PPKM Hemat Energi dan Kedaulatan Hiburan
Bagikan artikel Ini
Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp

Salam frustasi, salam rekreasi. Situasi pandemi yang sudah memiliki usia 18 bulan ini, memang membuat semua orang di dunia terpaksa beradaptasi atau berevolusi. Ketidaksiapan kita sebagai manusia dari bencana mikrobiologi, membuat semuanya tampak tidak jelas dan membuat semua pihak berasumsi. Sadar dan tanpa sabar, energi kita sebagai manusia yang terbatas, semakin menipis berkat aktivitas berfoya-foya energi yang kita lakukan. Demi kesuksesan evolusi tubuh saat pandemi, dan kesuksesan “migrasi digital” yang TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Masif) “hail digital”!! (Haha)

Banyak topik yang terpicu keluar, juga banyak topik yang terpacu ke depan. Saking banyaknya konsumsi energi manusia yang dikeluarkan karena topik-topik itu, sampai sekarang, kita sudah lupa dengan yang namanya batasan perbedaan penggunaan energi/manajemen energi diri berdasarkan tiga elemen alokasi waktu, antara waktu existence time (waktu yang digunakan untuk bertahan hidup, ex; makan & minum, ibadah, etc), subsistence time (waktu yang digunakan untuk menunjang kebutuhan hidup, ex; kerja, sekolah, pelatihan, etc) dan leisure time (waktu yang tersisa dan digunakan untuk aktivitas yang mengandung kesenangan/ketenangan ex; rekreasi, main, hobby, meditasi, liburan dll). Padahal dalam aktivasinya jelas berbeda, tapi dalam situasi ini semua dipaksa untuk all in one, dalam satu ruang waktu dan tempat, positifnya sih makin efisien. 

 

Idealnya dari tiga elemen alokasi penggunaan energi kita, semua teralokasikan dengan seimbang, namun  tanpa sadar, kita selalu dominan di elemen tertentu sehingga alokasi energi tidak seimbang dan menghasilkan limbah psikologi berupa bosan, frustasi, insecurity, anxiety, etc. Sebenernya Tuhan Yang Maha Besar yang sudah membuatkan sistem reusable energi dalam diri kita, yang terletak di elemen ketiga (leisure time) sebagai back-up battery kalo kita drop. Ironisnya kita malah mencampur elemen ketiga ini ke elemen kedua, yaitu kebutuhan menunjang hidup, yang akhirnya ada target juga dalam pemenuhannya, butuh energi lagi iya, menghasilkan limbah psikologi lagi juga iya.

Padahal, hakikat elemen leisure time adalah ruang yang tidak memerlukan energi, effort, aktivasinya ikhlas/tanpa beban dan sebagainya, karena varian aktivasinya juga mudah. Mulai dari kegiatan leisure time afterwork, kita cuman butuh re-kreasi, ngrokok lah, ngopi lah, ngayal-lah, nglamun, main game, etc bisa diaktivasi di ruang waktu singkat. Ada leisure time weekend yang aktivasinya bisa dilakukan dengan alokasi waktu agak lebih, jadi lebih variatif, contohnya hobby, etc. Yang terakhir adalah leisure time holiday, di mana kita punya ruang waktu cukup banyak untuk melakukan banyak hal yg membuat kita termotivasi lebih hingga kita perlu melakukan perjalanan berganti ruang tempat dan waktu.

Semua varian aktivasi leisure time tersebut intinya adalah self emphatized bahwa, if you lost focus, dont be panic, just go back to basic. dengan mengefektifkan alokasi waktu kita yang masih ada, kita bisa reusable energi dan bersemangat lagi.  

Tapi emang manusia suka ribetin sendiri, udah dikasih sistem yang reusable dan less energy buat menyenangkan diri, malah nambahin syarat lagi dalam aktivasinya. Kalo kita belum bisa yang namanya berdaulat energi atau pangan, ya setidaknya yuk kita coba berdaulat hiburan. 

Sadar ga sadar coba hitung spending per month kita untuk re-kreasi yg sebenarnya bisa lessmoney.

Bahkan bisa jadi, jangan-jangan spending energi materi kita lebih banyak ke elemen leisure time dengan pembenaran “aku butuh hiburan”. Ya gapapa sih asal ikhlas dan ga dumel nantinya. Ingat masa pandemi adalah masa evolusi, salah satu kunci suksesnya mungkin adalah efisiensi energi dan tetap meningkatkan imun agar bisa adaptasi di masa kini.

Stay save, stay healthy, stay happy !!

 

Catatan oleh: Afro Indayana

Artikel Lainnya