Kota Bogor tahun 45

Enam puluh lima tahun yang lalu, saat Republik mulai akan berdiri. Kota Bogor masih dalam cengkraman penguasa Nippon (Jepang). Situasi kota yang sebelumnya “Buitenzorg” (dalam istilah Belanda artinya lepas dari kepenatan) tak ubahnya seperti situasi di kota-kota lain. Mencekam dan tak lepas dari kekerasan dan kekejaman penguasa saat itu. Penduduk Bogor tidak memiliki kebebasan untuk beraktifitas. Semua fasilitas yang diduduki oleh tentara Nippon langsung berubah menjadi aset militer mereka. Seperti Hotel Dibbet (sekarang Hotel Salak) yang dijadikan markas Kenpeitai, Istana Bogor, Hotel Bellevue, Stasiun dan lainnya.

Suatu saat muncullah peluang mendapat pengakuan sebagai bangsa merdeka. Berawal dari munculnya selebaran dari kapal udara sekutu pada akhir September 1944. Selebaran itu berisi pemberitahuan perihal kedatangan sekutu di Jawa. Melihat kondisi ini pemerintah Jepang pun berusaha menarik simpati penduduk dengan membolehkan pemasangan bendera merah putih. Lalu keluarlah aturan pemasangan bendera termasuk janji kemerdekaan dalam arti tidak lepas dari ikatan dengan kekaisaran Jepang. Peraturan ini diumumkan di Warta Bogor Shu bertanggal 14 September 1944. Sejak itu berangsur-angsur diberi izin mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Terbukanya peluang dan janji kemerdekaan telah mendorong utusan Kantor Besar Djawa Hooko Kai pergi ke berbagai tempat, untuk mengadakan pidato dalam berbagai rapat tertutup dan rapat umum tentang Kemerdekaan Indonesia di kemudian hari. Di Bogor utusan dilakukan oleh Mr. R. Samsoedin yang datang pada pada 3 Oktober 1944. Saat itu pidatonya disampaikan R. Oto Iskandar Dinata.

Provokasi Sekutu
Pagi itu sekitar jam 09.50 tanggal 26 Januari 1945, sebuah pesawat terbang sekutu terbang tinggi dari arah Selatan menyerbu daerah Bogor. Sekitar jam 10.00 kelihatan lagi 6 buah pesawat terbang musuh berputar-putar di Gunung Batu. Kemudian Jam 10.30 pesawat tersebut melarikan diri ke arah Selatan tanpa menjatuhkan bom atau selebaran apapun.

Pada masa itu golongan peranakan Belanda ditempatkan oleh tentara Dai Nippon di suatu daerah di Bogor yang diberi nama Zyenryo Kukonketu Juumin Noogyo Tikusan Imin Dogyoâ (tempat pertanian golongan peranakan), kemungkinan pengelompokkan dalam satu lokasi tersebut untuk memudahkan pengawasan dan menjadi sandera.

Ir Soekarno Tanggal 16 Maret 1945 mengunjungi Bogor dari Karesidenan Banten. Beliau seperti biasa memberikan pidato menyala-nyala tentang pentingnya perang Asia Timoer Raja, semangat perjuangan, dan tidak lupa menyanyikan Indonesia Raya.

Tanggal 18 Mei 1945 dilangsungkan rapat umum di Midori Gekizya Bogor, yang dihadiri para pembesar Nippon dan Indonesia. Turut hadir pula sekitar 500 penduduk lelaki dan perempuan dari semua golongan. Dalam rapat tersebut disebutkan bahwa sikap Pemerintah Agung Dai Nippon terhadap Indonesia adalah seperti sikap Ibu-Bapak terhadap anaknya. Juga bahwa Bangsa Indonesia merupakan seketurunan dengan Bangsa Nippon. Seterusnya disampaikan juga perihal tentang kemerdekaan Indonesia yang di hari kemudian harus tetap memegang sifat ketimurannya dan menjadi keluarga Asia Timoer Radja yang sejati. Rapat umum ditutup oleh pidato Toean Gatot Mangkupradja.

Pada 6 Agustus 1945 sebuah bom dijatuhkan di Hiroshima, kemudian 9 Agustus 1945 bom itu jatuh di Nagasaki. Atas pengeboman tersebut tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah. Berita penyerahan Jepang inilah yang akhirnya memicu pernyataan kemerdekaan atau proklamasi pada 17 Agustus 1945, jam 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur no. 56.

Setelah kemerdekaan berkumandang, gerakan ambil alih segala aset dari Jepang oleh Repoeblik dilaksanakan berangsur-angsur mulai dari perorangan hingga kelompok. Beberapa gedung didatangi dan ditempel dengan tulisan milik Repoeblik, bendera Jepang diturunkan, atau dengan mengusir orang Jepang.

Oktober 1945, situasi kota Bogor sangat genting. Sekutu dengan pimpinan tentara Inggris dan Gurkha memasuki daerah Bogor, yang kesempatannya juga ditunggangi oleh tentara NICA. Pertama kali yang mereka datangi adalah tangsi Batalyon XVI bekas tentara Jepang yang sudah dikosongkan. Tentara Inggris dan Gurkha kemudian melebarkan kekuasaannya dengan menduduki Kota Paris, tempat nyonya-nyonya dan anak-anak Belanda (RAPWI/ Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees) dikumpulkan. Dalam waktu singkat Kota Paris dapat direbut dengan mudah oleh tentara Inggris.

Sikap tentara Inggris yang sombong justru menyakitkan hati rakyat. Pada tanggal 6 Desember 1945, terjadilah pemberontakan oleh seluruh masyarakat Bogor. Mereka hanya bersenjatakan bambu runcing, golok, pedang dan senjata ala kadarnya. Peperangan ini berlangsung sengit dan menggetarkan, terutama di sekitar Istana Bogor dan Kota Paris. Lalu pada tanggal 21 Desember, sebanyak 250 serdadu Gurkha yang bersenjata lengkap tank dan truk menuju Keboen Radja dan Kota Paris, rupanya mereka hendak menggulung kawat-kawat telepon yang mereka pasang karena Kota Paris sudah dikosongkan. Sementara di atas Kota Bogor melayang pesawat udara yang menjatuhkan sebuah surat kabar Kebenaran no. 27 yang berisi berbagai berita dunia. Orang yang mendapatkan surat kabar tersebut segera menyerahkannya kepada yang berwajib.

Ditengah situasi Kota Bogor yang kian memanas itu, Kapten Muslihat bersama pasukannya melakukan penyerangan ke markas-markas yang diduduki tentara Inggris dan Gurkha. Pada tanggal 25 Desember 1945, Kapten Muslihat bersama pasukannya menyerang kantor Polisi yang terletak di Djalan Banten (sekarang jalan Kapten Muslihat), dalam penyerangan tersebut Kapten Muslihat gugur.

Antara Jepang, Sekutu dan Kapten Muslihat
Enam puluh lima tahun yang lalu, saat Republik mulai akan berdiri. Kota Bogor masih dalam cengkraman penguasa Nippon (Jepang). Situasi kota yang sebelumnya Buitenzorg (dalam istilah Belanda artinya lepas dari kepenatan) tak ubahnya seperti situasi di kota-kota lain. Mencekam dan tak lepas dari kekerasan dan kekejaman penguasa saat itu. Penduduk Bogor tidak memiliki kebebasan untuk beraktifitas. Semua fasilitas yang diduduki oleh tentara Nippon langsung berubah menjadi aset militer mereka. Seperti Hotel Dibbet (sekarang Hotel Salak) yang dijadikan markas Kenpeitai, Istana Bogor, Hotel Bellevue, Stasiun dan lainnya. Suatu saat muncullah peluang mendapat pengakuan sebagai bangsa merdeka. Berawal dari munculnya selebaran dari kapal udara sekutu pada akhir September 1944.

Selebaran itu berisi pemberitahuan perihal kedatangan sekutu di Jawa. Melihat kondisi ini pemerintah Jepang pun berusaha menarik simpati penduduk dengan membolehkan pemasangan bendera merah putih. Lalu keluarlah aturan pemasangan bendera termasuk janji kemerdekaan dalam arti tidak lepas dari ikatan dengan kekaisaran Jepang.

Peraturan ini diumumkan di Warta Bogor Shu bertanggal 14 September 1944. Sejak itu berangsur-angsur diberi izin mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.Terbukanya peluang dan janji kemerdekaan telah mendorong utusan Kantor Besar Djawa Hooko Kai pergi ke berbagai tempat, untuk mengadakan pidato dalam berbagai rapat tertutup dan rapat umum tentang Kemerdekaan Indonesia di kemudian hari.

Di Bogor utusan dilakukan oleh Mr. R. Samsoedin yang datang pada pada 3 Oktober 1944. Saat itu pidatonya disampaikan R. Oto Iskandar Dinata.Provokasi SekutuPagi itu sekitar jam 09.50 tanggal 26 Januari 1945, sebuah pesawat terbang sekutu terbang tinggi dari arah Selatan menyerbu daerah Bogor. Sekitar jam 10.00 kelihatan lagi 6 buah pesawat terbang musuh berputar-putar di Gunung Batu.

Kemudian Jam 10.30 pesawat tersebut melarikan diri ke arah Selatan tanpa menjatuhkan bom atau selebaran apapun.Pada masa itu golongan peranakan Belanda ditempatkan oleh tentara Dai Nippon di suatu daerah di Bogor yang diberi nama “Zyenryo Kukonketu Juumin Noogyo Tikusan Imin Dogyo” (tempat pertanian golongan peranakan), kemungkinan pengelompokkan dalam satu lokasi tersebut untuk memudahkan pengawasan dan menjadi sandera. Ir Soekarno Tanggal 16 Maret 1945 mengunjungi Bogor dari Karesidenan Banten.

Beliau seperti biasa memberikan pidato menyala-nyala tentang pentingnya perang Asia Timoer Raja, semangat perjuangan, dan tidak lupa menyanyikan Indonesia Raya.Tanggal 18 Mei 1945 dilangsungkan rapat umum di Midori Gekizya Bogor, yang dihadiri para pembesar Nippon dan Indonesia.

Turut hadir pula sekitar 500 penduduk lelaki dan perempuan dari semua golongan. Dalam rapat tersebut disebutkan bahwa sikap Pemerintah Agung Dai Nippon terhadap Indonesia adalah seperti sikap Ibu-Bapak terhadap anaknya. Juga bahwa Bangsa Indonesia merupakan seketurunan dengan Bangsa Nippon.

Seterusnya disampaikan juga perihal tentang kemerdekaan Indonesia yang di hari kemudian harus tetap memegang sifat ketimurannya dan menjadi keluarga Asia Timoer Radja yang sejati. Rapat umum ditutup oleh pidato Toean Gatot Mangkupradja.6 Agustus 1945 sebuah bom dijatuhkan di Hiroshima, kemudian 9 Agustus 1945 bom itu jatuh di Nagasaki. Atas pengeboman tersebut tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah.

Berita penyerahan Jepang inilah yang akhirnya memicu pernyataan kemerdekaan atau proklamasi pada 17 Agustus 1945, jam 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur no. 56.Setelah kemerdekaan berkumandang, gerakan ambil alih segala aset dari Jepang oleh Repoeblik dilaksanakan berangsur-angsur mulai dari perorangan hingga kelompok.

Beberapa gedung didatangi dan ditempel dengan tulisan milik Repoeblik, bendera Jepang diturunkan, atau dengan mengusir orang Jepang.Oktober 1945, situasi kota Bogor sangat genting. Sekutu dengan pimpinan tentara Inggris dan Gurkha memasuki daerah Bogor, yang kesempatannya juga ditunggangi oleh tentara NICA.

Pertama kali yang mereka datangi adalah tangsi Batalyon XVI bekas tentara Jepang yang sudah dikosongkan. Tentara Inggris dan Gurkha kemudian melebarkan kekuasaannya dengan menduduki Kota Paris, tempat nyonya-nyonya dan anak-anak Belanda (RAPWI/ Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees) dikumpulkan.

Dalam waktu singkat Kota Paris dapat direbut dengan mudah oleh tentara Inggris.Sikap tentara Inggris yang sombong justru menyakitkan hati rakyat. Pada tanggal 6 Desember 1945, terjadilah pemberontakan oleh seluruh masyarakat Bogor. Mereka hanya bersenjatakan bambu runcing, golok, pedang dan senjata ala kadarnya.

Peperangan ini berlangsung sengit dan menggetarkan, terutama di sekitar Istana Bogor dan Kota Paris. Lalu pada tanggal 21 Desember, sebanyak 250 serdadu Gurkha yang bersenjata lengkap tank dan truk menuju Keboen Radja dan Kota Paris, rupanya mereka hendak menggulung kawat-kawat telepon yang mereka pasang karena Kota Paris sudah dikosongkan. Sementara di atas Kota Bogor melayang pesawat udara yang menjatuhkan sebuah surat kabar ’Kebenaran no. 27’ yang berisi berbagai berita dunia.

Orang yang mendapatkan surat kabar tersebut segera menyerahkannya kepada yang berwajib. Ditengah situasi Kota Bogor yang kian memanas itu, Kapten Muslihat bersama pasukannya melakukan penyerangan ke markas-markas yang diduduki tentara Inggris dan Gurkha. Pada tanggal 25 Desember 1945, Kapten Muslihat bersama pasukannya menyerang kantor Polisi yang terletak di Djalan Banten (sekarang jalan Kapten Muslihat), dalam penyerangan tersebut Kapten Muslihat gugur.