti bisa dilakukan kok..</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/05/siswa-taruna-andhiga-serbu-galeri-kampoeng-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Di Bogor</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/05/sekolah-di-bogor/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/05/sekolah-di-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 19:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Penguasaan VOC atas Hindia Belanda menjadi awal dimulainya sejarah panjang pengerukan kekayaan nusantara oleh bangsa asing. Begitu kaya nya sumberdaya yang dimiliki negeri ini membuat bangsa asing berlomba-lomba masuk dan memiliki peran di wilayah nusantara pada masa itu. VOC bubar pada 1796, pemerintah kerajaan Belanda masuk menggantikannya. Melalui penguasaan oleh Gubernur Jenderal, hindia Belanda menjadi koloni Belanda yang diakui oleh dunia. Akibatnya negeri ini menjadi penyuplai komoditi perdagangan untuk Belanda. Begitu berperannya nusantara ini akhirnya disadari oleh bangsa-bangsa asing. Munculah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penguasaan VOC atas Hindia Belanda menjadi awal dimulainya sejarah panjang pengerukan kekayaan nusantara oleh bangsa asing. Begitu kaya nya sumberdaya yang dimiliki negeri ini membuat bangsa asing berlomba-lomba masuk dan memiliki peran di wilayah nusantara pada masa itu.</p>
<p>VOC bubar pada 1796, pemerintah kerajaan Belanda masuk menggantikannya. Melalui penguasaan oleh Gubernur Jenderal, hindia Belanda menjadi koloni Belanda yang diakui oleh dunia. Akibatnya negeri ini menjadi penyuplai komoditi perdagangan untuk Belanda. Begitu berperannya nusantara ini akhirnya disadari oleh bangsa-bangsa asing. Munculah kesadaran untuk memberdayakan penduduk koloni. Pemberdayaan ini terkait dengan kebutuhan-kebutuhan sumberdaya manusia yang murah. Sumberdaya ini dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pengelolaan wilayah hindia Belanda.</p>
<p>Politik etis yang diterapkan pada tahun 1901 membuka peluang diterimanya pendidikan secara formal bagi pribumi.<br />
Sebelumnya pada tahun 1848, seorang menteri reformis Belanda bernama  Baron van Hoevell mengajukan berbagai petisi yang berisi tentang  kebebasan pers, sekolah umum lanjutan, dan perwakilan dari Hindia Belanda di dalam Badan legislatif. Sejak tahun tersebut mulai lah dilaksanakan sekolah kabupaten untuk mendidik dan melatih anak-anak bangsawan dan penguasa pribumi. Fasilitas sekolah mulai didirikan dibeberapa wilayah. Terutama di Pulau Jawa. Setelah sekolah kelas pertama untuk pribumi didirikan tahun 1893, Hindia Belanda mulai membuka sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijz) untuk pendidikan dasar pada tahun 1903. Selain MULO didirikan juga ELS (Europeesche Lagere School) tahun 1911.</p>
<p>ELS adalah sekolah dasar berbahasa Belanda untuk anak-anak Eropa dan anak-anak pembesar puncak pribumi. ELS memiliki fasilitas yang lebih dibanding sekolah lainnya. Gedung dibangun dengan memenuhi standar kesehatan Eropa, berpakaian dan berbahasa Belanda. ELS menjadi sekolah eksklusif karena dibangun pada wilayah yang terdapat anak-anak Eropa saja. Kemudian untuk bangsawan lainnya didirikan HIS (Hollands Inlanders School) dengan bangunan bertiang kayu dan dinding yang dilapis kapur di beberapa tempat. Sehingga dari kejauhan kelihatan bertembok.</p>
<p>Terkait dengan kepentingan pemerintah Belanda, selain pribumi dan Eropa tersedia juga sekolah untuk kelompok Tionghoa. Yaitu didirikan HCS (Hollandsch Cheneesche School), sekolah khusus kelompok Tionghoa yang berbahasa Belanda. Diharapkan akan muncul generasi Tionghoa yang berkiblat ke Eropa. Pendirian sekolah ini terkait dengan situasi di Cina dengan figur Sun Yat Sen.</p>
<p><strong>Saat itu nasionalisme sebagai bangsa Cina sedang meningkat.</strong><br />
Di Bogor sekolah umum MULO dibangun tahun 1918. Bangunan sekolah yang sekarang ditempati SMP 1 Bogor ini merupakan sarana pendidikan untuk mengakomodir pendidikan anak-anak pribumi bangsawan yang saat itu bermukim di Bogor.</p>
<p>Pada tahun 1920, diketahui MULO berada di Groote weg (Jl Juanda) dan di hospital weg (Gedong sawah). ELS muncul dibeberapa kawasan pemukiman Eropa di Pabaton, hospital weg dan Paledang. HCS berada di samping hotel Bellevue di tanjakan Empang. Lokasi sekolah ini juga berdekatan dengan kawasan konsentrasi pecinan. Adanya sekolah sekolah ini juga menunjang keberadaan Bogor sebagai pusat pemerintahan dan pusat penelitian. Beberapa sekolah lain juga muncul karena kebutuhan tersebut. Sekolah-sekolah tersebut pengelolaannya ada yang diluar pemerintah. Seperti Ursulinen School, Kartini School, Christen School. Sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi juga muncul di Bogor. Yaitu Landbow School (sekolah pertanian) dan Veeartsen school (sekolah dokter hewan).</p>
<p>Pada tahun 1940 Bogor mulai memiliki lembaga pendidikan tinggi. Yaitu mulai didirikannya Landbow hogeschool di Tjiwaringin. Sekolah tinggi ini merupakan perubahan dari Landbow School. Kemudian pada 31 Oktober 1941 Landbouw Hogeschool menjadi Landbowkundige Faculteit dan Nederlandsch Indische Veeartsenschool (sekolah Kedokteran Hewan).<br />
Tahapan berikutnya pada tanggal 22 Agustus 1949 Prof. Dr. Ir. Thung mendirikan Sekolah Rakyat. Sekolah ini memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan di Bogor. Sekolah ini berubah menjadi SMP pada tahun 1949 dan menjadi SMA setahun kemudian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/05/sekolah-di-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi Van Motman</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/03/ekspedisi-van-motman/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/03/ekspedisi-van-motman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 15:45:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu kami sedang mengadakan rapat koordinasi rutin di Galeri Kampoeng Bogor, ketika dikagetkan oleh kedatangan seorang sahabat baik datang berkunjung. Bagaimana tidak kaget, tak pernah terbesit sedikit pun bahwa dia bisa datang berkunjung. Ditengah aktifitasnya yg sangat padat, penantian kita pun untuk dia sudah terlalu lama. Karena terus terang sahabat kita yang satu ini sangatlah baik dalam segala hal, kecuali dalam hal menepati janji. Tambah kaget karena dia tidak datang sendiri, tapi datang bersama bule. Bule tulen berbadan tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu kami sedang mengadakan rapat koordinasi rutin di Galeri Kampoeng Bogor, ketika dikagetkan oleh kedatangan seorang sahabat baik datang berkunjung. Bagaimana tidak kaget, tak pernah terbesit sedikit pun bahwa dia bisa datang berkunjung. Ditengah aktifitasnya yg sangat padat, penantian kita pun untuk dia sudah terlalu lama. Karena terus terang sahabat kita yang satu ini sangatlah baik dalam segala hal, kecuali dalam hal menepati janji. Tambah kaget karena dia tidak datang sendiri, tapi datang bersama bule.</p>
<p>Bule tulen berbadan tinggi besar didatangkan langsung dari Negeri Belanda. Mereka datang dengan muka yang sepertinya dipenuhi dengan kekhawatiran. Sambil terburu-buru teman tadi lalu berujar, &#8220;Maaf klo mengganggu, tapi ada hal yang harus dibicarakan sesegera mungkin..! kita sedang mencari keluarga Van Motman! Apa kalian tahu?!&#8221;. Wah, ada apa ini..??!!</p>
<p>Mamir, begitu sahabat kita ini akrab dipanggil. Mengenalkan seorang bule yang ternyata merupakan kakak ipar Mamir yang lebih senang dipanggil Kang Ewin. Untung saja Kang Ewin sudah pintar dalam berbahasa Indonesia, kalau tidak, yaa.. mungkin sedikit akan ada masalah. Kang Ewin masih merupakan keturunan yang kesekian dari keluarga Van Motman hasil pernikahan antar keluarga yang lain. Datang berlibur ke Bogor dan berminat untuk menelusuri kembali tinggalan keluarga Van Motman yang pernah tinggal di Bogor pada masa kolonialisme dulu. Dan Mamir beserta Kang Ewin mengajak kita untuk bergabung dan ikut serta. Wah, menarik! Siap!</p>
<p>Sebelum meninggalkan kami dan bertemu lagi pada hari yang telah ditentukan, kang Ewin meninggalkan catatan berisikan silsilah keluarga, foto-foto bangunan peninggalan dan peta lengkap dengan keterangan-keterangan tambahan. Hanya saja semua teks ternyata dalam Bahasa Belanda. Ah, kali ini kita benar-benar dalam masalah.. Tapi jika melihat peta yang tertera pada catatan tersebut, daerah yang pernah ditinggali atau bahkan dimiliki Keluarga Van Motman ternyata tersebar di daerah Kabupaten Bogor. Tidak kesulitan kalau dalam hal membaca peta, karena nama-nama daerah yang ada dipeta tidak dirubah ke dalam bahasa Belanda. Ahha, tentu saja.</p>
<p>Keluarga Van Motman ternyata merupakan pengusaha yang cukup besar. Cukup besar sehingga separuh lebih dari tanah Parakan Salak, merupakan milik keluarga ini sebelum diserahkan kepada Pemerintah setempat. Tanahnya yang lain pun tersebar di wilayah Kabupaten Bogor. Sehingga terdapat beberapa titik lokasi yang akhirnya akan menjadi target kunjungan dalam kegiatan pencarian nanti. Atau kita sebut saja ekspedisi nanti agar terdengar keren. EKSPEDISI VAN MOTMAN! Nah, lumayan.</p>
<p>Hari untuk ekpedisi akhirnya tiba. Saat itu salah satu hari Minggu di bulan Januari. Pagi datang lumayan cerah, sehingga cukup menambah semangat hingga tak sabar untuk memulai. Tim Ekspedisi terdiri dari 8 orang, siap dengan segala peralatan tulis, dokumentasi dan tentunya makanan yang cukup. Target pertama adalah sebuah gedung yang kelihatannya seperti sebuah tempat penelitian. Tak ada keterangan pada catatan yang mendukung keberadaan gedung ini. Ketika tiba di Darmaga dan memasuki kawasan kampus, tak ada yang bisa kita dapat dari hasil penelusuran. Akhirnya untuk mengefektifkan waktu, kita menuju target selanjutnya. Kawasan pemakaman keluarga Van Motman.</p>
<p>Memerlukan waktu sekitar lebih dari satu jam dari Darmaga untuk tiba di lokasi kedua. Melewati pemandangan wilayah Kabupaten Bogor di jalur menuju Banten. Jalan ini sudah ada dari masa colonial sebagai jalur penting dalam mobilisasi kegiatan ekonomi ataupun militer. Setelah menghadang beberapa orang untuk bertanya tentang lokasi yang dimaksud, akhirnya kita sampai juga di sebuah komplek Pemakaman Belanda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/03/ekspedisi-van-motman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyisir Jalur Groote Post Weg</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/03/menyisir-jalur-grote-post-weg/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/03/menyisir-jalur-grote-post-weg/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 16:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu pagi masih membekap nikmat para penghuni Jl. Pangeret 12, sisa hujan kemarin sore seperti menyisakan keengganan untuk beranjak dari mimpi, alarm pun berbunyi, sedikit lirikan terlihat angka jam digital sudah menunjuk 07.00. Duhhh, sedikit lagi jam 8.00. Ini artinya kami sudah harus berada di Jl Raya Pos. Tanpa pikir panjang segera saja hal-hal terkait persiapan pribadi tuntas dikerjakan. Hari itu kami ada tugas yang siap menyambut. Ya, mulai hari itu, selama dua hari, yaitu 15-16 Februari 2010. Kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu pagi masih membekap nikmat para penghuni Jl. Pangeret 12, sisa hujan kemarin sore seperti menyisakan keengganan untuk beranjak dari mimpi, alarm pun berbunyi, sedikit lirikan terlihat angka jam digital sudah menunjuk 07.00. Duhhh, sedikit lagi jam 8.00. Ini artinya kami sudah harus berada di Jl Raya Pos.</p>
<p>Tanpa pikir panjang segera saja hal-hal terkait persiapan pribadi tuntas dikerjakan. Hari itu kami ada tugas yang siap menyambut.</p>
<p>Ya, mulai hari itu, selama dua hari, yaitu 15-16 Februari 2010. Kami tim Kampoeng Bogor bersama UNITE! menggelar kegiatan &#8220;Heritage Tour&#8221;. Tema kali ini adalah menyusuri jalan raya pos. Jalan bersejarah di kota Bogor yang dikenal dengan jalan Daendels atau jalan Pos atau jalan Djakarta. Sekarang orang mengenalnya dengan jalan A. Yani. Sesuai kesepakatan kami akan menemui peserta dari Sekolah Alam Bogor, di taman Air Mancur. Kabarnya mereka akan tiba tepat pukul 08.00 wib. Rasanya tidak sabar untuk berceloteh riang di depan teman-teman dari Sekolah Alam. Dengan sabar kami terus menunggu, tim Kampoeng Bogor yang terdiri dari Kakak Cup, Uthi dan Anggit siap membantu teman-teman UNITE! yang sudah siaga. Terlihat Manaf dan Lutfi tengah membriefing anggota tim. Disana juga sudah ada Dedi, Arin, Adit dan Rivo.</p>
<p>Setelah menunggu beberapa saat yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Beberapa teman kecil kami datang dengan didampingi para guru pendamping. Mereka ini adalah murid-murid kelas 4 Sekolah Alam Bogor. Sekolah ini ternyata memiliki keinginan agar murid-muridnya bisa mengenal kota Bogor melalui progam Heritage Tour. Sebanyak 20an anak dengan antusias menyemuti air mancur. Kawasan yang hingga tahun 1950an masih berdiri sebuah bangunan pilar putih. Teman-teman kecil kami itu sesaat masih asyik bergurau bersama teman-teman sebayanya. Pandangan mereka tertuju pada deretan parkir delman yang berada di pinggir jalan A Yani. Rencananya dengan delman itulah kami akan berkeliling menyusuri jalan raya pos. Dan kegiatan ini sendiri diberi title Nice Trip to Groote Post Weg (Perjalanan menyenangkan ke jalan raya pos). Perjalanan pun siap dimulai.</p>
<p>Rute pertama kami start dari Air mancur. Sebagai pembuka, Anggit dari tim data dan investigasi Kampoeng Bogor mulai bercerita tentang Groote Post Weg. Sebuah jalan yang dibangun oleh Daendels pada tahun 1808 dengan mengorbankan ribuan jiwa. Teman-teman dari Sekolah Alam tampak serius menyimak cerita yang dipaparkan Anggit. Dengan dibantu beberapa gambar, cerita pun meluncur degan asyiknya. Tak hanya tentang Groote Post Weg, Anggit juga bercerita mengenai keberadaan Air Mancur yang populer itu. Pada masanya pada tahun 1839, tempat ini didirikan pilar berwarna putih menjulang. Pilar itu dinamakan witte pal. Mungkin keberadaan pilar ini menjadi cikal bakal adanya kampung Lebak Pilar di dekat tugu itu.</p>
<p>Konon bangunan itu berdiri sampai tahun 1950an, bangunan ini pada akhir masanya dihancurkan karena dianggap simbol kolonial. Sebagai gantinya berdirilah air mancur yang sekarang.</p>
<p>Usai Anggit bercerita, perjalanan pun segera dimulai. Teman-teman Sekolah Alam langsung menuju delman yang sudah tersedia, dengan gembira mereka siap diajak berkeliling mengenal kota mereka tercinta. Kota Bogor.</p>
<p>Tujuan kedua adalah mengunjungi Monumen dan Museum PETA. PETA disini artinya Pembela Tanah Air, sebuah kelompok tentara yang didirikan pada masa Jepang sebagai cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Setibanya di museum PETA, cerita tentang bangunan Museum itu pun bergulir. Kali ini Manaf dari UNITE! menjelaskan sejarah museum PETA. Bangunan yang dulunya bernama Military Kampement. Tempat atau barak tentara pengawal Istana Bogor. Setelah itu, karena banyaknya peserta, rombongan dibagi menjadi tiga kelompok. Kemudian dengan dipandu oleh pengurus museum mereka mengelilingi bangunan museum PETA, sekaligus melongok koleksi bersejarah museum ini. Para pemandu dari museum PETA mengajak siswa siswi untuk berkeliling dan melihat diorama sejarah perjuangan merebut kemerdekaan, dan juga melihat petilasan pahlawan-pahlawan Indonesia yang pernah dididik disini, seperti Jenderal Soedirman, Jenderal Ahmad Yani, dan juga mantan presiden RI Jenderal Soeharto.</p>
<p>Puas berkeliling dan berfoto, perjalanan kembali dilanjutkan. Tujuan berikutnya adalah kantor BKPP Provinsi Jawa Barat atau yang sebelumnya dikenal dengan nama Bakorwil. Jauh sebelum itu gedung ini dulunya adalah rumah tinggal sekaligus kantor bagi Asisten Residen Belanda. Setibanya dilokasi ini, kami disambut dengan ramah oleh staf BKPP. Tidak menunggu lama kami pun diajak berkeliling. Sungguh luar biasa, bangunan berusia ratusan tahun ini ternyata masih berfungsi dengan baik. Tangga dan lantainya yang terbuat dari papan dan masih asli itu membuat teman-teman dari Sekolah Alam terpukau. Mereka tak henti-hentinya bertanya. Kakak Cup dari Kampoeng Bogor yang bertindak sebagai mentor kali ini terlihat cukup kewalahan. Untungnya acara keliling gedung ini tidak terlalu lama. Lagi-lagi seusai berpamitan, kami berfoto bersama dulu di depan gedung yang dulunya adalah rumah dan kantor Asisten Residen.</p>
<p>Sejenak kami sempat bingung&#8230;di tempat kunjungan sebelumnya delman selalu setia menunggu kami, kali ini kami tidak melihatnya. Hmmmmm ternyata delman sudah menunggu di Balaikota Bogor. Kami bersama rombongan menikmati jalan kaki menuju Balaikota yang jaraknya tidak terlalu jauh itu. Setibanya di Balaikota, Arin dari UNITE menjelaskan tentang sejarah Balaikota. Ternyata Balikota ini pada jaman Belanda disebut Gemeente Buitenzorg. Sedangkan walikotanya disebut Burgemeester. Usai mendengar sejarah singkat gedung Balaikota. Teman-teman Sekolah Alam Bogor disambut oleh staf walikota, dan berkumpul di ruang rapat 1. Kemudian staf walikota dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melanjutkan penjelasan tentang gedung Balaikota.</p>
<p>Disini kami sedikit agak lama waktunya. Kesempatan tersebut kami gunakan untuk istirahat sejenak. Teman-teman Sekolah Alam pun juga memanfaatkan untuk membuka bekal yang mereka bawa. Setelah dirasa cukup, perjalanan pun kami lanjutkan. Kembali kami menuju delman yang memang sudah menanti. Kemudian delman tersebut beranjak membawa kami menuju Istana Bogor. Ya&#8230;kami akan masuk kedalam Istana, terlihat wajah tak sabar terpancar dari teman-teman Sekolah Alam.</p>
<p>Setiba di gerbang masuk Istana, kami baris satu per satu dengan rapi. Maklum untuk masuk Istana tempat presiden bekerja itu memang ada prosedurnya. Teman-teman Sekolah Alam saat masuk harus melintasi pintu pemindai. Mungkin untuk mencari apakah ada hal-hal yang mencurigakan. Maklum masih musimnya teroris berkeliaran. Jadi tetap harus waspada.<br />
Sambil menunggu pemandu dari staf Istana Bogor, Anggit lagi-lagi kembali menjelaskan sejarah singkat Istana Bogor dengan bantuan gambar. Begitu pemandu sudah siap, penjelasan sejarah pun dilanjutkan oleh petugas dari Istana Bogor. Luar biasa, bangunan yang dibangu oleh Baron Van Imhoff tersebut masih menunjukkan ciri asli. Teman-teman Sekolah Alam begitu takjub saat masuk ke dalam gedung Istana. Mereka mendengarkan penjelasan sang pemandu dengan serius. Apalagi saat melintasi cermin seribu, teman-teman Sekolah Alam tampak terpukau. Sesekali bahkan ada yang mencatat keterangannya. Istana Bogor yang didirikan pada tahun 1745 ini ternyata mengalami dua kali masa pembangunan. Saat memasuki akhir kunjungan di Istana Bogor. Para peserta rombongan menyempatkan diri berfoto layaknya menteri kabinet di tangga Istana.</p>
<p>Setelah menyudahi kunjungan di Istana, perjalanan dilanjutkan untuk menuju Kebun Raya Bogor. Rombongan delman kembali menyusuri jalan juanda yang juga merupakan rute jalan Raya Pos. Tak pelak rombongan delman berjumlah sepuluh itu menarik perhatian para pengguna jalan lainnya.</p>
<p>Setibanya di Kebun Raya Bogor, sejenak peserta kegiatan beristirahat dan santap siang. Sambil menuntaskan santap siangnya, Uthi dari Kampoeng Bogor melanjutka cerita tentang sejarah keberadaan Kebun Raya beserta beberapa monumen bersejarah yang ada didalamnya. Tidak hanya itu, mereka juga diajak untuk melihat bangunan-bangunan bersejarah yang ada di dalam KRB, dan mengunjungi museum zoologi. Puas berkeliling di Kebun Raya, peserta kembali menaiki delman untuk meneruskan ke tempat kunjungan terakhir. Kali ini adalah Gallery Kampoeng Bogor yang ada di Jl Pangeret 12 Tegal Gundil Bogor Utara. Delman-delman itu berbaris dan meliuk-liuk di tengah hiruk pikuk kendaraan di jalan Pajajaran. Ada sensasi tersendiri yang dirasakan rombongan dan pendamping ketika melewati tugu kujang dan sepanjang kawasan jalan pajajaran, karena tidak setiap hari hal itu bisa dilakukan.<br />
Setibanya di Gallery Kampoeng Bogor, ditengah derai hujan yang turun, teman-teman Sekolah Alam Bogor disambut oleh pengurus Kampoeng Bogor, dan diterima dengan hangat. Di Gallery ini mereka bisa melihat foto-foto tempo dulu koleksi Kampoeng Bogor. Tidak hanya elihat koleksi foto, aneka marchendise bisa mereka dapatkan disini. Selanjutnya mereka di ajak untuk mereview tentang perjalanan yang sudah dilakukan. Melalui pertanyaan dan permainan yang menarik.</p>
<p>Akhirnya kegiatan mengenal sejarah kota Bogor selama dua hari selesai dilaksanakan. Seluruh peserta tampak puas. Demikian juga dengan kami. Meski lelah kami tak bosan-bosannya memberikan penjelasan kepada teman-teman kecil kami.<br />
Sampai jumpa di Heritage Tour berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/03/menyisir-jalur-grote-post-weg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>‘Heritage Tour’ Sekolah Alam  Menyisir Jalur Grote Post Weg</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/02/%e2%80%98heritage-tour%e2%80%99-sekolah-alam-menyisir-jalur-grote-post-weg/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/02/%e2%80%98heritage-tour%e2%80%99-sekolah-alam-menyisir-jalur-grote-post-weg/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 08:14:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kampoengbogor.org/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu pagi masih membekap nikmat para penghuni Jl. Pangeret 12, sisa hujan kemarin sore seperti menyisakan keengganan untuk beranjak dari mimpi…alarm pun berbunyi, sedikit lirikan terlihat angka jam digital sudah menunjuk 07.00. Duhhh…sedikit lagi jam 8.00.  Ini artinya kami sudah harus berada di Jl Raya Pos. Tanpa pikir panjang segera saja hal-hal terkait persiapan pribadi tuntas dikerjakan. Hari itu kami ada tugas yang siap menyambut. Ya…mulai hari itu, selama dua hari, yaitu 15-16 February 2010. Kami tim Kampoeng Bogor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu pagi masih membekap nikmat para penghuni Jl. Pangeret 12, sisa hujan kemarin sore seperti menyisakan keengganan untuk beranjak dari mimpi…alarm pun berbunyi, sedikit lirikan terlihat angka jam digital sudah menunjuk 07.00. Duhhh…sedikit lagi jam 8.00.  Ini artinya kami sudah harus berada di Jl Raya Pos. Tanpa pikir panjang segera saja hal-hal terkait persiapan pribadi tuntas dikerjakan. Hari itu kami ada tugas yang siap menyambut.</p>
<p>Ya…mulai hari itu, selama dua hari, yaitu 15-16 February 2010. Kami tim Kampoeng Bogor bersama UNITE! menggelar kegiatan ‘Heritage Tour’. Tema kali ini adalah menyusuri jalan raya pos. Jalan bersejarah di kota Bogor yang dikenal dengan jalan Daendels atau jalan Pos atau jalan Djakarta. Sekarang orang mengenalnya dengan jalan A. Yani. Sesuai kesepakatan kami akan menemui peserta dari Sekolah Alam Bogor, di taman Air Mancur. Kabarnya mereka akan tiba tepat pukul 08.00 wib. Rasanya tidak sabar untuk berceloteh riang di depan teman-teman dari Sekolah Alam. Dengan sabar kami terus menunggu, tim Kampoeng Bogor yang terdiri dari Kakak Cup, Uthi dan Anggit siap membantu teman-teman UNITE! yang sudah siaga. Terlihat Manaf dan Lutfi tengah membriefing anggota tim. Disana juga sudah ada Dedi, Arin, Adit dan Rivo.</p>
<p>Setelah menunggu beberapa saat yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Beberapa teman kecil kami datang dengan didampingi para guru pendamping. Mereka ini adalah murid-murid kelas 4 Sekolah Alam Bogor. Sekolah ini ternyata memiliki keinginan agar murid-muridnya bisa mengenal kota Bogor melalui progam Heritage Tour. Sebanyak 20an anak dengan antusias menyemuti air mancur. Kawasan yang hingga tahun 1950an masih berdiri sebuah bangunan pilar putih. Teman-teman kecil kami itu sesaat masih asyik bergurau bersama teman-teman sebayanya. Pandangan mereka tertuju pada deretan parkir delman yang berada di pinggir jalan A Yani. Rencananya dengan delman itulah kami akan berkeliling menyusuri jalan raya pos. Dan kegiatan ini sendiri diberi <em>title</em> Nice Trip to Groote Post Weg (Perjalanan menyenangkan ke jalan raya pos). Perjalanan pun siap dimulai.</p>
<p>Rute pertama kami start dari Air mancur. Sebagai pembuka, Anggit dari tim data dan investigasi Kampoeng Bogor mulai bercerita tentang Groote Post Weg. Sebuah jalan yang dibangun oleh Daendels pada tahun 1808 dengan mengorbankan ribuan jiwa. Teman-teman dari Sekolah Alam tampak serius menyimak cerita yang dipaparkan Anggit. Dengan dibantu beberapa gambar, cerita pun meluncur degan asyiknya. Tak hanya tentang Groote Post Weg, Anggit juga bercerita mengenai keberadaan Air Mancur yang populer itu. Pada masanya pada tahun 1839, tempat ini didirikan pilar berwarna putih menjulang. Pilar itu dinamakan <em>witte pal</em>. Mungkin keberadaan pilar ini menjadi cikal bakal adanya kampung Lebak Pilar di dekat tugu itu. Konon bangunan itu berdiri sampai tahun 1950an, bangunan ini pada akhir masanya dihancurkan karena dianggap simbol kolonial. Sebagai gantinya berdirilah air mancur yang sekarang.</p>
<p>Usai Anggit bercerita, perjalanan pun segera dimulai. Teman-teman Sekolah Alam langsung menuju delman yang sudah tersedia, dengan gembira mereka siap diajak berkeliling mengenal kota mereka tercinta. Kota Bogor.</p>
<p>Tujuan kedua adalah mengunjungi Monumen dan Museum PETA. PETA disini artinya Pembela Tanah Air, sebuah kelompok tentara yang didirikan pada masa Jepang sebagai cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Setibanya di museum PETA, cerita tentang bangunan Museum itu pun bergulir. Kali ini Manaf dari UNITE! menjelaskan sejarah museum PETA. Bangunan yang dulunya bernama Military Kampement. Tempat atau barak tentara pengawal Istana Bogor. Setelah itu, karena banyaknya peserta, rombongan dibagi menjadi tiga kelompok. Kemudian dengan dipandu oleh pengurus museum mereka mengelilingi bangunan museum PETA, sekaligus melongok koleksi bersejarah museum ini. Para pemandu dari museum PETA mengajak siswa siswi untuk berkeliling dan melihat diorama sejarah perjuangan merebut kemerdekaan, dan juga melihat petilasan pahlawan-pahlawan Indonesia yang pernah dididik disini, seperti Jenderal Soedirman, Jenderal Ahmad Yani, dan juga mantan presiden RI Jenderal Soeharto.</p>
<p>Puas berkeliling dan berfoto, perjalanan kembali dilanjutkan. Tujuan berikutnya adalah kantor BKPP Provinsi Jawa Barat atau yang sebelumnya dikenal dengan nama Bakorwil. Jauh sebelum itu gedung ini dulunya adalah rumah tinggal sekaligus kantor bagi Asisten Residen Belanda. Setibanya dilokasi ini, kami disambut dengan ramah oleh staf BKPP. Tidak menunggu lama kami pun diajak berkeliling. Sungguh luar biasa, bangunan berusia ratusan tahun ini ternyata masih berfungsi dengan baik. Tangga dan lantainya yang terbuat dari papan dan masih asli itu membuat teman-teman dari Sekolah Alam terpukau. Mereka tak henti-hentinya bertanya. Kakak Cup dari Kampoeng Bogor yang bertindak sebagai mentor kali ini terlihat cukup kewalahan. Untungnya acara keliling gedung ini tidak terlalu lama. Lagi-lagi seusai berpamitan, kami berfoto bersama dulu di depan gedung yang dulunya adalah rumah dan kantor Asisten Residen.</p>
<p>Sejenak kami sempat bingung&#8230;di tempat kunjungan sebelumnya delman selalu setia menunggu kami, kali ini kami tidak melihatnya. Hmmmmm ternyata delman sudah menunggu di Balaikota Bogor. Kami bersama rombongan menikmati jalan kaki menuju Balaikota yang jaraknya tidak terlalu jauh itu. Setibanya di Balaikota, Arin dari UNITE menjelaskan tentang sejarah Balaikota. Ternyata Balikota ini pada jaman Belanda disebut Gemeente Buitenzorg. Sedangkan walikotanya disebut Burgemeester. Usai mendengar sejarah singkat gedung Balaikota. Teman-teman Sekolah Alam Bogor disambut oleh staf walikota, dan berkumpul di ruang rapat 1. Kemudian staf walikota dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melanjutkan penjelasan tentang gedung Balaikota.</p>
<p>Disini kami sedikit agak lama waktunya. Kesempatan tersebut kami gunakan untuk istirahat sejenak. Teman-teman Sekolah Alam pun juga memanfaatkan untuk membuka bekal yang mereka bawa. Setelah dirasa cukup, perjalanan pun kami lanjutkan. Kembali kami menuju delman yang memang sudah menanti. Kemudian delman tersebut beranjak membawa kami menuju Istana Bogor. Ya&#8230;kami akan masuk kedalam Istana, terlihat wajah tak sabar terpancar dari teman-teman Sekolah Alam.</p>
<p>Setiba di gerbang masuk Istana, kami baris satu per satu dengan rapi. Maklum untuk masuk Istana tempat presiden bekerja itu memang ada prosedurnya. Teman-teman Sekolah Alam saat masuk harus melintasi pintu pemindai. Mungkin untuk mencari apakah ada hal-hal yang mencurigakan. Maklum masih musimnya teroris berkeliaran. Jadi tetap harus waspada.</p>
<p>Sambil menunggu pemandu dari staf Istana Bogor, Anggit lagi-lagi kembali menjelaskan sejarah singkat Istana Bogor dengan bantuan gambar. Begitu pemandu sudah siap, penjelasan sejarah pun dilanjutkan oleh petugas dari Istana Bogor. Luar biasa, bangunan yang dibangu oleh Baron Van Imhoff tersebut masih menunjukkan ciri asli. Teman-teman Sekolah Alam begitu takjub saat masuk ke dalam gedung Istana. Mereka mendengarkan penjelasan sang pemandu dengan serius. Apalagi saat melintasi cermin seribu, teman-teman Sekolah Alam tampak terpukau. Sesekali bahkan ada yang mencatat keterangannya. Istana Bogor yang didirikan pada tahun 1745 ini ternyata mengalami dua kali masa pembangunan. Saat memasuki akhir kunjungan di Istana Bogor. Para peserta rombongan menyempatkan diri berfoto layaknya menteri kabinet di tangga Istana.</p>
<p>Setelah menyudahi kunjungan di Istana, perjalanan dilanjutkan untuk menuju Kebun Raya Bogor. Rombongan delman kembali menyusuri jalan juanda yang juga merupakan rute jalan Raya Pos. Tak pelak rombongan delman berjumlah sepuluh itu menarik perhatian para pengguna jalan lainnya.</p>
<p>Setibanya di Kebun Raya Bogor, sejenak peserta kegiatan beristirahat dan santap siang. Sambil menuntaskan santap siangnya, Uthi dari Kampoeng Bogor melanjutka cerita tentang sejarah keberadaan Kebun Raya beserta beberapa monumen bersejarah yang ada didalamnya. Tidak hanya itu, mereka juga diajak untuk melihat bangunan-bangunan bersejarah yang ada di dalam KRB, dan mengunjungi museum zoologi. Puas berkeliling di Kebun Raya, peserta kembali menaiki delman untuk meneruskan ke tempat kunjungan terakhir. Kali ini adalah Gallery Kampoeng Bogor yang ada di Jl Pangeret 12 Tegal Gundil Bogor Utara. Delman-delman itu berbaris dan meliuk-liuk di tengah hiruk pikuk kendaraan di jalan Pajajaran. Ada sensasi tersendiri yang dirasakan rombongan dan pendamping ketika melewati tugu kujang dan sepanjang kawasan jalan pajajaran, karena tidak setiap hari hal itu bisa dilakukan.</p>
<p>Setibanya di Gallery Kampoeng Bogor, ditengah derai hujan yang turun, teman-teman Sekolah Alam Bogor disambut oleh pengurus Kampoeng Bogor, dan diterima dengan hangat. Di Gallery ini mereka bisa melihat foto-foto tempo dulu koleksi Kampoeng Bogor. Tidak hanya elihat koleksi foto, aneka marchendise bisa mereka dapatkan disini. Selanjutnya mereka di ajak untuk mereview tentang perjalanan yang sudah dilakukan. Melalui pertanyaan dan permainan yang menarik.</p>
<p>Akhirnya kegiatan mengenal sejarah kota Bogor selama dua hari selesai dilaksanakan. Seluruh peserta tampak puas. Demikian juga dengan kami. Meski lelah kami tak bosan-bosannya memberikan penjelasan kepada teman-teman kecil kami.</p>
<p>Sampai jumpa di Heritage Tour berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/02/%e2%80%98heritage-tour%e2%80%99-sekolah-alam-menyisir-jalur-grote-post-weg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Festival Indonesia-Belanda</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/01/festival-indonesia-belanda/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/01/festival-indonesia-belanda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 16:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang ada di benak masyarakat Indonesia mengenai sebuah Negara, bernama &#8220;Belanda&#8221;? Di sebuah forum pernah seorang panelis menanyakan hal serupa, yang kemudian disambut dengan ungkapan-ungkapan seperti &#8220;kompeni&#8221;, &#8220;penjajah&#8221;, yang memang merepresentasikan kata Belanda di benak orang Indonesia. Pun demikian, ada pula yang menyebutkan ciri khas Negara kincir angin tersebut, seperti &#8220;bunga tulip&#8221;, &#8220;kincir angin&#8221;, &#8220;terompa kayu&#8221; dan cirri Belanda lainnya. Jawaban dari rekan-rekan tersebut seolah melukiskan, betapa dekatnya nama tersebut di benak kita dengan kesan yang buruk, pun baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang ada di benak masyarakat Indonesia mengenai sebuah Negara, bernama &#8220;Belanda&#8221;? Di sebuah forum pernah seorang panelis menanyakan hal serupa, yang kemudian disambut dengan ungkapan-ungkapan seperti &#8220;kompeni&#8221;, &#8220;penjajah&#8221;, yang memang merepresentasikan kata Belanda di benak orang Indonesia. Pun demikian,  ada pula yang menyebutkan ciri khas Negara kincir angin tersebut, seperti  &#8220;bunga tulip&#8221;, &#8220;kincir angin&#8221;, &#8220;terompa kayu&#8221; dan cirri Belanda lainnya. Jawaban dari rekan-rekan tersebut seolah melukiskan, betapa dekatnya nama tersebut di benak kita dengan kesan yang buruk, pun baik yang ditimbulkannya.</p>
<p>Jika menilik ke belakang, bangsa Belanda memang meninggalkan pengalaman yang cukup pahit bagi masyarakat Indonesia, tapi tidak bisa dipungkiri, bangsa ini juga ikut berjasa dalam membangun Indonesia, termasuk di Kota Bogor. Belanda awalnya memasuki kawasan Nusantara pada abad ke-17 sebagai koloni melalui VOC, yang kemudian Pemerintah Belanda secara langsung memerintah kawasan Nusantara ini sejak awal abad ke 19. Ekspedisi yang dilakukan oleh seorang sersan Belanda bernama Scipio atas perintah dari Johannes Camphuys  untuk membuka Hutan Pajajaran pada tahun 1687 merupakan embrio dari tumbuhnya Kota Bogor yang pernah dijuluki sebagai Tempat Peristirahatan. Dengan demikian terlihat jelas bahwa Bangsa Belanda mempunyai andil yang besar dalam perkembangan kota ini.</p>
<p>Bogor, yang didalamnya tersebar 300 bangunan peninggalan Belanda pada awal abad ke-20 ini mengisyaratkan bahwa perkembangan kotanya tak luput dari peran Bangsa Belanda yang memperoleh kemerdekaan dari &#8220;The 21st Century Army Group&#8221; pada tahun 1945.  Diantara banyaknya bangunan heritage yang di bangun pada masa colonial ini, tersebutlah bangunan-bangunan seperti  Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor, beserta beberapa bangunan pemerintahan lainnya yang hingga saat ini menghiasi Bogor.</p>
<p>Melihat hubungan yang sudah terjalin ratusan tahun antara kedua Negara tersebut, sudah barang pasti, adanya sebuah festival yang menghadirkan dua kebudayaan ini akan menjadi sebuah penyelenggaraan kegiatan yang sangat menarik.</p>
<p>Pada hari Senin, 15 Nopember 2009, Hotel Salak dipadati oleh lebih dari 500 pengunjung yang meramaikan sebuah event bertajuk Holland-Indonesia Festival. Pada kesempatan kali ini, Kampoeng Bogor turut mendukung penyelenggaraan kegiatan yang dicetuskan oleh Bogor Hotel Institute (BHI) dan Forum Indonesia Belanda (Fined). Festival. Acara ini terselenggara dengan tujuan agar ke dua Negara yang telah memiliki hubungan ratusan tahun ini dapat saling berbagi kebudayaan dan tetap saling menghargai keberadannya satu sama lain. Acara &#8220;Holland Indonesia Festival&#8221; ini di buka oleh Mrs. Annemieke Ruigrok, Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda di Jakarta.dan dihadiri pula oleh Bapak Ade Syarief dari Kepala Dept. Kebudayaan dan parawissata Bogor serta Mr. Paul Peters attache Pres dan Kebudayaan dan direktor Erasmus Huis Jakarta.</p>
<p>Memasuki pintu utama Hotel Salak, para pengunjung dapat berfoto dengan memakai kostum Belanda dan berkeliling melihat foto-foto Bogor Tempo Doeloe koleksi Kampoeng Bogor.Foto-foto tempo doeloe yang bercerita banyak mengenai wilayah Kota Bogor masa lalu ini dipamerkan sepanjang jalan menuju Istana Ballroom, dimana berbagai cultural performance diselenggarakan dalam acara ini. Di ruangan ini pengunjung dapat menikmati tarian Jaipongan asli Bogor, Keroncong Tempo Doeloe, kor dari siswa BHI yang menyanyikan lagu Belanda &#8220;Ik hou van Holland&#8221;. Di Koridor Istana Ball Room diramaikan oleh pameran produk-produk kebudayaan seperti wayang golek, batik, dan jenis kerajian serta produk khas Bogor lainnya.<br />
Acara ini juga di ramaikan dengan adanya stand makanan Belanda yang dibuat oleh siswa BHI dan produk2 seperti keju, yoghurt dan produk susu lainnya yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengan PUM (expert dari Negeri Belanda) yang dapat di nikmati di sekitar kolam renang. Adapun di lantai satu, pengunjung dapat melihat Film-film Belanda, kursus singkat Bahasa Belanda dan informasi tentang belajar Bahasa Belanda dan bersekolah di Negeri Belanda.</p>
<p>Kali ini, Kampoeng Bogor berkesempatan untuk memperkenalkan Kota Bogor yang dimanifestasikan kedalam sebuah stand Kampoeng Bogor yang tepat berada di depan pintu masuk Istana Ballroom. Stand ini menghadirkan berbagai macam merchandise yang edukatif dan informatif mengenai perkembangan Kota Bogor, berikut dengan media informasi lain yang dimaksudkan untuk menggugah kepedulian masyarakat Kota Bogor atas kondisi kotanya.<br />
Dengan adanya festival ini, diharapkan akan lebih mempererat hubungan kedua Negara ini yang selama ini telah ditautkan melalui produk-produk kebudayaan yang telah tumbuh subur di masing-masing Negara.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/01/festival-indonesia-belanda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesatuan Kembali ke Masa Lalu</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/01/kesatuan-kembali-ke-masa-lalu/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/01/kesatuan-kembali-ke-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 16:14:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Genderang tambur membahana di salah satu sudut jalan pecinan. Gerakan barongsai meliuk-liuk mengikuti irama tambur. Ini merupakan pertanda dibukanya sebuah perayaan di bulan-bulan penghujung tahun 2009. Hujan belum berhenti mengguyur Kota Bogor pada sore menjelang malam. Tapi suasana dingin yang mendekap, tidak terjadi. Tidak ditempat kita berdiri saat itu. Karena sebentar lagi, ada keramaian yang akan mengisi berjalannya malam. Festival Kesatuan â€“ Bogor Tempo Dulu, merupakan sebuah gebrakan awal bagi STIE Kesatuan dalam menghadirkan festival budaya di Kota Bogor. Festival [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Genderang tambur membahana di salah satu sudut jalan pecinan. Gerakan barongsai meliuk-liuk mengikuti irama tambur. Ini merupakan pertanda dibukanya sebuah perayaan di bulan-bulan penghujung tahun 2009. Hujan belum berhenti mengguyur Kota Bogor pada sore menjelang malam. Tapi suasana dingin yang mendekap, tidak terjadi. Tidak ditempat kita berdiri saat itu. Karena sebentar lagi, ada keramaian yang akan mengisi berjalannya malam.<br />
Festival Kesatuan â€“ Bogor Tempo Dulu, merupakan sebuah gebrakan awal bagi STIE Kesatuan dalam menghadirkan festival budaya di Kota Bogor. Festival yang akan diupayakan menjadi kegiatan rutin tahunan. Kali ini mereka memilih tajuk tempo dulu sebagai tema yang diusung. Praktis semua dekorasi dan para pengisi acara harus mengikuti tema tersebut. Kampus yang biasa menjadi tempat belajar setiap harinya, berubah menjadi suasana sebuah perkampungan tempo dulu. Dinding bilik menyelimuti setiap sisi area pagelaran. Nyala obor dan lampu patromak menjadikan suasananya semakin jadul. Walau diguyur hujan terus menerus, tapi secara keseluruhan acara berjalan hangat dan lancar.<br />
Acara berisikan pagelaran kesenian seperti Angklung Gubrak, Parebut Seeng, dan juga Keroncongan. Selain itu terdapat festival busana tempo dulu yang diikuti para mahasiswa dari beberapa angkatan. Mereka mengenakan segala kostum dan atribut yang berbau tempo dulu. Bergaya ala menir dan noni Belanda, ada juga yang datang dengan kostum pejuang lengkap dengan senjata yang dibawa, juga rombongan pribumi yang tak kalah gaya. Para dosen juga tidak mau ketinggalan dengan kostumnya yang beraneka gaya.<br />
Dan bagi Kampoeng Bogor.. ini merupakan pengalaman yang menarik. Tidak hanya kostum yang coba kita sesuaikan dengan acara, tapi juga beberapa property seperti lemari, rak, barang-barang koleksi tempo dulu sampai sepeda ontel pun turut kita bawa. Selain itu, koleksi foto Bogor tempo dulu tetap menjadi andalan. Sebuah ruangan kita sulap menjadi sebuah ruang tamu tempo dulu dan studio foto. Setiap sudut menjadi latar belakang para pengunjung untuk berfoto dan bernarsis ria. Tak jarang para pengunjung juga meminta foto bersama dengan para personil Kampoeng Bogor.<br />
Materi kesejarahan Bogor terus menerus diperdengarkan kepada para pengunjung yang kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa. Selain itu kesempatan lain kita dapat saat selesai mempertontonkan film tentang Kampoeng Bogor di panggung utama acara. Antusias yang tinggi, akhirnya menambah semangat bagi kita untuk terus berada disini. Benar-benar sebuah inisiasi kegiatan yang menarik, apalagi muncul dari kampus. Mudah-mudahan dapat menginspirasi banyak pihak untuk melakukan hal yang sama dalam upaya pelestarian budaya. Dalam kemeriahan dan kesederhanaan yang ada saat ini, lalu akhirnya membayangkan apa yang akan terjadi pada tahun selanjutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/01/kesatuan-kembali-ke-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Invasi Kampoeng Bogor</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2010/01/invasi-kampoeng-bogor/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2010/01/invasi-kampoeng-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 16:37:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Siap atau tidak siap bagi mereka, kami tetap akan datang. Apakah mereka akan melihat, mendengar, memperhatikan atau memperdulikan, bukan masalah bagi kami. Tidak ada yang bisa mencegah kedatangan kami kali ini. Mereka akhirnya akan tahu, tentang kami dan kedatangan kami. Mau tidak mau, mereka pasti akan tahu. Kali ini tidak hanya mengkampanyekan Bogor di kota Bogor saja, tapi Kampoeng Bogor juga melakukannya di Jakarta. Kesempatannya adalah pada saat Dirjen Penataan Ruang &#8211; Departemen Pekerjaan Umum menyelenggarakan kegiatan tahunan yang diberi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siap atau tidak siap bagi mereka, kami tetap akan datang. Apakah mereka akan melihat, mendengar, memperhatikan atau memperdulikan, bukan masalah bagi kami. Tidak ada yang bisa mencegah kedatangan kami kali ini. Mereka akhirnya akan tahu, tentang kami dan kedatangan kami. Mau tidak mau, mereka pasti akan tahu.<br />
Kali ini tidak hanya mengkampanyekan Bogor di kota Bogor saja, tapi Kampoeng Bogor juga melakukannya di Jakarta. Kesempatannya adalah pada saat Dirjen Penataan Ruang &#8211; Departemen Pekerjaan Umum menyelenggarakan kegiatan tahunan yang diberi tajuk Hari Tata Ruang. Acara yang digelar di Plaza Barat Gelora Bung Karno Senayan ini merupakan sebuah ruang kampanye dan sosialisasi pentingnya penataan ruang kepada para pihak dan masyarakat secara umum.<br />
Sebagai peserta pameran, Kampoeng Bogor berbagi stand bersama Pusat Penelitian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W-IPB) yang merupakan salah satu pendiri Kampoeng Bogor. Unite dan KALAM yang merupakan partner setia Kampoeng Bogor pun turut serta dengan membawa semangat konsep penataan desa menjadi kampung wisata mandiri dan pemanfaatan ruang publik menjadi ruang produktif bagi anak muda. Maka lengkaplah sudah pasukan Bogor untuk berpartisipasi membahanakan Senayan dengan Tata Ruang.<br />
Perayaan Hari Tata Ruang sendiri menyelenggarakan berbagai macam acara seperti pameran, aneka perlombaan yang mengadu kreatifitas para pelajar, sepeda santai sampai pagelaran musik yang menghadirkan bintang tamu sekelas Drive dan Seventeen. Peserta pameran terdiri dari berbagai macam instansi dan lembaga mulai dari perusahaan, lembaga penelitian, lembaga pemerintahan juga LSM. Semuanya menampilkan segala produk, informasi, dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penataan ruang.<br />
Acara diselenggarakan selama 2 hari dan dibuka oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto pada hari minggu 8 November 2009. Turut hadir dalam acara ini, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Walikota Banjarmasin Yuni Wahyuni, Pejabat Departemen PU, Anggota DPR RI Yosef Umarhadi dan berbagai elemen masyarakat umum.<br />
Menurut Menteri PU penataan ruang tidak hanya mengatur alokasi ruang untuk kawasan lindung dan kegiatan budidaya. Lebih jauh, penataan ruang mengatur perilaku kita dalam memanfaatkan ruang agar memberikan manfaat yang optimal sekaligus meminimalkan dampak yang tidak diinginkan. Selain itu, dalam penataan ruang dimungkinkan dilakukan pengaturan terhadap intensitas kegiatan, standar kualitas ruang termasuk standar kualitas bangunan, hingga kelengkapan yang harus disediakan untuk mengantisipasi kejadian bencana. â€œSeperti kejadian bencana alam yang baru-baru ini melanda negeri ini, saya percaya dengan penataan ruang yang baik seyogyanya akan dapat lebih mengurangi potensi korban jiwa dan kerugian harta benda,â€ ujar beliau.<br />
Menjadi hal yang sangat penting sepertinya. Mudah-mudahan hal ini juga menjadi perhatian bagi pemerintah Kota Bogor untuk menata Kota Bogor tetap menjadi rumah yang nyaman untuk ditinggali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2010/01/invasi-kampoeng-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedatangan Mbah Jepra</title>
		<link>http://kampoengbogor.org/2009/10/kedatangan-mbah-jepra/</link>
		<comments>http://kampoengbogor.org/2009/10/kedatangan-mbah-jepra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 05:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/kb/wordpress/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Melangkahkan kaki, menyusuri Jalan Ir. H. Djuanda, sore itu kunikmati betul suasana kota yang semakin ku banggakan. Terlepas dari segala permasalahan yang terjadi di kota ini sekarang, takkan ada habis waktu memang. Terhenti persis di depan kantor pos, yang sore itu masih terdapat 1-2 orang yang keluar dari kantor tersebut. Mungkin karena hari sudah sore, jadi kantor terlihat sepi. Atau mungkin banyak orang yang sudah tidak sempat lagi menulis surat saat-saat ini. Praktisnya, sms mungkin sudah cukup. Ada kecendrungan perpindahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melangkahkan kaki, menyusuri Jalan Ir. H. Djuanda, sore itu kunikmati betul suasana kota yang semakin ku banggakan. Terlepas dari segala permasalahan yang terjadi di kota ini sekarang, takkan ada habis waktu memang. Terhenti persis di depan kantor pos, yang sore itu masih terdapat 1-2 orang yang keluar dari kantor tersebut. Mungkin karena hari sudah sore, jadi kantor terlihat sepi. Atau mungkin banyak orang yang sudah tidak sempat lagi menulis surat saat-saat ini. Praktisnya, sms mungkin sudah cukup. Ada kecendrungan perpindahan besar-besaran kebiasaan sepertinya. Seperti sebuah grup band yang mulai ditinggalkan para penggemarnya mungkin.. Sepi dan semakin sepi.<br />
Saat ku buka peta Bogor tahun 1920, tak ada kantor pos tertera di tempat ku berdiri. Memang terdapat bangunan, tapi bukan kantor pos, melainkan sebuah Gereja Protestan. Lalu apakah saat itu belum ada kantor pos, atau keperluan untuk mengirimkan surat?? Ah!!! Ternyata ada bangunan yang bertuliskan kantor pos dan telegraph, yang waktu itu masih bergabung bersama stasiun di letaknya yang sama seperti saat ini. Sampai pada peta tahun 1946, kantor pos sudah berdiri persis pada tempatnya sekarang.<br />
Sampai saat ini memang sudah banyak hal yang berubah. Kubandingkan satu persatu nama-nama dan keberadaan bangunan melalui peta tahun-tahun lampau lalu melihat sekeliling tempat dimana ku berdiri. Mustahil untuk tidak berubah. Sebelah kanan bank BCA, terdapat lahan kosong bekas dirubuhkannya beberapa bangunan. Entah terakhir pada tahun berapa, tapi ku ingat betul, disitu pernah berdiri Kantor Penerangan dan kantor PMI Cabang. Karena setiap hari, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sepulang sekolah aku pasti ke Kantor PMI Cabang. Ibuku bekerja disitu. Walaupun ayahku juga bekerja sebagai Guru di SD Polisi IV, tapi kadang beliau masih harus mengajar dan menyelesaikan pekerjaan lainnya sampai sore. Sehingga ku lebih memilih untuk mendatangi ibu, di kantornya.<br />
Menunggu dan melihat ibu bekerja mengambil darah setiap orang yang rela mendonorkan darahnya. Kadang aku sampai tertidur karena bangunan itu benar-benar sejuk. Tak ada AC (Air Conditioner) di ruangan itu setahuku. Pintar benar mereka membuat gedung ini pikirku. Atap yang tinggi dikelilingi dinding yang kokoh. Tapi bagaimanapun kagumnya aku saat itu, bangunan itu sudah tidak ada. Dan ku yakin banyak orang yang mempunyai kenangan sepertiku, di banyak gedung. Tidak hanya sepanjang Jalan Ir. H. Djuanda, bahkan mungkin di setiap ruas jalan besar yang ada di kota Bogor.<br />
Sebelum ku bergerak dari kantor pos, aku mulai teringat sebuah cerita yang pernah ku baca. Memerhatikan kembali bangunan itu, kemudian melihat kondisi di sekitarnya. Sepertinya harus lebih mendekat dan sedikit berada di samping bangunan. Sedikit merenung dan berpikir sejenak. Bisa jadi, ucapku. Ada sebuah permukiman waktu itu.<br />
Pada tahun 1777, Embah Jepra memimpin kaum Pledang untuk membangun sebuah permukiman di kebun palem dekat Kantor Pos. Tapi permukiman tersebut dipindahkan akhirnya, yang kemudian ditempatkan di seberang Kantor Pos. Pledang atau mungkin sekarang disebut Paledang, awalnya ternyata hanya sebutan bagi orang-orang Jawa ahli kuningan yang berasal dari Kerajaan Mataram. Pada tahun 1628, Sultan Agung dari Kerajaan Mataram memerintahkan pasukan Mataram untuk menyerang kompeni di Batavia. Penyerangan itu tidak berhasil, kemudian prajurit Mataram tinggal di luar benteng dan tembok kota Batavia, sebagian lagi melarikan diri ke daerah Bogor.<br />
Mereka tidak berencana lagi pulang ke Mataram dan memilih untuk bermukim di daerah yang ada di Bogor. Awalnya mereka membentuk kampung Jawa di Bantarjati Kaum. Hingga pada tahun 1707, VOC memberikan tanah Kedung Badak kepada orang Paledang. Tentu tidak persis melingkupi kawasan Kedung Badak saat ini. Pada kurun waktu tersebut sampai pada akhir tahun 1800-an, daerah Kedung Halang saja melingkupi wilayah Sempur dan Taman Kencana. Mungkin sama halnya dengan wilayah Kedung Badak, wilayah dengan cakupan yang luas melebihi wilayah saat ini.<br />
Saat Bogor mulai dijadikan pusat pemerintahan kolonial, Bogor menjadi sangat ramai. Kegiatan pemerintahan, disertai kebutuhan perdagangan dan permukiman. Mungkin hal ini yang menyebabkan kaum Pledang memutuskan untuk mendekat dan mendirikan permukiman di pusat kota. Apakah saat ini masih terdapat keturunan pasukan Mataram tersebut di Paledang yang sekarang? Sepertinya harus berburu sesepuh di wilayah ini. Sebuah hal yang menarik, kenapa tidak! Sore ini masih mampu berbicara, walaupun tak banyak, mungkin ku masih bisa mendapatkan sesuatu.<br />
Justru memang sore adalah waktu yang tepat, karena kebanyakan orang sudah berada di rumah saat itu. Ku putuskan memasuki wilayah tersebut dari jalan Kota Batu. Sampai tidak jauh kutemukan gang di sebelah kiri persis samping sebuah lembaga pendidikan. Gang yang sangat kecil yang hanya bisa dilewati satu motor dari satu arah. Kalau terdapat dua motor dari arah yang berlawanan, mungkin mereka harus mengundi dulu siapa yang harus lewat duluan.<br />
Letak rumah sangat padat, tak ada rumah yang punya halaman. Sedikit teras saja mungkin sudah baik. Mulai darimana baiknya, mungkin ketua RT bisa membantu. Tidak terlalu susah mencarinya, hanya menanyakan kepada seorang ibu yang sedang menyiram beberapa koleksi tanaman pot yang ditata baik pada teras rumahnya. â€œHanya 5 rumah dari sini sebelah kanan jalan, dengan rumah bercat oranyeâ€, ujar sang ibu dengan ramah.<br />
Setelah Pak RT langsung mempersilahkan masuk, dibukalah obrolan ringan dimulai dari maksud kedatanganku di daerah ini. Seperti ibu yang baru saja kutemui, Pak RT tak kalah ramah. Hanya saja Pak RT ini terlihat lebih muda, anak yang paling besar mungkin masih SMP kelas 1, taksirku. Pak RT dilahirkan disini. Sebuah kebetulan, ternyata orang tua Pak RT sudah tinggal disini sejak lama. Bahkan dari mulai uyut dan kakeknya yang berprofesi sebagai pengrajin emas. Pengrajin emas? Apa hubungannya dengan kaum Pledang para pengrajin kuningan? â€œSeingat saya memang pengrajin emas, entah apakah sebelumnya mengolah kuningan jugaâ€, terang Pak RT ketika kutanyakan keberadaan para pengrajin kuningan di wilayah ini.<br />
â€œLalu dari mana mereka mendapatkan emas-emas tersebut?â€, tanya ku kembali.<br />
â€œPara Cina yang menyediakan emas itu. Setelah menjadi produk, emas itu kemudian mereka jualâ€.<br />
â€œAkh, para Cina?!â€, ku lanjutkan kemudian.<br />
â€œYa, mereka yang tinggal di dirumah-rumah sisi jalan yang mengitari wilayah iniâ€.<br />
â€œEh, dari mana juga mereka datang..?â€.<br />
Terpaksa kutinggalkan rasa penasaranku. Dengan keterbatasan pengetahuan, banyak hal juga yang tidak diketahui oleh Pak RT. Ini masih menjadi hal yang harus kuketahui. Pasti ada hubungannya. Tapi diluar itu aku mendapatkan informasi yang sangat menarik.<br />
Paledang masa lampau memang sudah terasa begitu ramai. Betapa tidak, Paledang merupakan wilayah yang berada di dekat pusat pemerintahan kolonial. Kegiatan pemerintahan dan perdagangan, sangat dekat disini. Pada tahun 1835, pemerintah Kolonial memberlakukan sebuah peraturan pemukiman yang disebut â€œWijken Stelselâ€ dimana terdapat pembatasan dan penetapan pemukiman para etnis. Hal ini dilakukan karena semakin berkembang pesatnya pemukiman para etnis baik pribumi ataupun dari luar negeri. Sehingga dengan peraturan ini perkembangan para etnis dapat dikontrol. Tapi kemudian hal tersebut menyebabkan munculnya strata yang semakin kuat pada kondisi social masyarakat.<br />
Nah diperkirakan sejak diberhentikannya zona pemukiman etnis pada tahun 1915, etnis Tionghoa yang berhasil dalam bidang ekonomi mulai merambah wilayah-wilayah di luar daerah Surya Kencana. Salah satunya adalah wilayah Paledang. Mereka menempati sebagian besar rumah-rumah yang berada di pinggir-pinggir Jalan Ir H Juanda, Jalan Kantor Batu, Jalan Gereja dan Jalan Paledang. Para etnis Tionghoa tersebut memberikan emas mentah untuk diolah pada pengrajin yang ada di Paledang. Setelah diolah, baru kemudian emas itu dijual lagi ke daerah-daerah Bogor sampai luar Bogor. Begitulah kemudian secara perlahan Kaum Pledang ini berkembang di Kota Bogor.<br />
Wah sore berlalu terlalu cepat dan sepertinya tak bisa menunggu sesuatu yang belum kudapat. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menutup perjalanan ini dan kubuka kembali pada waktu yang lain. Berjalan-jalan lagi di sepanjang Jalan Raya Pos, lalu masuk ke gang di sebelang kanan atau kiri jalan. Dimana bisa jadi kau melewatinya setiap hari, tapi kau akan mengetahui sesuatu yang belum pernah kau ketahui sebelumnya. Padahal hal itu telah terjadi begitu lama. Jauh tahun mungkin sebelum kau lahir. Kau bisa saja tinggal selama kau lahir sampai sekarang di kota ini. Tapi kau baru saja dilahirkan ketika mendengar kisah-kisah yang menakjubkan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kampoengbogor.org/2009/10/kedatangan-mbah-jepra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

